by

Jaga Ujaran, Puasa, Stop Pandemi

-Opini-555 views

BerbagiNews.com – Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahaya yang lebih cepat menyebar dari SARS-CoV-2 yaitu infodemik. Ia merupakan informasi hoax seputar virus corona. Ia mengatakannya dalam sambutan Konferensi Keamanan Dunia di Munich, Jerman pada 15 Februari 2020. Informasi terkait pandemi atau infodemik tersebut tidak kalah berbahaya karena membuat publik bingung dan cemas.

Kecemasan tentang hal yang tidak diketahui dengan tepat, seperti risiko COVID-19 terlebih yang menyebar melalui infodemik, dapat membuat pusat rasa takut di otak yang disebut amigdala menjadi hiperaktif. Di dalam neuroanatomy amigdala merupakan salah satu bagian otak yang tertua, cara kerjanya cukup primitif. Ia bertindak sebagai alarm pemicu-senang, berinteraksi dengan sistem stres untuk menjaga tubuh dan pikiran individu dalam siaga tinggi terutama selama individu merasa cemas. Penelitian menunjukkan bahwa dengan sekedar informasi ringan saja tentang bahaya, terutama jika tidak pernah dialami, sudah cukup untuk memicu amigdala dan mengaktifkan respons stres. Inilah yang membuat orang terjaga di malam hari, berbaring di tempat tidur mengkhawatirkan COVID-19.

Masalahnya adalah aktivasi kronis/terus-menerus dari sistem stres dapat merusak sel-sel individu dan mengganggu banyak fungsi tubuh. Sistem kekebalan tubuh menanggung beban terbesar. Meskipun tekanan psikologis bukan pathogen/agen penyebab sakit yang utama, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya pada sel-sel tubuh memicu respons imun yang membuat individu lebih rentan terhadap patogen asing. Ini dapat meningkatkan risiko tubuh untuk terinfeksi dengan SARS-CoV-2, virus corona yang menyebabkan COVID-19.

Sistem kekebalan bertindak seperti polisi yang bertugas di wilayah perbatasan, berpatroli di tubuh untuk mengawasi sel-sel yang asing dan berbahaya. Ini sangat mirip dengan program Nexus atau Global Entry untuk turis yang sebelumnya sudah disetujui bisa masuk. Siapa pun yang terdaftar dalam program ini mata mereka dipindai agar identitas mereka bisa segera dikonfirmasi untuk melintasi perbatasan dengan cepat. Tetapi sistem kekebalan tidak hanya sekedar memindai iris, tetapi ia  memindai paspor biologis pada permukaan luar sel yang oleh para ilmuwan disebut motif.

Baca Juga :  Televisi Sebagai Media Utama Informasi dan Kampanye Atasi Covid-19

Sel-sel tubuh memiliki motif-nya sendiri yang berbeda dari motif sel asing dan patogen, seperti SARS-CoV-2. Motif asing ini dikenal sebagai pola molekuler terkait-patogen(pathogen-associated molecular pattern -PAMP-).

Di dalam tubuh ditemukan motif lain yaitu motif “rusak-diri”, yang dikenal sebagai pola molekul terkait kerusakan (damage-associated molecular pattern -DAMP-). Motif ini dimunculkan oleh sel-sel tubuh yang rusak atau hampir mati yang sudah tidak bisa berfungsi normal. Stres merusak sel-sel tubuh, mengubah motif diri menjadi motif diri yang rusak. Ini mengundang terjadinya serangan oleh sistem kekebalan tubuh, meningkatkan peradangan di seluruh tubuh dengan cara yang sama seperti jika terjadi infeksi sesungguhnya. Respons seperti ini, bukanlah reaksi terhadap infeksi yang sebenarnya, sering dikenal dengan istilah radang steril.

Kekhawatiran yang terus-menerus tentang COVID-19, terutama yang dipicu oleh infodemik, dapat meningkatkan kerentanan tubuh terhadap virus dengan menciptakan ketidakseimbangan dalam fungsi kekebalan tubuh. Ini karena sistem kekebalan tubuh bereaksi “panik”, waspada berlebihan sehingga bisa menyebabkan banyak kekeliruan. Mudah dibayangkan ketika terjadi peristiwa 11 September 2001 terhadap menara kembar di Amerika Serikat, bagaimana respons keamanan yang berlebihan bisa menangkap orang atau barang bawaan yang sebenarnya bukan masalah. Respons yang mirip terjadi terhadap sistem kekebalan tubuh.

Cemas yang berlebihan tentang COVID-19, infodemik, dapat memicu respons kekebalan yang meningkatkan peradangan dan memicu badai sitokin. Jika SARS-CoV-2 bertindak seperti virus lain, maka pada saat infeksi, inflammasom akan diaktifkan yang akan menimbulkan respons peradangan yang malah membahayakan. Peradangan yang tak terkendali justru lebih berbahaya, malah bukan melindungi; itu menderegulasi fungsi kekebalan tubuh, justru meningkatkan risiko infeksi virus.

Puasa Ramadlan

Puasa (shiyam) Ramadlan adalah, menahan makan dan minum, berhubungan suami-istri, dari tebit fajar (shubuh) sampai terbenam matahari (maghrib). Demikian biasa dipahami oleh sebagian besar Muslim. Rasulullah saw. bersabda bahwa, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus”. Hal demikian disampaikan karena, puasa bukan hanya cukup menahan diri dari tiga hal di atas, tetapi hakikat shiyam adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Hal-hal yang membatalkan puasa secara antara lain berujar dengan ujaran yang tidak diperkenankan, “Bukanlah puasa itu semata menahan makan dan minum, tapi puasa juga harus menahan diri dari perbuatan sia-sia dan berkata kotor”. Maknanya bahwa dengan berpuasa maka orang yang melaksanakannya berkewajiban untuk menahan diri dari ujaran-ujaran yang sia-sia terlebih ujaran yang tidak benar antara lain infodemik.

Baca Juga :  Solidaritas Sosial Mengatasi Pandemi Covid-19

Shiyam, menahan diri di dalam berpuasa, dimaksudkan untuk memampukan diri bermanfaat shalih (baik) bagi semesta. Pemaknaan ini sejalan dengan makna Islam, bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘aalaminn. Islam hadir membawa rahmat bagi semesta. Rahmat bagi semesta akan hadir jika setiap individu mampu mengelola dirinya dengan baik. Mampu menahan apa yang buruk bagi dirinya, lebih-lebih buruk bagi orang lain. Sama maksudnya dengan memerintahkan diri untuk selalu belaku baik, selalu beraktifitas hanya yang bermanfaat, bagi diri juga bagi lingkungan.

Puasa Ramadlan menjadi jalan utama untuk melatih diri agar bisa terkendali, agar bisa mencurahkan rahmat kepada semesta. Melalui puasa Ramadlan kita jaga ujaran, baik lisan maupun tulisan, infodemik terhenti, cemas berkurang, kekebalan tubuh seimbang, pandemi segera padam. (Prof. Dr. dr. Abdurachman, M.Kes.)

News Feed