by

Ludah Bertuah Sang Wali

BERBAGI News – MASYARAKAT Lombok sangat menghormati para alim ulama. Para tuan guru, sebutan bagi tokoh-tokoh yang memiliki ilmu pengetahuan agama, tidak hanya menjadi panutan dalam satu bidang saja. Di mata sebagian para pengikut, santri, atau jamaah, tuan guru adalah segalanya. Ia tempat umat bertanya bermacam hal. Dan apa pun yang diucapkan pemuka agama ini diyakini adalah kebenaran.

Tak heran jika banyak tuan guru begitu disakralkan. Lantaran dianggap memiliki pemahaman dan pengetahuan yang luas, tuan guru akhirnya dikunjungi dengan berbagai kepentingan. Mulai dari memohon petuah, restu, hingga pengobatan. Bertemu tuan guru diyakini merupakan berkah.

Datuk Syeikh TGH Ahmad Tretetet, dalam berbagai kisah, adalah sosok yang paling sering dicari-cari. Tetapi tidak semudah itu dapat bertemu ulama eksentrik ini. Jusru ia sering muncul tiba-tiba tanpa perlu bersusah-payah mencarinya ke mana-mana. Apalagi sosok ini jarang menetap di satu tempat. Maka bagi mereka yang pernah bertemu atau disentuh tokoh ini, adalah isyarat mendapat keberuntungan.

Di sekitar tahun 1979, seorang anak lelaki, bertemu tokoh legendaris ini. Namanya Maksuddin. Ia baru duduk di bangku sekolah dasar di Masbagik, Lombok Timur.

“Waktu itu saya belum tahu siapa orang tua itu. Itu hari lebaran. Saya ketemu di Dusun Penakak, Desa Masbagik Timur. Orang tua itu membawa gegandek (tas dari anyaman bambu – bahasa Sasak, Lombok). Beliau menyusur tembakau. Tingkahnya lucu. Beliau menegur orang-orang dan meminta barang yang dipegang pemiliknya, seraya berkata, “Halal!” Tapi tidak semua orang yang beliau ambil barangnya, hanya orang tertentu,” kenang Maksuddin.

Tiba-tiba lelaki tua itu mendekati Maksuddin. Wajah bocah ini disembur dengan ludah bercampur air susuran tembakau. “Saya bertambah kaget ketika beliau menepuk ubun-ubun saya. Siapa orang ini, kok, tega sekali, pikir saya. Tapi saya hanya diam,” lanjutnya.

Baca Juga :  Brakkk! Motor Ngebut itu Terbanting setelah Dibacakan Rapalan Ahmad Tretetet

Melihat itu, Amaq Zakiah, paman Maksuddin, memanggil keponakannya, dan berbisik, “Alhamdulillah. Tidak sembarang orang dipukul kepalanya. Iye aran (dialah orang yang bernama) Tuan Guru Ahmad Tretetet tiye (itu).”

Maksuddin terperanjat. Nama besar sang wali sering ia dengar, namun baru kali itu berjumpa. Lalu ia sempat mendengar Ahmad Tretetet mengatakan, kelak Maksuddin akan menjadi guru di tempat yang jauh. “Dan itu terbukti. Saya benar-benar menjadi guru,” ungkapnya.

Tak sekadar pendidik. Maksuddin, S.Pd, M.Hum, kini menjadi kepala sekolah SMPN 1 Kupang Barat, Kupang, NTT. Di tempat yang jauh, persis seperti dikatakan Ahmad Tretetet 40 tahun silam!

Semburan ludah bertuah Tretetet juga diterima A Rasul Munir di tahun 60an. Sama seperti Maksuddin, saat itu ia masih bocah. Ia putra Tuan Guru Munir di Karang Bedil, Mataram. “Tuan Guru Treretet sering ke rumah kami. Sering makan di sana. Bapak saya beliau panggil kakak,” tutur Rasul.

Rasul menurut saja ketika suatu hari Ahmad Tretetet memintanya mengangakan mulut. Lalu dengan begitu cepat ludah sang syeikh meluncur. “Puh!” Ludah itu masuk tepat ke dalam mulut Rasul. Tentu saja tertelan!

Dan, 40an tahun kemudian, Rasul menjadi pejabat di lingkungan Departemen Pertanahan di Lombok Timur. Pensiunan ini sudah lama menunaikan ibadah haji bersama sang istri. Tiga anak Rasul juga mengikuti jejak sukses ayahnya.

Kisah yang agak berbeda diceritakan Lalu Budi Suryata SP, anggota Fraksi PDIP DPRD NTB. Semasa kecil Ahmad Tretetet mengajarinya mengaji di Masjid Nurul Falah, Cakranegara, Mataram, setiap malam Jum’at. Ia tak sendiri. Ia mengaji bersama anak-anak jalanan dari sekitar kompleks pasar Cakranegara.

Tetapi Budi mengaku tidak pernah diludahi sang syeikh. “Saya hanya sempat di-popot (diurut di bagian kepala) beliau,” kata mantan Ketua DPRD Sumbawa ini.

Baca Juga :  Penuturan Cucu Ahmad Tretetet: Sampai di Liang Lahat, Jasad Datoq Menghilang dari Keranda

Budi mengakui perjalanan hidupnya dipengaruhi berkah sosok ulama sang Waliyullah itu. Setidaknya menjadi semacam sugesti baginya ketika menapaki hidup. Perjalanan karirnya tak pernah mendapat kendala yang berarti. Dia berturut-turut dipercaya menjadi wakil rakyat selama empat periode.

Masih banyak cerita sukses para tokoh yang di suatu masa pernah bertemu Datuk Syeikh TGH Ahmad Tretetet. Bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut, tapi benar-benar kisah yang dituturkan para saksi hidup yang sampai saat ini mengakui masih merasakan berkah sang ulama karomah. (Buyung Sutan Muhlis)

News Feed