by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Lima)

BERBAGI News – Dokter Willem masuk, memeriksa keadaan Cornelia. Matanya menyipit. Panas itu tak kunjung turun.

“Harusnya ia sudah membaik kalau hanya demam biasa,” katanya kepada Rabiyah.

Willem memberikan beberapa tablet obat kepada perempuan itu, dan memberi tahu petunjuk penggunaannya. “Ini obat paling paten persediaan saya. Minumnya satu kali saja sehari. Kalau ia bangun berikan obat ini.”

“Cuma dua pil ini?”

“Iya. Kalau dalam dua hari panasnya belum turun juga, dia harus diperiksa di laboratorium. Tidak ada di sini. Paling dekat di Batavia dan Singapura.”

Cornelia terbangun. Ia mencoba duduk. Tapi tubuhnya sangat lemah. Kepalanya pusing berdenyut-denyut. Ia memandang Willem dan Rabiyah yang berdiri di samping tempat tidurnya. Tapi pandangannya samar, ia hanya melihat dua bayang-bayang di kamar.

“Willem.”

Lelaki itu mendekat, duduk di sisi ranjang dekat kepala Cornelia. Ia genggam tangan adiknya. “Iya, Dik. Cepat sembuh, sayang.”

“Willem, bawa saya kembali ke Batavia. Atau pulang ke Rotterdam, mungkin keadaan sudah aman.”

“Kau tetap di sini, adikku. Keadaan belum ada tanda-tanda berubah. Minum obatnya, sayang. Kau akan sembuh. Nanti kita ramai-ramai ke Taman Narmada. Ajak Rabiyah, Raodah, juga… Ahmad!”

“Tidak usah ajak dia!” sergah gadis itu. Walaupun tubuhnya lemah ia ternyata masih bisa bersuara keras ketika mendengar nama pemuda itu disebut kakaknya.

“Kenapa?”

“Willem, tidak perlu tunggu reaksi obat itu. Kalau bisa kita berangkat ke Batavia besok.”

“Non Lia akan tinggalkan inaq?” Rabiyah menyahut. Ia bersimpuh di lantai dekat ranjang sambil memegang kaki Cornelia.

“Maafkan saya, Inaq,” air mata gadis itu menggenang lagi.

*

Dua butir tablet andalan Dokter Willem tak mempan. Panas tubuh Cornelia bahkan semakin meningkat. Lelaki itu sangat prihatin.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Enam Puluh)

“Inaq, siapkan semua keperluan. Tak ada jalan lain. Saya harus membawanya besok ke Batavia. Tidak boleh sampai terlambat.”

Rabiah meninggalkan kamar mengerjakan perintah tuannya. Ia sendiri tak pernah berhenti menangis. Ia sangat bersedih. Gadis itu belum bangun-bangun sampai menjelang sore. Ia merasa akan kehilangan. Cornelia akan pergi. Gadis yang baru beberapa bulan bersamanya, tapi benar-benar telah mengisi hari-harinya. Kesendiriannya selama ini, kepedihan seorang perempuan yang berkali-kali gagal membangun kebahagiaan, terobati setelah Cornelia hadir.

Ia telah berhasil melupakan nestapa yang membelitnya selama ini. Tawa lepas gadis itu, seperti gerimis yang membasahi hidupnya yang gersang. Gadis yang seolah pernah lahir dari rahimnya. Ia tumpahkan kasih sayangnya. Curahan cinta seorang ibu yang tak pernah dikaruniai anak. Dan Cornelia adalah karunia itu. Dan ia mulai merasakan hidup. Merasakan bahagia. “Nenek kaji sak kuasa (Tuhanku Yang Maha Kuasa), apakah kebahagiaan itu hanya sesaat Engkau berikan dan Kau tarik lagi sekarang?” ungkap bathinnya.

Kembali ia ke kamar Cornelia. Gadis itu masih terpejam. Tak bergerak-gerak. Ia raba keningnya. Tangannya seperti menyentuh api. Panas tubuh gadis itu semakin tinggi.

Sambil bercucuran air mata ia mengganti kain kompres. Ia letakkan lagi di kening Cornelia. Gadis yang kini tak berdaya. Begitu dahsyatnya cinta. Menjadi sumber kekuatan, sekaligus sumber kesengsaraan. Cinta adalah surga di suatu ketika, dan menjadi lembah neraka dalam satu kejapan mata. Cinta yang kini membuat gadis itu antara hidup dan mati.

Rabiyah terisak-isak. Ia cium pipi gadis itu. Ia cium telapak tangannya berulang. Inikah perpisahan itu? Ia menggigil, seakan-akan itulah terakhir kalinya ia menyentuh seorang anak manusia yang sangat ia sayangi. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed