by

Skill Dewa, Sahdi Tukang Servis dan Permak Pakaian

Mataram, BERBAGI News – Bapak Sahdi yang akrab dipanggil Sahdi di usia hampir 44 tahun masih bekerja sebagai penjahit. Dia setia menerima service dan menjahit baju atau permak di mesin jahit miliknya yang sudah terlihat rapuh termakan rayap, mesin yang dibeli dari seorang sahabat dalam kondisi bekas ini sebagai alat andalan untuk melayani pelanggan. Berlokasi di emperan toko samping Dealer Astra Honda Kebon Roek, tepatnya didepan SMP Negeri 10 Ampenan.

Dengan peralatan mesin jahit konvensionalnya, warga Lingkungan Batu Raja, Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan tersebut mulai menjahit satu persatu pakaian dan celana yang dipermak pelanggannya. Sahdi tak mengeluh, meski panas dan debu dirasakan setiap hari. Kamis (23/07).

Tim Pejuang Berbagi hari itu naas karena maksud hati hendak menemui sang Bapak tetapi kebetulan hari itu Sahdi tidak berada di lokasi menjahitnya, dengan bantuan beberapa kawan disekitar lokasi kami berhasil menemukan alamat Sahdi, cukup kesulitan juga untuk menemui lokasi tempat tinggalnya. Memasuki gang kecil dan banyak kelokan, tanpa pasrah kami terus menelusuri satu persatu gang sembari sesekali mencoba bertanya kepada warga setempat guna mempermudah pencarian.

Mengikuti arahan dari warga akhirnya kami menemukan kediaman Sahdi, terlihat agak kaget karena secara tiba tiba Tim Pejuang Berbagi mendatanginya tanpa pemberitahuan beliau sebelumnya.

saat Pejuang Berbagi berbincang santai bersama Sahdi yang sedang servis mesin jahitnya.

Saat ditanya kenapa hari ini Bapak tidak ada di lokasi menjahit “iya hari ini kebetulan saya tidak keluar karena ada beberapa servisan mesin jahit yang harus diselesaikan,” jawab Sahdi.

Sahdi selain jago permak pakaian ternyata ia memiliki skill memperbaiki mesin jahit juga, keahlian ini diperoleh dari Almarhum sang ayah yang dipelajarinya secara otodidak, dari cara memandang terlihat seperti kebingungan, dengan tingkah yang agak gugup kami pun dipersilahkan masuk dan berbincang ringan dengan bapak yang memiliki 2 anak serta istri yang ramah menyambut kedatangan kami.

Baca Juga :  Chalista Riananda Aziza, Wakili Indonesia di AWMUN 2019

Tak banyak rupiah yang dihasilkan, apalagi disaat Pendemi seperti ini hanya bisa mengumpulkan 90 ribu perhari dari hasil permak pakaian, dikediamannya terlihat beberapa pakaian menumpuk menunggu giliran sentuhan tangan si Dewa permak ini.

“Alhamdulillah ada saja yang datang mengantarkan pakaiannya untuk di permak, hari ini diantar besok baru diambil, bahkan pernah ada seorang istri memberikan celana suaminya untuk dipermak tapi diambilnya lebih sebulan, ternyata seminggu setelah saya terima celana itu beliau meninggal, pas 40 harian Almarhum suaminya baru datang menggambil celana yang sudah selesai saya kerjakan. Kalau seperti itu situasinya saya ikhlas tidak memungut biaya sepeserpun,” cerita Sahdi, terlihat Nampak wajah sedih dengan mata yang berbinar saat mengenang waktu itu.

Permak pakaian dan servis inilah menjadi pengasilan utama sebagai penopang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari hari, biasanya dibulan Agustus yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Sahdi menjadi penjual bendera dadakan yang dihasilkan dari karyanya sendiri, karena terbentur modal Agustus tahun 2020 ini tidak bisa menjalankan usaha dadakan yang sudah digeluti berpuluh tahun ini. (Red)

Tim Liputan, Yadi, Mamiq Sahaya BERBAGI info

News Feed