by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Sebelas)

BERBAGI News – Surat dari pamannya hanya menanyakan kabarnya dan kapan ia balik ke Batavia. Ada disebut juga, para petinggi di Pemerintahan Stad Gemeente Batavia merindukan ia tampil lagi menghibur para ekspatriat di pusat kota.

Kabar dari pamannya tak terlalu penting, tetapi tiba-tiba mengingatkannya pada suatu malam di sebuah gedung pertunjukan tak jauh dari kawasan Witte Huis, Rotterdam. Ia tampil memainkan 10 gubahan empat musisi legenda, Mozart, Beethoven, Johann Sebastian Bach, dan Chopin.

Sembilan komposisi simfoni klasik telah ia tuntaskan. Namun respon audiens nampak biasa saja. Ia agak gugup. Ia merasa inilah pertunjukannya yang terburuk. Air on the G String dari Johann Sebastian Bach adalah nomor terakhir yang ia mainkan. Ia pejamkan mata. Dua bait berlalu. Tiba-tiba penciumannya menangkap aroma asing yang tak pernah ia hirup sebelumnya. Wangi lembut, sayup. Menguasai pikiran dan kalbu. Ia merasa berada di tempat yang sangat jauh yang tak ia kenal. Tetapi itu sebuah taman luas yang begitu indah. Ia sendirian di sana, tapi ia tak merasa kesepian. Bunga-bunga, dedaunan, hembus angin, dan gemericik air seolah memanggil-manggil namanya. Ia tak ingin pergi dari tempat itu. Ia ingin terus berada di sana.

Di menit-menit terakhir jemari-jemari lentik Cornelia bergerak liar di atas tuts-tust piano. Para penonton menahan nafas, meresapi denting notasi, dari improvisasi yang ia mainkan. Tanpa ia sadari, mimik dan gerak tubuhnya mengikuti komposisi yang sama emosional, tetapi nampak menjadi sebuah keanggunan yang ekspresif.

Saat jemarinya menekan not terakhir, aroma lembut itu menghilang, dan ia seperti baru dilemparkan kembali ke dunia nyata. Ia terkejut ketika semua hadirin berdiri. Tepuk tangan seolah tak berkesudahan. Nomor terakhir yang dimainkannya sangat memukau. Ia heran ketika pembawa acara menyebut pertunjukan di gedung yang juga dihadiri tokoh-tokoh penting dari Den Haag itu, adalah penampilannya yang terbaik sepanjang ia dikenal sebagai pianis wanita di Rotterdam. Disebut-sebut juga improvisasinya salah satu komposisi paling mempesona dalam 10 tahun terakhir dalam sejarah musik di Negeri Kincir Angin. Ia tak merasa telah membuat persembahan yang hebat. Ia hanya ingat aroma itu, membawanya ke suatu tempat yang sangat eksotis.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Delapan)

*

Dalam catatan Wallace, setelah dari Bali menuju Lombok di tahun 1856, ia disambut gelombang ganas di Pantai Ampenan. “Saya sangat lega setelah barang bawaan dan saya sendiri berhasil selamat melewati ombak yang ganas. Penduduk setempat dengan bangga menyebut laut mereka selalu lapar dan akan memakan apa saja yang bisa ditangkapnya,” tulis ilmuwan ini.

Wallace sering merasakan ada keanehan pada jenis gelombang Pantai Ampenan. Ia menyebutnya gelombang arus — belakangan disebut gelombang seismik. Tsunami sering terjadi di sekitar pesisir ini, diawali getaran yang sering tak dirasakan.

“Suatu peristiwa yang terjadi di sini mengungkapkan tabir penyebab kedahsyatan gelombang di Ampenan. Pada suatu malam saya mendengar bunyi gemuruh aneh. Pada saat yang sama, rumah sedikit bergoyang. Tadinya saya mengira itu adalah petir,” lanjutnya. Tak lama terjadi gelombang pasang setinggi dua meter, menyapu pantai dan masuk ke dalam rumah-rumah penduduk.

Tapi warga Ampenan, menganggap gelombang aneh yang disebut Wallace adalah kejadian biasa.

Laut yang kelaparan itu terjadi lagi ketika Cornelia menemani Raodah bermain di pantai. Hari masih pagi saat itu. Raodah bersama teman-temannya berkejar-kejaran. Ombak menjilat-jilat kaki-kaki yang berlari di sepanjang garis pantai. Cornelia dan Rabiyah duduk di pasir yang kering.

Gadis Belanda itu tertawa berderai mendengar anak-anak itu menyanyikan sebuah lagu Belanda. Lagu tentang Moriaantje, seorang anak berkulit hitam seperti jelaga.

Moriaantje zo zwart als roet
Ging eens wandelen zonder hoed
Maar de zon scheen op zijn bolletje
Daarom droeg hij een parasolletje
Moriaantje zo zwart als roet
Ging eens wandelen zonder hoed
Maar de zon scheen op zijn bolletje
Daarom droeg hij een parasolletje

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga)

Raodah telah menghafal belasan lagu Belanda. Ia lalu mengajari teman-temannya di kampung. Anak-anak pesisir itu kini bahkan mengenal banyak kosa kata Belanda yang diperkenalkan Raodah.

Tiba-tiba kepala gelombang terlihat di kejauhan. Cornelia dan Rabiyah berseru memperingatkan. Tapi anak-anak itu satu pun tak ada yang mendengar, mereka tenggelam dalam keriangan. Kedua wanita itu berlari mendekat. Tapi gelombang itu lebih cepat datangnya. Raodah yang berdiri paling dekat dengan jilatan ombak pantai disapu gelombang tanpa ampun. Tubuh gadis kecil itu diseret ke tengah laut. Cornelia berteriak sekuat-kuatnya. Anak-anak lainnya berlari menjauhi pantai. Rabiyah meraung-ruang minta tolong. Delapan orang lelaki melompat ke laut. Mereka berpencar mencari Raodah. Ibu Raodah datang tergopoh-gopoh. Mengetahui anaknya diseret gelombang, ia jatuh pingsan.

Seperempat jam berlalu. Kedelapan lelaki itu kembali ke pantai. Mereka tak menemukan Raodah.

Rabiyah berguling-guling di pasir. Ia menjerit-jerit histeris. Cornelia terisak-isak menangis. Air matanya bercucuran.

“Raodaaaah! Raodah!” pekik Rabiyah.

Gelombang Pantai Ampenan agak mereda. Di kejauhan nampak sesuatu yang timbul tenggelam. Lalu sesosok tubuh muncul, mendekat ke arah orang-orang yang berkerumun. Ia menggendong seorang anak perempuan yang sedang tak sadarkan diri. Pemuda itu! Entah kapan ia terjun ke laut, tak ada yang mengetahuinya. Ia menurunkan tubuh Raodah.

Orang-orang menolong menyadarkan gadis kecil itu. Tak lama Raodah terbatuk-batuk. Orang-orang tak memperhatikan pemuda itu berjalan meninggalkan kerumunan. Hanya gadis Belanda itu yang sejak tadi memperhatikan sang pemuda. Ia berlari mengejar lelaki itu yang berjalan sambil membuka bajunya yang basah. Tangan pemuda itu ia jabat. Ia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi bibirnya seperti terkunci. Ia tatap wajah pemuda itu, tapi hanya sesaat. Ia tak sanggup menatapnya berlama-lama. Hatinya bergetar. Tapi tangannya belum melepaskan genggamannya pada jemari sang pemuda. Dua telapak tangan bersentuhan, menempel, terasa kehangatan menjalar ke seluruh pembuluh darah gadis itu. Ia tatap sekali lagi wajah itu. Kumis tipis hitam pekat di atas bibirnya. Ketampanan wajah seorang Melayu, tetapi punya wibawa seperti yang dimiliki para ningrat Jawa. Kembali gadis itu menunduk. Ia sempat memperhatikan dada bidang sang pemuda. Ada bulu-bulu halus di situ.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Dua)

Pemuda itu hanya tersenyum, seperti beberapa waktu lalu. Lalu sayup hidung Cornelia mencium aroma itu. Ia tiba-tiba merasa tak berada di pantai dengan ombaknya yang menggila. Ia berada di taman itu. Mungkin sebuah tempat di serambi surga. Ia merasa nyaman. Segalanya nampak indah. Ketenteraman yang merayap ke seluruh urat nadi, membangun perasaan teramat bahagia.

Cornelia tersadar. Ia dengar debur ombak itu lagi. Tetapi pemuda itu sudah tak ada di hadapannya. Ia menoleh ke sekeliling. Sosok yang ia cari tak ia temukan. Lalu ia teringat notasi terakhir Air on the G String. Ia juga ingat pianonya di Rotterdam. Barangkali sudah hancur-lebur saat serangan udara tentara Jerman. Ia cium telapak tangannya. Aroma harum selaksa keindahan itu masih membekas. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed