by

Salut! Penyandang Disabilitas ini Bertahan Hidup Dengan 80 Ribu Rupiah

Mataram, BerbagiNews.com – Pagi itu tak banyak kendaraan melintas di jalanan, bisa terhitung dengan jari jumlah kendaraan yang melintas di jalan seputaran Ampenan menuju ke Mataram.

Sebuah sepeda dikayuh perlahan tapi pasti dengan kecepatan standar, kalau di bilang cepat ya cepat tak terkejar oleh pejalan kaki kalau di bilang lambat bisa juga, akan tetapi laju sepeda bisa menyalip cidomo (alat angkut penumpang di Lombok sejenis dokar), yang pasti tidak bisa menyalip kendaraan roda dua atau mobil yang sedang terburu-buru mengejar waktu untuk menuju tempat mencari nafkah atau kekantor seperti yang terjadi di hari-hari biasa sebelum wabah Virus Corona menghampiri Lombok si Pulau pedas ini.

Suparlan yang biasa di panggil Pak Lan, rupanya beliau yang biasa rutinitas pagi itu. Sepeda dikayuhnya yang sesekali tangan kirinya terlepas dari pegangan stang sepeda miliknya dikarenakan keterbatasan fisik yang beliau miliki (Disabilitas) saat mengejar waktu untuk menjajakan jualannya. Bukan hanya tangan kirinya yang memiliki keterbatasan fisik bahkan kaki kirinya pun memiliki keterbatasan, akan tetapi dari kejauhan terlihat nampak ahli menggunakan sepeda miliknya tak kalah dengan para pembalap di arena moto GP, meski  yang di bawanya lumayan menumpuk di boncengan belakang.

Dari rumahnya yang beralamat di Bintaro Kecamatan Ampenan, Kota Mataram  beliau mengayuh sepeda menuju jalan protokol yang di sebut jalan Langko tepatnya di perempatan gedung Walikota Mataram.

Pagi itu lokasi yang cukup ramai bagi Pak Lan untuk mengais rejeki  demi memberi  nafkah keluarganya, Ibunya, Istri tercinta dan sibuah hati, menjelang siang hingga sore hari beliau berpindah di perempatan Kamboja atau jalan Catur Warga untuk kembali menjajakan dagangannya.

Baca Juga :  Eksotisme Rinjani dari Bukit Pal Jepang

Meski dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya beliau tetap santai dan sesekali tersenyum sembari menjajakan sapu lidi jualannya, memang kebetulan hari itu dagangan yang beliau bawa sapu lidi Tidak seperti hari-hari sebelumnya beliau menjajakan air mineral ukuran sedang, terkadang keleong (alat menampi beras khas Lombok) bahkan jenis barang lainnya seperti ponjol, kecapil dan aneka barang bisa beliau pasarkan asalkan dapat untung walau sedikit yang penting bisa memberi  nafkah keluarganya.

Terkadang wajah jeleknya pun terlihat ketika menghindari teriknya panas yang mengenai wajah hitamnya disaat dari langit matahari memancarkan sinarnya dan dari bawah jalan aspal mengeluarkan hawa panasnya seketika terkena sinar matahari siang itu.

Dengan kedua kaki tanpa alas beliau tetap santai menginjakan kaki itu meski memiliki keterbatasan kaki kiri terlihat agak pendek dengan pasangan kakinya yang kanan, sempat terfikir kan oleh ku “mungkin kakinya si Pak Lan tahan panas atau memiliki ilmu kebal, apa memang gak bisa memakai sandal?”

Seperti ngawur otak ini berfikir sambil tertegun memperhatikan beliau nyeker tanpa sandal.

Yang tadinya saya berada cukup jauh dari jarak pak Lan berniaga membuat saya mendekat untuk lebih mengobati penasaran yang ada dibenak  ini, seperti sengaja disediakan sebuah kursi plastik dengan jarak cukup dekat untuk memberikan peluang memperhatikannya,  baru  beberapa menit saat lampu merah menyala para pengendara mulai memberhentikan mobilnya, keluar aksi Pak Lan dengan dua sapu ditangan normalnya sebelah kanan menjajakan sapu itu, disitulah rasa penasaran itu terjawab ternyata bukan tahan panas, kebal atau apalah seperti yang saya fikirkan tadi, akan tetapi semangat yang dimilikinya membuat kedua kaki itu tak terlalu terasa panas. Terlebih tanggungan nafkah hidup yang menjadi tanggung jawab membuatnya kebal akan rasa sakit itu.

Baca Juga :  Gubernur NTB Bangga, Naja Hafiz Cilik Hafal Al-Qur'an 30 Juz dengan Artinya

Setelah lampu merah menunjukan isyarat kendaraan boleh berjalan dengan kedipan warna hijaunya disitulah beliau mulai mencari tempat teduh untuk menenangkan kedua kakinya dan mengambil sebotol air minum guna melepas rasa dahaga, “terjawab sudah rasa penasaran ini” gumamku dalam hati.

Istirahat Pak Lan memberiku kesempatan berbincang, jagak jarak pun ku terapkan untuk membantu Pemerintah  guna mencegah penularan Covid-19, Kamipun mulai berbincang  diiringain laju kendaraan yang melintas siang itu. Rasa haru, salut, sedih, bangga tercampur mendengar ucapan yang keluar dari peria setengah baya ini “saya sekolah sampai SD, tapi saya ikut melanjutkan sekolah di paket C, saya sering dapat juara 1 dan 2 dilomba membuat kerajinan”,tuturnya.

Sempat juga terfikir gimana bisa buat kerajinan dengan tangan kiri seperti itu, kalau saya mungkin untuk memegang benda saja agak kesusahan, akan tetapi bagi Pak Lan itu lah kelebihan yang beliau miliki, meski keadaan tangan dan kaki tidak normal masih bisa berkarya  dan yang terpenting bukan suatu halangan atau alasan untuk mencari nafkah mengatas namakan kekurangan yang tuhan berikan.

“saya tidak malu berjualan seperti ini, dari pada saya mengemis lebih baik saya jualan bisa kasih makan ibu, istri dan anak saya, tidak seperti orang lain yang menipu untuk mengemis atau berjualan”, tuturnya lagi.

Dengan mengenakan peci layaknya pejabat Negara,  sekilas saya perhatikan memang terpancar jiwa pekerja keras dan mandiri, terlihat dari warna kulit yang rada hitam kelam terkena terik matahari, keringat yang bercucuran di kening hingga seluruh badan, kaki-kaki yang tahan panas karena terbiasa serta kesederhanaan yang tampak sangat jelas, bahkan tak lekang rasa nasionalisme pada dirinya dengan sebuah bendera Republik Indonesia yang selalu berdiri tegak di samping kiri boncengan belakang sepeda jenis ontel miliknya yang di peroleh dari membeli kepada rekannya dengan harga Rp. 80.000,- seolah menjadi suatu kebanggaan tersendiri dan ciri khas Pejuang Disabilitas untuk bisa hidup setara dengan manusia normal lainnya.

Baca Juga :  Mengenal Tokoh NTB Yang Menginisiasi Berdirinya Fakultas Hukum Unram dan Pembangunan Asrama Mahasiswa Sumbawa di Mataram

Tanpa menunggu lama Tim Pejuang Berbagi dari Yayasan Tangan Berbagi Indonesia memberikan sebuah bingkisan berupa sembako yang mungkin terlihat bernilai kecil akan tetapi setidaknya bisa meringankan beban hidup sehari-hari Pak Lan bersama keluarga, banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari sosok Bapak ini.

Di dunia ini tentu saja sudah banyak sekali orang yang gagal dalam hidupnya karena yang namanya keputus-asaan dan kehilangan semangat hidup. Padahal, segala yang terjadi sudah menjadi takdir sang Maha Kuasa sehingga Kita tidak bisa mengelaknya.

Manusia didunia hanya tinggal menjalani saja dengan sepenuh hati, usaha yang keras dan terus berdoa. Tanpa usaha, do’apun tidak akan terkabul begitu juga dengan usaha yang tidak dibarengi dengan do’a juga akan sia-sia. (ecek221282)

News Feed