by

Demi Keluarga, Penyandang Disabilitas Berjuang Tanpa Pasrah

Mataram, BerbagiNews.com – Keterbatasan fisik bukanlah suatu alasan seorang manusia untuk menyerah dalam menghadapi hidup di Bumi ini, atau menjadi alasan untuk tidak berusaha dan hanya mengharapkan uluran tangan sesama manusia untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Demikianlah yang di lakukan oleh Suparlan penyandang disabilitas warga Bintaro, Kecamatan Ampenan. Saat di temui oleh Pejuang Berbagi di perempatan lampu merah kamboja, Pak Lan sapaan akrabnya sedang menjajakan dagangannnya yang berupa sapu lidi, dari mobil satu kemobil lainnya hingga tak luput juga pengendara roda dua yang melintas di jalan ini. (22/04).

Dengan menggunakan sepeda dayung miliknya Pak Lan berangkat dari Bintaro ke lokasi tempat menjajakan dagangan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Meski dalam keterbatasan fisik pak Lan tidak merasa malu bahkan tidak sedikitpun merasakan putus asa.

“pagi saya berangkat dari bintaro pakai sepeda ke sini jualan meski sehari hanya mendapatkan untung lima puluh ribu saya tidak mengeluh yang penting anak istri saya bias makan hari ini”, ungkap suparlan yang sejak 2004 sudah merintis usahanya ini.

Ditanya soal dagangan yang di jajakannya beraneka ragam baik dari kecapil, keleong (alat menampi beras dalam bahasa Lombok), ponjol (tempat nasi), sapu lidi dan lain-lain, yang di peroleh Pak Lan dari seorang suplayer di swete.

“saya ambil barang dagangan di swete tidak pakai modal, jadi nanti kalau sudah terjual baru saya kembalikan uang hasil dagangan saya, untungnya saya ambil kisaran tiga ribu lima ratus rupiah sampai lima ribu”, tambahnya.

Tidak semua manusia diciptakan dengan kondisi fisik atau mental yang sempurna. Ada sebagian orang yang memiliki kekurangan, seperti tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, keterbelakangan mental, dan lain sebagainya. Ada juga yang dilahirkan sempurna, akan tetapi karena peristiwa tertentu seperti kelainan sejak lahir, bencana alam dan kecelakaan menyebabkan ia memiliki kekurangan fisik atau mental.

Baca Juga :  Pasien yang Sembuh Covid-19 Bertambah, Kini Jumlahnya 20 Orang

Kekurangan tersebut menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini menyebabkan sebagian dari mereka menjadi minder atau rendah diri dalam pergaulan. Apalagi jika mendapat sebutan orang cacat, membuat mereka semakin tidak percaya diri.

Rasa salut, haru, serta bangga menggugah hati para Pejuang Berbagi atas prinsip perjuangan Pak Lan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dan tak lupa para Pejuang Berbagi memberikan bingkisan berisikan sembako dengan harapan dapat meringankan beban hidupnya.

“dari pada saya mengemis lebih baik saya semangat jualan untuk keluarga saya, dari pada seperti orang lain ada yang nipu bukan untuk jualan dan mengemis dibuat-buat saja untuk dirinya sendiri”, tandasnya. (Red)

News Feed