by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Enam)

BERBAGI News – Mogens Peter salah seorang sahabat Willem di Lombok. Ia seorang pengelana, keluar-masuk hutan belantara hingga ke Pulau Sumbawa. Mencari titik-titik area yang mengandung logam mulia.

Hari Minggu pagi Mogens menjemput Willem dan Cornelia. Ia membawa jip, mengajak dua bersaudara itu keliling kota.

Mogens pandai bercerita. Ia banyak tahu tentang Lombok dan kepulauan Sunda Kecil di sekitarnya.

“Kalian perlu baca buku The Malay Archipelago yang ditulis Alfred Russel Wallace. Ia pernah setahun lebih di Lombok. Wallace tiba di Pelabuhan Ampenan Bulan Juni 1856. Ia menginap di rumah Ncek Daud di Kampung Banjar,” kata Mogens.

Di buku itu, lanjut Mogens, sang ilmuwan Inggris menceritakan gelombang dahsyat di perairan Ampenan. Sering terjadi kecelakaan laut di sekitar itu. Kedatangan gelombang sering tak terduga. Gelombang pasang menghempas perahu-perahu yang ditambatkan di pesisir hingga hancur berkeping-keping.

“Di bagian lain Wallace mengisahkan tentang lelaki Lombok yang pencemburu.”

“Wow! Teruskan,” sahut Cornelia penuh minat.

“Wanita bersuami pantang menerima pemberian dari orang lain, apalagi orang asing. Ada kasus yang melibatkan seorang dari Inggris yang berhubungan dengan seorang wanita lokal. Di depan orang Inggris itu, perempuan itu ditikam dengan keris tepat di jantungnya. Pembunuhnya utusan penguasa Lombok. Ia diperintah raja, setelah mendapat pengaduan dari keluarga suami perempuan itu.”

Jip meluncur perlahan. Di belakang setir Mogens terus bercerita. Ia menghentikan kendaraan ketika memasuki Jalan Pejanggik, di bawah pohon kenari yang paling rimbun. Ia mengajak Willem dan Cornelia turun.

“Sudah lebih separuh abad usia pohon-pohon kenari sepanjang jalan ini. Ditanam saat Van der Hoogt menjadi Kontelir Lombok di tahun 1895,” jelas Mogens.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tujuh)

Lelaki itu berbicara lebih jauh, menyinggung perubahan besar yang terjadi di Mataram, sejak bandar laut permanen dibangun di Ampenan. Kehidupan selangkah lebih modern, ditandai dengan alat-alat produksi yang menggantikan peralatan tradisional. Sebut saja huller gabah atau penggilingan padi tenaga uap milik seorang pengusaha Tionghoa di Jalan Langko. Riwayat lumbung tempat penyimpanan padi berakhir, digantikan gudang-gudang beras. Bunyi alu beradu dengan rantok (lesung) alat penumbuk padi tak terdengar lagi.

Transfer teknologi bertambah cepat, menjadi bukti betapa sarana pelabuhan sangat berperan. Segala sesuatu yang menjadi ukuran keunggulan di daerah atau negara lain, tak berapa lama akan berdatangan, terbangun, atau terfasilitasi.

Sejumlah pabrik berdiri di Ampenan. Industri besar muncul justru ketika negeri sedang terjajah. Rokok dari Jawa atau luar negeri, kini punya pesaing. Pabrik rokok kelobot cap Kuda buatan Ampenan diproduksi besar-besaran. Beredar hingga di luar Lombok. Industri lainnya adalah berdirinya pabrik minyak kelapa.

Melalui Pelabuhan Ampenan, peluang masyarakat ke luar negeri menjadi terbuka. Tak hanya memberi kemudahan jamaah yang menunaikan ibadah haji ke Mekah melalui transportasi laut. Tetapi keberadaan bandar ini memunculkan profesi baru yang bergengsi. Luar negeri terbuka untuk masyarakat Lombok yang memiliki ternak sapi. Sehingga dibutuhkan jasa para kleder yang mengurus ternak ke negara-negara tujuan.

Ncek Muhammad salah seorang kleder yang cukup aktif. Lelaki dari Kampung Banjar itu sedikitnya 4 kali dalam setahun membawa sapi-sapi lokal menuju Hongkong.

Pelabuhan Ampenan mengantarkan nama Lombok sebagai eksportir langsung ke sejumlah negara.

Gaya hidup pun berkembang. Setiap waktu orang-orang datang dari arah barat, membawa tradisi yang awalnya asing. Orang-orang Rusia, Inggris, dan Belanda, memperkenalkan minuman keras dari Eropa. Sejak itu, pribumi yang tadinya hanya menenggak tuak dan brem, minuman fermentasi tradisional, mulai ketagihan bir, wisky, atau vodka. Berkembanglah satu strategi untuk meminggirkan dominasi minuman tradisional di kalangan pemabuk. Bahwa mabuk minuman luar adalah teler yang berkelas.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Empat)

Mogens memiliki kawan senegara bernama Bouwer. Ia datang ke Lombok di waktu hampir bersamaan di pertengahan tahun 1930an. Bouwer tinggal di dekat jembatan menuju Karang Taliwang, Cakranegara. Di rumahnya ia menjual minuman campuran arak, madu, telur, dan lainnya. Minuman ini sangat laris. Harganya terjangkau. Meminum segelas campuran di tempat Bouwer, mabuknya setara dengan lima botol bir.

Orang-orang tak tahu nama minuman itu. Mereka hanya tahu penjual dan peraciknya bernama Bouwer. Akhirnya, orang-orang menyebut minuman itu bower.

Awalnya, Bouwer marah-marah ketika seseorang datang ke kedainya.

“Saya mau beli bower.”

Tentu saja Bouwer terperanjat. Ia keberatan dan menghardik orang itu. “Hei, inlander. Kamu tidak bisa membeli saya.”

Tetapi tak lama pengunjung lain datang, juga mengatakan ingin membeli bower. Bouwer akhirnya letih sendiri lantaran marah terus-terusan. Suka atau tak suka ia harus menerima.

“Jauh tempatnya Bouwer?” tanya Cornelia.

“Sekitar empat kilometer lagi. Kita ke sana?”

Cornelia mengangguk. Sebelum masuk ke dalam jip, ia memetik kembang sepatu di pinggir jalan. Ia selipkan di telinganya.

“Lihat, Morgens. Betapa cantiknya adikku,” Willem berseru. Ia cium kening Cornelia, sambil berbisik, “Kau betul-betul mirip mendiang mama.”

Mata kakak-beradik itu berkaca-kaca. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed