by

Brakkk! Motor Ngebut itu Terbanting setelah Dibacakan Rapalan Ahmad Tretetet

BERBAGI News – SUATU siang di Bulan Ramadhan di tahun 1980an, seorang pemuda ugal-ugalan di jalan raya kawasan Kekalik, Mataram. Ia mengendarai sepeda motor Yamaha RX King, kendaraan terlaju dan sangat bising, bolak-balik sambil merokok. “Sudah bikin onar, dia tidak puasa pula. Sungguh mengganggu,” kenang Muhammad Iqbal.

Saat itu Iqbal masih mahasiswa. Ia indekos di wilayah Kekalik. Merasa sangat terganggu, ia teringat sebuah rapalan. Terpikir pula, saatnya ia mencoba kehebatan sepotong ayat pendek yang diterimanya beberapa waktu lalu. “Setelah dibaca, saya mengedipkan mata. Begitu memang syaratnya sesuai yang diajarkan,” tutur Iqbal.

Baru sekian detik ayat dirapalkan, terdengar brakkkk, suara benda berat membentur aspal. Iqbal sendiri terkejut. Motor yang meraung-raung dalam kendali pemuda tak berpuasa itu, terbanting keras, jatuh telak menimpa tubuh pengendaranya.

“Saya sudah buktikan sendiri kemanjuran ayat itu. Tapi sejak kejadian itu, saya tidak pernah menggunakannya lagi,” ucap Iqbal, lelaki yang belakangan bekerja sebagai kepala pasar di Terara, Lombok Timur.

Ayat yang dirapalkan Iqbal adalah pemberian Datuk Syeikh TGH Ahmad Tretetet. Sebuah ayat untuk memberikan orang pelajaran, agar sadar kekhilafannya.

Sejak kecil Iqbal sering bersama Ahmad Tretetet. Menemani bepergian, atau kerap diminta memijat-memijat kaki sang wali karomah.

Iqbal memanggilnya wak, paman dalam bahasa Sasak, Lombok. Setelah ia melanjutkan pendidikan ke Mataram, ia masih sering menemui Ahmad Tretetet yang tinggal bersama saudara perempuannya di Karang Kelok, Monjok.

“Saat saya sambil memijit itulah, Wak mengajarkan saya beberapa ayat,” katanya.

Semua ayat pemberian Ahmad Tretetet pernah diujinya. Termasuk rapalan membuat sosok dilihat orang di mana-mana di waktu yang sama. “Sebelum dibaca harus diniatkan dulu, hendak berada di mana. Pertama kali saya mencoba waktu saya sedang Jum’atan di masjid Kelayu. Besoknya saya dengar orang-orang mengatakan ada melihat saya sedang shalat Jum’at di masjid Sambalia. Bahkan pernah dulu ada jamaah haji yang melihat saya berada di Mekah, padahal saya tidak ke mana-mana. Waktu itu saya masih berjualan jajan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kertas Coretan Magis Ahmad Tretetet

Menurut Iqbal, Ahmad Tretetet juga membekalinya rapalan yang paling sering dibacanya. Semacam ayat meminta petunjuk. “Kata Wak, kalau ingin bertemu beliau, baca salawat 111 kali. Panggil saya dengan sholawat. Pertama sholawat pada dirimu sendiri. Bersihkan dirimu dulu. Lalu bersholawat untuk para nabi. Terakhir kepada Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir dan paling utama, pesan beliau. Ini juga sudah saya buktikan berkali-kali,” ujarnya.

Kedekatan Iqbal dengan Ahmad Tretetet, tak pelak mengundang ketertarikan sejumlah kalangan. Orang-orang menganggapnya memiliki banyak mewarisi kekeramatan sang wali. Masih terang dalam ingatannya, sepeninggal Ahmad Tretetet, di tahun 1990an seseorang memintanya mengisi sebuah keris emas dengan sesuatu yang diturunkan Ahmad Tretetet, agar benda itu memiliki tuah. Ia ditawarkan uang sebesar Rp 25 juta untuk melakukannya.

Sholawat itu pula yang dibaca Iqbal, sebelum menyanggupi permintaan itu. “Lalu Wak muncul, beliau memarahi saya. Wak bilang itu haram. Kalau saya kerjakan, bisa berakibat kematian bagi saya sendiri. Wak menyuruh saya mengencingi keris itu,” tuturnya.

Boleh jadi, beberapa ayat yang diwariskan kepada Iqbal, adalah rapalan Ahmad Tretetet semasa hidupnya yang menjadi buah bibir masyarakat di Lombok hingga sekarang. Orang-orang menyaksikan peristiwa kebakaran, lantaran kehendak sang wali tidak terpenuhi. Atau penuturan tentang sosoknya yang sering muncul secara misterius di mana-mana. “Bahkan setelah beliau wafat, ada banyak yang mengaku melihat beliau berada di Medan, Bandung, Banten, dan lainnya,” kata Iqbal.

Belum lama berselang, Iqbal menemani serombongan peziarah di makam Ahmad Tretetet di pemakaman umum Karang Kelok. Beberapa di antara pengunjung itu berseru ketika melihat foto mendiang sang tokoh yang tergantung di dinding bangunan makam. “Mereka mengatakan sering bertemu sosok di foto itu berada di sebuah pasar di Banten. Saya bilang Wak sudah lama meninggal. Tapi mereka tetap ngotot,” lanjutnya.

Baca Juga :  Ludah Bertuah Sang Wali

Iqbal mencatat banyak hal misterius yang ia lihat dengan mata kepala sendiri baik ketika Ahmad Tretetet masih hidup ataupun setelah wafatnya. “Itulah tanda-tanda kewalian beliau yang bukan saya sendiri yang pernah menyaksikannya. Banyak pengakuan orang lain yang melihat sendiri kekaromahan beliau,” ungkap Iqbal yang berada di samping Ahmad Tretetet dua malam menjelang wafatnya. “Itu malam Selasa. Beliau sedang sakit keras, tapi masih bisa bicara dengan jelas. Wak bilang ada delapan bidadari dan dua malaikat sedang menjemput beliau. Saya tak paham. Lalu saya pulang ke tempat kos di Kekalik. Dua hari kemudian saya dengar di radio pengumuman beliau meninggal dunia. Saya menyesal tidak berada di sana,” ucap Iqbal.

Kamis pagi, 19 Desember 1985, RRI mengudarakan radiogram wafatnya sang Waliyullah. Dua malaikat dan delapan bidadari yang menjemput seperti dituturkan Iqbal, adalah isyarat orang suci itu akan pergi. Tetapi ia tak pernah mati di hati dan benak Iqbal. Juga bagi orang-orang yang pernah bersamanya walau bersua sesaat. Ia hidup dan terus hidup. Kisah tentangnya abadi, terus mengalir tak terpapar waktu. (Buyung Sutan Muhlis).

News Feed