by

Noni Jembatan Ampenan (Bagian Lima Puluh Tujuh)

“Jangan pulang dulu, kata Non Lia. Di sini saja berbuka puasa,” kata Rabiyah kepada Ahmad.

Ketika memasuki Bulan Ramadhan, tempat bermain gasing tetap ramai. Bedanya hanya tidak terlihat satu pun pedagang yang biasanya sudah berdatangan sejak siang hari. Para lelaki selama satu dua jam menghabiskan waktu di tempat itu, menunggu saat berbuka tiba.

Beberapa menit menjelang maghrib, orang-orang meninggalkan arena. Tinggal Ahmad seorang diri di berugaq.

Cornelia dan Rabiyah datang membawa nampan penuh berisi makanan.

Ahmad memandang ke timur. Beberapa ekor ayam bertengger di dahan pohon mangga yang tak seberapa tinggi di pinggir Sungai Jangkok. Di arah barat matahari baru saja menghilang dari bawah garis cakrawala. “Sudah waktunya berbuka,” katanya.

“Bagaimana mengetahuinya?” Cornelia bertanya.

“Ketika burung-burung sudah kembali ke sarangnya. Lihat, ayam-ayam tetangga itu sudah naik tidur. Itulah waktu maghrib,” jawab Ahmad lalu nampak berdoa, setelah itu meneguk segelas air.

Cornelia menyendok nasi ke piring. Di atas nasi ia letakkan beberapa potong ikan goreng dan urap-urap daun singkong, dan memberikan piring itu kepada Ahmad.

Ketiganya mulai makan.

“Ahmad, Cornelia juga puasa,” ujar Rabiyah.

“Hah?” Ahmad tercengang, matanya bersinar-sinar. Ia tatap gadis di sebelahnya yang sedang menikmati makanan. “Kamu kuat? Tidak ada masalah?”

“Alhamdulillah!”

Ahmad semakin tercengang mendengar gadis itu mengucap syukur dengan fasih.

Ketika kedua wanita itu membereskan bekas makan, Ahmad shalat maghrib di berugaq. Setelah itu ia pamit hendak berangkat tarawih dan tadarusan di masjid Pejeruk.

“Ahmad, besok Inaq mau ke Lombok Tengah jenguk keluarga yang sakit. Sore baru balik. Minta tolong antar Non Lia ke pasar besok pagi,” kata Rabiyah.

Baca Juga :  Noni Jembatan Ampenan (Bagian Lima)

Ahmad mengeluarkan beberapa keping uang dari sakunya, memberikannya kepada wanita itu.

“Tidak usah, Ahmad. Non Lia sudah berikan inaq tadi.”

“Buat tambah beli obat atau oleh-oleh. Semoga keluarga itu cepat sembuh.”

*

Di Pasar Ampenan, Cornelia dan Ahmad jadi pusat perhatian. Sebagian bergumam mengagumi kecantikan gadis Belanda itu. Sebagian lagi berbisik-bisik membicarakan pasangan yang belum menikah itu.

“Piran jak merariq bajang kance noni tie (kapan akan kawin pemuda dan noni itu)?”

“Sang ngkah lebaran haji jage (mungkin selesai Idul Adha).”

“Cari apa, Non? Ini kangkung, antap (kacang panjang), dan kendokak, segar-segar, Non,” seorang wanita pedagang bakulan menawarkan sayuran jualannya.

“Ikan kembung, Non. Segar-segar juga niki (ini).”

“Non, tolang komak, tolang botor, antap ijo, kedele, jambah, silaq!”

“Bajo, teri, pindang tongkol, Non!”

“Jaje abuk, wajik, sari muke, kelepon, maiq-maiq (enak-enak), Non.”

“Pencok geranggang, silaq.”

“Pencok lendong.”

Pasar Ampenan riuh dengan seruan para pedagang kecil yang menawarkan dagangan mereka. Sebagian besar mereka adalah para janda. Mereka sama-sama tahu gadis dan pemuda itu memberikan sumbangan terbesar pada acara rowah beleq beberapa hari lalu.

Cornelia memilih-milih ikan dan sayuran-sayuran. Tapi ketika ia membayar tak satu pun dari mereka mau menerima uang yang diberikannya.

“Bagaimana ini, Ahmad? Mereka tak mau dibayar. Kasihan, bisa rugi mereka.”

“Terima saja. Mereka ikhlas memberikannya kepadamu.”

Saat keduanya telah pergi, pasar itu heboh. Pedagang-pedagang kecil itu terheran-heran ketika menemukan banyak keping mata uang di bakul kecil tempat menaruh uang mereka. Satu sama lain bertanya.

“Ye pasti pegawean Ahmad. Terimaq wah (itu pasti kerjaannya Ahmad. Terima sudah),” seru seorang pedagang mengatasi keriuhan pasar. (Buyung Sutan Muhlis/Bersambung)

News Feed