by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Dua Puluh Dua)

BERBAGI News – Naskah lontar Babad Lombok, menceritakan kedahsyatan letusan Gunung Samalas. Gemuruh banjir batu menerjang negeri Pamatan. Kota itu dilanda gempa dahsyat selama tujuh hari tujuh malam. Erupsi yang menyebabkan Gunung Rinjani longsor, menimbun Pamatan dan menewaskan ribuan penduduk.

Saat itu tahun 1257, abad pertengahan. Letusan Samalas di Lombok, gunung berapi terbesar di dunia ketika itu, memuntahkan 40 trilyun kubik magma padat, dan kerudung aerosol stratosfer yang menghalangi sinar matahari. Daya letusnya mencapai ketinggian 43 kilometer ke angkasa yang berpotensi mengubah pola sirkulasi atmosfer. Pengaruhnya tak hanya menyengsarakan warga lokal, tapi menjadi penyebab Eropa selama setahun kehilangan musim panas. Seorang biarawan di Inggris melaporkan, angin utara dan hujan lebat terus berlanjut selama beberapa bulan. Masa yang sangat sulit, disertai berjangkitnya wabah penyakit. Erupsi Samalas membawa dampak 15.000 warga London binasa.

Tapi, ada satu jenis tumbuhan yang tetap bertahan di hutan Rinjani. Sebuah pohon yang kokoh, tak bergeming saat letusan dahsyat Samalas dan longsornya Gunung Rinjani. Sesuatu yang diyakini berasal dari surga selain Hajar Aswad yang dibawa Malaikat Jibril yang diserahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS sewaktu membangun Ka’bah.

Ribuan tahun sebelum Gunung Samalas meletus.

Zat murni dari proses penyulingan tumbuhan di lereng Rinjani itu digunakan untuk berbagai tujuan besar. Aromanya menundukkan mahkluk sejumlah dimensi. Berbagai negeri memburunya, dengan melibatkan orang-orang sakti, paranormal, bahkan bangsa jin. Pohon yang diketahui hanya tumbuh di daratan Nusantara. Tetapi yang diyakini paling memiliki daya magis yang mampu menyatukan kekuatan nyata dan gaib, berada di Gunung Rinjani. Bahkan kekuatan yang dimiliki orang-orang Majusi yang menjadikan Persia Kuno sebagai negeri kuat yang paling ditakuti di dunia, bersumber dari zat yang sama. Zat inti yang berhasil didapatkan dari salah satu tokoh jin kalangan Al-Marid, jin kafir yang keji, setelah ratusan tahun mengembara di belantara Rinjani. Maka tak heran, Lombok menjadi buruan berbagai bangsa selama berabad-abad. Tak hanya mengincar kekayaan alam, tetapi secara rahasia mengirim tokoh-tokoh pilihan untuk mendapatkan bahan utama dari tumbuhan tersebut. Pohon yang tak mudah didekati, karena dijaga berbagai binatang buas dan makhluk halus.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Dua Puluh Tujuh)

Alkisah, di lereng Rinjani bertapa seorang sakti bernama Ghalib. Usianya telah ribuan tahun. Rambutnya putih panjang. Ia memelihara janggut yang panjangnya hampir menyentuh tanah. Ghalib penjelmaan khadam dari bangsa jin golongan baik.

Di sebuah negeri, pertapa ini dalam satu kesempatan berhasil merebut cairan inti zat pohon itu dari tangan panglima tentara Majusi yang disimpan dalam botol kecil dari tembikar. Hilangnya botol itu menjadi akhir cerita kekuatan pasukan Persia, walaupun bangsa pemuja Dewa Api itu masih memiliki banyak tukang sihir dan petarung-petarung kebal senjata tajam .

*

Ahmad dilahirkan dengan kemampuan khusus. Masa kecilnya sempat membuat kedua orang tuanya bingung dan kewalahan. Ia pernah menangis sampai berguling-guling di tanah ketika seekor ayam hendak disembelih. Unggas itu ayam kesayangannya, tapi bukan hal itu yang membuatnya bersedih. Ia mendengar ayam itu memanggil namanya. “Ahmad, tolong saya,” ucap hewan itu memelas.

Ayam itu akhirnya dilepas, dan Ahmad pun berhenti menangis.

Hampir semua hewan bisa berkomunikasi dengannya. Di tangan Ahmad, seliar apa pun binatang, ia bisa jinakkan. Di kampungnya, setiap kuda yang sedang ditunggangi atau menarik gerobak, ketika berpapasan dengannya, tiba-tiba berhenti. Ia mengucapkan sesuatu yang tak dimengerti siapa pun, baru hewan itu berjalan lagi.

Semakin bertambah usianya, bertambah pula kemampuannya yang lain secara alamiah. Tiba-tiba ia menghilang beberapa hari atau berminggu-minggu. Dibawa beberapa golongan jin ke suatu tempat.

Jika ia bisa membuat hewan-hewan tunduk, beda halnya dengan bangsa jin. Ia hanya mengikuti mereka tanpa bisa menolak.

Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Ghalib di tengah-tengah hutan. Di belakang lelaki berjubah putih berjanggut sangat panjang itu, berbaris pasukan besar. Terdiri dari 10.000 jin bersenjata dan menggunakan tameng yang siap melaksanakan perintah. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed