by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Empat)

BERBAGI News – Cornelia menarik nafas panjang. Itu pun terasa sangat berat. Seluruh organ tubuhnya seperti menolak bekerja. Dalam dua hari berturut-turut ia merasa begitu letih. Sejak semalam ia tak pernah menyentuh makanan. Air yang melewati kerongkongannya hanya beberapa teguk. Ia hanya ingin tidur, tapi begitu sulitnya. Belum ada dua jam ia terlelap.

Ia pernah sakit. Pernah sampai bermalam di rumah sakit saat ia terserang demam tinggi. Kepala pusing, tubuhnya menggigil. Pernah pula kakinya terantuk. Kuku salah satu jari kakinya hampir lepas.

Tetapi, penderitaan kali ini melebihi semua yang pernah dialaminya. Sakit yang bersumber di hati dan pikirannya.

“Tidak usah, Inaq. Saya tak pernah berbuat jahat kepada siapa pun,” suaranya lemah.

“Non. Non Lia sama sekali belum makan. Inaq ambilkan, inaq suapin, ya?”

Cornelia menggeleng.

“Non bisa sakit kalau tak mau makan.”

“Biarkan saya sakit. Siapa juga yang mau mempedulikan saya?”

“Inaq sayang Non Lia. Tuan muda, dan banyak orang menyayangi Non Lia.”

“Tapi Ahmad tidak menyayangi saya, Inaq. Padahal saya tak pernah dekat dengan lelaki lain. Inaq tahu sendiri. Berapa pria Belanda datang, beberapa pernah berterus terang menyatakan ketertarikan. Semua tidak saya tanggapi.”

“Sabar, Non Lia sayang. Tuhan sedang memberi cobaan. Non harus kuat,” Rabiyah membelai rambut gadis itu.

“Inaq, saya ingin tidur dengan inaq nanti.”

“Nggih, Non. Inaq juga pijit nanti. Tapi Non Lia makan dulu. Inaq suapin, ya?”

Cornelia mengangguk.

Rabiyah menyuapi gadis itu sup yang sudah dihangatkan, seperti seorang ibu memberi makan anaknya yang masih balita. Tapi Cornelia hanya mampu menelannya beberapa sendok.

“Cukup, Inaq. Saya tak ada selera.”

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Enam Puluh Enam)

Malam itu Rabiyah menghiburnya dengan cerita tentang perkawinan-perkawinannya yang gagal. Ia berusaha menyampaikan bagian-bagian yang kocak, yang biasanya membuat Cornelia terpingkal-pingkal. Tapi kali ini tak satu pun cerita yang membuat gadis itu tertarik. Tersenyum pun tidak. Ia seperti tak mendengarnya. Mata gadis itu menerawang. Lalu air mata itu tumpah lagi.

Rabiyah dapat merasakan kepedihan itu. Ia pernah berkali-kali mengalaminya. Tetapi, ia tak habis pikir, gadis secantik itu, dari bangsa terhormat yang menguasai negerinya, bisa patah hati. Bisa menghabiskan air mata, lantaran seorang pribumi yang ia anggap telah menghianatinya.

Rabiyah merebahkah diri di samping Cornelia. Ia mengusap-usap lembut rambut gadis itu.

“Tidur, tidur, gadis cantik. Tidur, anak tiyang tersayang. Anak tiyang tercantik di dunia, secantik bulan purnama,” Rabiyah terus mengulang-ulang kalimat itu. Tetapi mata Cornelia tetap terbuka, sampai suara perempuan pribumi itu tak terdengar lagi.

*

Jam 11 siang Raodah masuk memberi tahu kedatangan Ahmad. Cornelia tersentak. Sudah beberapa hari ia tak berjumpa pemuda itu. Ia rindu. Sangat rindu. Tetapi dengan kesakitan yang dirasakannya ia berusaha menindas perasaan itu. Ia melarang Raodah ke luar.

“Biarkan saja dia,” katanya.

Tapi beberapa menit kemudian ia meminta Raodah melihat pemuda itu. “Intip dari atas, jangan ketahuan.”

Tak lama Raodah menemuinya lagi, mengatakan pemuda itu masih duduk di berugaq. Gadis kecil itu turun-naik berkali-kali.

Telah lewat tengah hari. Raodah mengatakan pemuda itu sedang shalat.

Rabiyah sempat keluar menemui seorang pedagang ikan yang mengantar pesanannya. Ia melihat pemuda itu di berugaq, tersenyum padanya. Tetapi Rabiyah memasang wajah judes dan garang.

“Tiyang sebengin (memasang wajah masam dan cemberut) dia. Langsung pergi dia,” lapor Rabiyah.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Dua Puluh Dua)

*

Rabiyah mengajaknya ke luar, duduk-duduk di berugaq, menghirup udara di tempat terbuka, sore itu.

Kedatangan janda Belanda sore kemarin masih menjadi topik pembicaraan di arena permainan gasing.

“Tapi ana benar-benar sesali diri ana hari ini.”

“Ada apa, Abah?”

“Kenapa ana ada tak ada di situ. Di pelabuhan, barusan ini, ada kecelakaan. Kuda dokar punya si Kipli jatuh karena terpeleset. Dokar mendadak berhenti. Muatannya janda Belanda itu. Untung tidak terlempar ke jalan. Tapi dia pingsan karena kaget. Si Ahmad ada di situ. Dia gendong janda itu pulang ke rumah.”

“Wah, tidak apa-apa bebalu itu?”

“Tidak lama dia sadar. Tidak apa-apa.”

“Aget (beruntung) betul Ahmad.”

“Itulah. Kenapa bukan ana yang gendong. Biar jalan sampai Cakra ana sanggup.”

“Sst! Jangan keras-keras bicara. Ahmad itu beraye (pacar) noni Cornelia.”

“Hah? Hebat si Ahmad. Selalu dekat dengan perempuan-perempuan Belanda yang tak tanggung-tanggung cantiknya.”

Cornelia mendengar jelas perbincangan itu. Sangat jelas. Telinganya panas. Dadanya seperti ditindih batu yang sangat besar. Jika kemarin hanya Rabiyah seorang yang melihat Ahmad berduaan di rumah janda itu, kini warga se-Ampenan tahu pemuda itu menggendong si iblis betina.

“Dia pasti berpura-pura pingsan karena tahu Ahmad ada di sana,” pikirannya mencipta sebuah tuduhan.

Inilah pertama kalinya ia merasa diremehkan. Ia dipermainkan seorang pemuda pribumi. Begitu memalukan. Seorang pemuda direbut dari seorang gadis. Hanya oleh seorang janda! Ia tak terima. Tiba-tiba ia sulit bernafas. Tubuhnya menggigil sampai berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi.

“Inaq, antar saya ke kamar,” katanya lemah.

Rabiyah meraba keningnya. “Aduh, Non Lia demam. Inaq ambilkan kain kompresan,” katanya setelah Cornelia berbaring di kamarnya.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Delapan)

Panas tubuhnya tak turun-turun, walaupun ia sudah meminum obat yang diberikan Dokter Willem. Rabiyah menjaganya sampai pagi. Berkali-kali meletakkan kain basah di keningnya. Sepanjang malam gadis itu mengigau. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed