by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Lima Puluh Tiga)

BERBAGI News – Ahmad tak mungkin menjelaskan ke mana tujuannya pergi bersama Cornelia. Ketika ia meminta ijin kepada Willem, ia terpaksa beralasan ke tempat familinya yang sedang begawe (pesta) di Mataram. Kebetulan saat itu Katelijn sedang berada di rumah Willem. BERBAGI News – Ahmad tak mungkin menjelaskan ke mana tujuannya pergi bersama Cornelia. Ketika ia meminta ijin kepada Willem, ia terpaksa beralasan ke tempat familinya yang sedang begawe (pesta) di Mataram. Kebetulan saat itu Katelijn sedang berada di rumah Willem.

“Biarkan saja Cornelia ikut bantu-bantu, sekalian dia berkenalan dengan keluarga Ahmad,” kata janda cantik itu.

“Saya menginap satu-dua malam,” ucap Cornelia.

Willem akhirnya mengijinkan juga.

Di depan pintu, Rabiyah berpesan kepada keduanya. Pesan yang terdengar konyol. “Onyaq-onyaq, jagaq sak sekeq tie, Non (hati-hati, jaga yang satu itu, Non),” kemudian ia menatap Ahmad dengan tajam, “Awas, dendek macem-macem lek anakke (awas, jangan macam-macam pada anak saya).”

*

Cornelia ternyata diantar ke ruang rias. Ada delapan wanita melayaninya berganti pakaian, memasang perhiasan, dan merias wajahnya. Mereka bekerja cekatan dan sangat cepat. Lima menit kemudian ia ke luar, diantar menuju ruang yang jauh lebih luas dibanding ruangan pertama. Dari arah berlawanan barisan para gadis mengiringi seorang pemuda gagah yang mengenakan pakaian adat lengkap dengan keris dan sapuq (ikat kepala). Ia terpana ketika mengetahui pemuda itu ternyata Ahmad. Busana adat Sasak yang melekat di tubuhnya membuat ketampanannya terpancar ke seluruh aula. Cornelia terpukau. Ahmad begitu berkharisma, tampan rupawan laksana putra mahkota.

Ahmad sendiri, ketika melihat kemunculan dara Belanda itu, menghentikan langkahnya. Para pengiringnya ikut berhenti. Ia tertegun dan seperti tak percaya, wanita bergaun pengantin Eropa itu adalah gadis yang bersamanya beberapa menit yang lalu. Ia kembali melangkah mendekat. Cornelia dewi segala dewi. Cornelia bagaikan bidadari tercantik yang muncul dari gerbang surga. Para pengiring mempertemukan keduanya di tengah ruangan. Dua sejoli saling berpandangan, saling mengagumi dalam diam. Cornelia menatap wajah kekasihnya. Wajah teduh, namun sorot matanya seolah menembus dan memandang ke dalam dirinya, menambah denyut dan debaran di jantungnya. Pemuda itu tersenyum seperti saat pertama kali ia mengenalnya. Senyum lelaki yang untuk pertama kalinya mampu menggetarkan hatinya.

Seorang gadis membawa baki berlapis beludru merah. Di atasnya terdapat kotak kristal mungil yang di dalamnya terselip dua buah cincin.

Lalu terdengar suara lelaki pembawa acara meminta Ahmad memasang sebuah cincin di jemari Cornelia. Gadis itu ingat salah satu jari manisnya masih tersemat cincin yang diberikan Ahmad beberapa hari sebelumnya. Ia berikan tangan kanannya. Ahmad meloloskan cincin itu ke jari manisnya. Berikutnya gadis itu giliran memasang cincin di jari Ahmad. Tepuk tangan ribuan hadirin gegap gempita setelah prosesi itu. Sepasang kekasih itu kembali berpandangan. Terdengar lagi suara pembawa acara, meminta keduanya saling berpegangan tangan menuju kursi yang serupa dengan tempat pelaminan. Cornelia sendiri menganggap acara itu tak ubahnya perhelatan pernikahan, setidaknya pertunangan.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Satu)

“Kami memohon beribu maaf kepada Yang Mulia Tuan Ahmad dan kekasih beliau Nona Cornelia Doutzen. Kami barangkali terlalu lancang. Tapi tidak ada niat kami membuat Tuan dan Nona merasa tak nyaman. Kami begitu bergembira ketika mengetahui Tuan kami menemukan pasangannya. Sepasang manusia yang saling mencintai. Sebagai wujud kegembiraan kami, dengan sukarela dan penuh semangat menggelar acara ini. Apalagi jika bisa membuat hati Tuan dan Nona merasa senang dan bahagia. Sebab bahagia itu juga kebahagiaan bagi kami. Di puncak acara, kami ingin Nona Cornelia memberi nama taman dan istana persembahan ini.”

“Kita berikan nama apa?” tanya Cornelia setengah berbisik.

“Terserah kamu.”

“Kamu lihat saya terus dari tadi, kenapa?”

“Karena kamu begitu cantik.”

“Mana lebih cantik dengan gadis-gadis pengiring kamu tadi?” ia masih menyimpan kejengkelan itu.

“Menatap kecantikanmu, siapa pun akan terlupa bagaimana caranya membangun perasaan benci.”

Gadis itu tersipu. “Saya cantik, Ahmad, Benarkah? Berani sumpah?”

“Wanita tercantik yang terlihat indera dan mata hati saya. Demi langit, bumi, bulan, bintang, dan matahari.”

Dada gadis itu terasa sesak karena luapan bahagia. “Ahmad, kamu tadi memanggil saya Cinta.”

“Kamu suka?”

“Suka, Ahmad. Suka sekali.”

“Tapi Cornelia Doutzen kalau diterjemahkan artinya perempuan dengan keanggunan yang mewah. Nama yang sangat cocok untuk kamu. Saya tetap memanggilmu Cornelia. Saya panggil Cinta kalau kamu sedang marah. Sedang cemburu!”

“Cemburu kamu bilang?” tangan gadis itu siap menarik hidung Ahmad.

“Kita dilihat ribuan orang,” Ahmad menangkap tangan Cornelia.

“Biarin.”

“Ahmad, itu di panggung sebelah ada piano. Mirip sekali dengan piano saya.”

“Jangan-jangan itu memang pianomu. Saya ingin mendengar dentingan piano yang kamu mainkan.”

Seorang pria berstelan jas tampil di depan hadirin. Dari arah belakang dua orang wanita masing-masing membawa nampan besar berisi ratusan butir telur dan meletakkannya di atas kedua telapak tangan pria itu.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Empat Puluh Tiga)

Telur-telur itu perlahan-lahan meninggalkan nampan, melayang teratur lalu membentuk konfigurasi rangkaian huruf kapital yang tereja menjadi CORNELIA & AHMAD. Dari kejauhan akan nampak seperti nama yang ditulis di udara. Cornelia berseru kagum. Kekagumannya berlanjut ketika telur-telur yang membentuk huruf-huruf itu serentak terbelah. Dari dalam telur-telur terlontar benda beraneka warna, ketika menyentuh lantai berubah wujud menjadi sosok-sosok manusia. Bersamaan dengan itu terdengar alunan musik, komposi perpaduan musik lintas etnik bernuansa Eropa. Lalu tubuh-tubuh penjelmaan telur itu membuat gerakan koreografi dengan karakteristik berbagai jenis kebudayaan. Ada gerakan tarian Sasak, Samawa, Mbojo, Bali, Jawa, Bugis, Sunda, Minang, Aceh, Timur Tengah, Tiongkok, dan tarian Eropa mulai dari tango, flamenco, walz, ballet, hingga salsa.

“Musik dan tarian hebat yang mencerminkan dimensi kebudayaan global. Saya tak pernah menyaksikan pagelaran luar biasa ini,” kata Cornelia begitu takjub.

Benar-benar perhelatan yang terkemas apik. Segala atraksi yang digelar juga selaras dengan menu-menu makanan yang dihidangkan. Kuliner-kuliner nusantara dan mancanegara.

“Persembahan ini identik dengan Kota Ampenan,” kata Ahmad.

Cornelia menggamit lengan Ahmad. “Itu, inaq, Ahmad. Inaq Rabiyah. Cantik sekali dia,” kata gadis itu sambil menunjuk seorang penari berpakaian Suku Dayak.

“Banyak makhluk di alam ini yang mirip dengan manusia, atau dengan orang-orang yang kita kenal. Mereka bisa mengubah wujud menjadi apa saja.”

“Ada yang mirip dengan saya, Ahmad?”

“Tidak ada. Kamu adalah pengecualian.”

“Kenapa?”

“Karena kamu terlalu cantik. Sehingga mereka tak mampu mendupkasi kecantikanmu.”

Gadis itu kembali tersipu.

Pembawa acara mempersilakan pasangan itu kembali ke kamar rias untuk berganti busana. Ketika mereka kembali muncul, terdengar seruan-seruan penuh kagum. Jika tadi Cornelia tampil berbusana Eropa, kini di tubuhnya melekat pakaian adat Sasak. Ia menjelma menjadi gadis pribumi berparas cantik jelita. Sedangkan Ahmad menggunakan pakaian jas lengkap. Ketampanan yang tadinya bernuansa tradisional, kini berubah elegan dengan tetap dalam kewibawaannya.

“Dalam balutan pakaian Sasak, kamu bahkan nampak begitu indah natural. Kalau berbusana seperti ini saya memanggilmu Dende Cinta.”

Cornelia tersenyum sangat manis.

“Kamu terus memuji saya.”

Pembawa acara meminta hadirin tenang.

“Hadirin, gadis cantik, wanita jelita Cornelia Doutzen adalah pemain piano hebat di Eropa. Kita ingin mendengar permainan dahsyat pianis ini. Satu hal yang ingin kami sampaikan, piano ini adalah milik gadis rupawan ini yang kami bawa dari negerinya. Kepada Nona Cornelia, dipersilakan.”

Cornelia tertegun. Air matanya menitik. Ia mengusap-usap permukaan lid piano itu. Alat musik itulah yang dimainkannya sejak berusia empat tahun.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Tiga Puluh Enam)

Untuk pertama kalinya ia akan memainkan piano di hadapan lelaki yang dicintainya. Ia sudah terbiasa tampil di depan ribuan pengunjung. Tetapi kehadiran seorang Ahmad ternyata membuatnya tak fokus. Ia benar-benar gugup sehingga beberapa menit belum memulai menekan tuts. Akhirnya ia merasa lega begitu usai memainkan Nocturne Op. 9 No. 2 dari Frederic Francois Chopin. Aula gegap gempita dengan suitan dan tepuk tangan.

Cornelia hendak bangkit, kembali ke tempat duduknya semula. Tetapi ia tertegun ketika mendengar suara cukup merdu seorang lelaki menyanyikan sebuah lagu berbahasa Belanda. Lagu sentimentil yang termasuk baru dari Willy Derby berjudul Zie Aan Het Raam De Laatste Rozen Bloeien. Suara orang menyanyi itu persis di belakangnya. Jemarinya refleks menekan tuts, mengiringi lagu itu.

Stil is de zomer heengegaan,
Het lied der vogels is verstomd.
Men ziet nog schaarsch wat bloemen staan,
De donk’re winter komt.
Geen zonneschijn, noch vlinderspel,
Geen zomers blij gerucht ,
De wolken gaan zoo snel zoo snel,
Als schimmen door de lucht.

Zie aan het raam de laatste rozen bloeien,
Dorre blad’ren vallen van den boom,
Door de takken gaat de herfstwind loeien,
En verjaagt mijn laatste levensdroom.
Ik tel mijn eerste grijze haren,
Want de winter komt straks ook voor mij,
En ze vallen met de laatste blaren,
Jeugd en Lentetijd gaan eens voorbij.
Al het heden wordt verleden,
Jeugd en Lentetijd gaan eens voorbij.

Ik voel mij zoo melancholiek
En zoek naar een herinnering,
Een lach, een kus of wat muziek,
Van al wat henen ging.
Een zachte hand, die even dol,
Mij door mijn haren streelt.
Eén enkel hart, dat liefdevol,
Mijn winter met mij deelt.

Zie aan het raam de laatste rozen bloeien,
Dorre blad’ren vallen van den boom,
Door de takken gaat de herfstwind loeien,
En verjaagt mijn laatste levensdroom.
Ik tel mijn eerste grijze haren,
Want de winter komt straks ook voor mij,
En ze vallen met de laatste blaren,
Jeugd en Lentetijd gaan eens voorbij.
Al het heden wordt verleden,
Jeugd en Lentetijd gaan eens voorbij.

Lagu berakhir. Cornelia memainkan outro, ending musik. Lalu ia menoleh ke belakang. Betapa terperanjatnya ia ketika tahu pembawa lagu itu ternyata Ahmad! (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed