by

Kemerdekaan Buah Takwa

-Opini-591 views

Berbagi News – Takwa, menjadi tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah satu bulan ramadan. Selamat Iedul Fitri, selamat kembali kepada jiwa yang bersih. Jiwa yang telah disucikan dari perbuatan noda. Perbuatan keliru selama sebelum ramadan.

Takwa secara umum bisa bermakna mengerjakan perbuatan baik, menghindarkan perbuatan buruk demi tunduk dan patuh kepada Allah. Demi iman kepada Allah. Keimanan yang lahir setelah memperoleh tuntunan dari Rasulullah SAW.

Perbuatan baik bisa beraneka. Salah satunya adalah memberikan hasil perahan susu, mendahulukan kedua orang tua sebelum yang lain.

Bisa juga berupa menjaga harta hak milik orang lain. Bahkan bukan hanya menjaga, tetapi menjadikan harta itu modal untuk usaha sehingga harta itu berkembang. Setelah memperoleh hasil dari usahanya, seluruh keuntungan beserta modalnya dikembalikan kepada yang berhak.

Bisa juga perbuatan takwa berasal dari upaya menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Semisal perbuatan zina.

Dikisahkan di dalam sebuah hadits sahih al-Bukhari dan Imam Muslim bahwa ada tiga orang yang sedang berjalan kaki di sekitar gunung. Karena hujan, mereka berlindung dalam sebuah gua. Ketika itu sebuah batu besar meluncur dari ketinggian, jatuh tepat di mulut gua, menutupnya rapat. Praktis mereka terkurung di dalam gua, tidak mampu keluar.

Mereka berusaha keluar, tapi tidak mampu menjungkirkan batu untuk membuka mulut gua. Lalu, ketika itu salah seorang mengajukan usul. Adakah diantara kita ada yang pernah berbuat baik, perbuatan yang ikhlas karena Allah? Dari itu berdoalah kita kepada Allah, ber-wasilah (melalui amal shaleh itu), mudah-mudahan Allah memberikan kita jalan keluar!

Salah seorang memanjatkan do’a, ‘Ya Allah, dahulu aku memiliki orang tua yang sangat tua, seorang istri, dan anak-anak yang aku rawat. Ketika sore hari, aku memerah susu. Aku mendahulukan memberikan susu kepada kedua orang tuaku, baru anak-anakku.

Baca Juga :  Kritik dan Perbedaan Pendapat

Suatu saat aku berpergian jauh mencarikan makan bagi hewan ternak peliharaan. Aku pulang petang hari. Aku dapati dua orang tuaku sudah tidur. Aku memerah susu seperti biasa, kubawa susu tersebut kepada orang tuaku. Aku berdiri dekat mereka, tidak ingin membuat mereka terkejut sehingga terbangun. Aku belum memberikan susu itu kepada anak-anakku sebelum mereka.

Sementara itu anak-anakku merengek minta susu. Keadaan hingga subuh tiba. Jika hal ini kulakukan hanya karena mengharap ridlo Engkau, maka bukakanlah mulut gua agar kami dapat keluar, bebas merdeka.

Atas ijin Allah, batu itu pun bergeser sedikit. Mereka mampu melihat celah cahaya dari langit.

Kawannya pun berdo’a, ‘Ya Allah, dahulu aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu firaq beras. Setelah selesai, dia berkata, ‘Berikan hakku padaku.’ Aku lantas menawarkan upah firaq-nya, tetapi dia tidak menghendakinya. Aku kemudian menanamnya, sehingga (dari) hasilnya aku dapat membeli hewan ternak beserta penggembalanya.

Setelah lama berselang ia datang lagi kepadaku dan berkata, ‘Takutlah kepada Allah dan jangan kamu berbuat zalim kepadaku.’ Dia meminta upahnya. Aku berkata, ‘Pergilah kepada hewan-hewan ternak itu bersama penggembalanya, silakan ambil seluruhnya.’ Dia berkata, ‘Takutlah kepada Allah, jangan kamu mempermainkan aku.’ Dia heran karena upah yang hanya satu firaq sekarang telah menjadi harta berupa hewan-hewan ternak dan penggembalanya.

Aku katakan, ‘Aku tidak sedang mempermainkanmu, silakan kamu ambil hewan-hewan itu serta penggembalanya.’ Dia pun mau mengambil semuanya dan pergi. Jika perbuatan itu kulakukan karena mengharap ridla Engkau maka bukakanlah mulut gua untuk kami.’ Atas ijin Allah batu terbuka lebih luas. Namun mereka belum sanggup keluar.

Kawan terakhir bermunajat, ‘Ya Allah, dahulu aku mempunyai seorang sepupu perempuan. Aku sangat mencintainya sebagaimana cinta lelaki kepada perempuan. Aku ingin memintanya melakukan sesuatu, tetapi dia menolak permintaanku kecuali aku dapat memberinya seratus dinar.

Baca Juga :  Di Laut Masa Depan Nusantara

Aku pun bekerja keras untuk mengumpulkan uang seratus dinar. Setelah itu, aku kembali kepadanya dengan membawa uang tersebut. Saat aku sudah di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah engkau membuka cincin itu (perbuatan keji) kecuali dengan haknya, halal.’

Akhirnya, aku beranjak meninggalkannya. Jika perbuatan itu aku lakukan karena mengharap ridla Engkau, maka bukakanlah mulut gua untuk kami.’ Atas ijin Allah mulut gua terbuka, cukup membebaskan mereka semua.

Perbuatan baik yang dilakukan hanya mengharap “wajah” Allah (taqwa), bisa menjadi washilah (penghubung) doa yang ampuh. Puasa ramadan yang dilakukan imaanan wahtisaaban, hanya mengharap ridla Allah serta penuh kehati-hatian -professional- sangat pantas menjadi washilah memperoleh segala apa yang dipanjatkan kepada-Nya. Apalagi, ibadah ramadlan bukan hanya sekedar puasa; ada shalat taraweh, tadarus, infaq, shadaqah, zakat dll perbuatan yang bernilai baik, semuanya bisa menjadi washilah yang ampuh.

Lebih lagi, segala amalan shaleh di bulan ramadlan dibalas dengan balasan yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya. Demikian informasi yang ada dalam sebuah hadits qudsy.

Wajar, kalau setelah ramadlan orang-orang beriman yang memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi memperoleh keistimewaan. Ialah kebebasan atau kemerdekaan dari kekeliruannya sebelum ramadlan, diampuni dosa-dosanya sehingga dia bebas dari siksa neraka.

News Feed