by

Kisah Pemuda Fakir yang Dihajikan Ahmad Tretetet

BERBAGI News – ALMAGHFURLAH TGH Sibawaihi Mutawalli satu dari beberapa ulama masyhur di Pulau Lombok. Nama Pemimpin Pondok Pesantren Darul Aitam wal Masaqin ini semakin berkibar setelah mendirikan Yayasan Ampibhi, sebuah pamswakarsa yang memiliki ratusan ribu anggota. Sibawaihi sangat mengagumi Datuk Syeikh TGH Ahmad Tretetet.

Di sejumlah pengajian yang digelarnya, ia kerap menyebut kekaromahan ulama misterius itu tidak terlepas dari kecintaannya kepada sang Pencipta alam semesta dan seluruh isinya. Ia selalu menyebut nama Allah dalam setiap berbicara. Tanda kewalian sosok itu masih dapat disaksikan saat acara 9 hari wafatnya. Dalam setiap butir beras dari para pelayat yang terkumpul di acara itu tertulis Asma Allah. “Itu baru tuan guru,” kata Sibawaihi pada sebuah ceramahnya.

Sibawaihi mengisahkan tentang seorang pemuda miskin bernama Saleh, berasal dari Dusun Dasan Geres, Desa Aikdewa, Pringgasela, Lombok Timur. Lelaki ini memiliki majikan seorang hartawan di Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya. Tanpa disangka-sangka Saleh bertemu Ahmad Tretetet di suatu hari. Jika selama ini sang Waliyullah selalu menunjukkan kenyelenehan pada banyak orang, kali ini ia berbicara sungguh-sungguh.

“Kamu berangkat haji bersama saya,” tegas Ahmad Tretetet pada Saleh, seperti dituturkan TGH Sibawaihi.

“Bagaimana mungkin saya bisa berhaji, Tuan Guru?” Saleh terheran-heran.

Yang Saleh tahu, gelombang terakhir calon jamah haji telah tiba ke tanah suci. Salah satu jamaah adalah majikannya yang berangkat seminggu lalu. “Kamu berangkat haji. Haji! Allah! Sekarang dirikan tetaring (konstruksi dari bambu dan daun kelapa yang didirikan untuk perhelatan berbagai acara di Lombok – bahasa Sasak). Kita segera rowah (pesta) sekarang,” ujar Ahmad Tretetet.

Saleh termangu. Ia kebingungan. Tetapi ia tak berani membantah. Ia tahu sedang berhadapan dengan siapa. Tetapi hati kecilnya ragu. Bagaimana pula bisa menyelenggarakan pesta mengundang orang sekampung? Dari mana uangnya? Bahkan seumur hidup ia membanting tulang ia takkan pernah bisa menggelar rowah seperti dikatakan Ahmad Tretetet. Tetapi ia kerjakan juga perintah sang Datuk.

Baca Juga :  Sepenggal Kisah Ahmad Tretetet di Ujung Dermaga Ampenan

Begitu tetaring berdiri, entah siapa yang mengundang, warga berduyun-duyun ke kediaman Saleh. Segala bahan dan perlengkapan pesta berdatangan, mulai dari beras hingga segala macam bumbu. Entah dari mana pula seekor sapi tiba-tiba sudah ada di tempat perhelatan. Pesta sesungguhnya benar-benar terselenggara. Rowah taek (naik) haji, hajatan sebagaimana lazimnya diadakan setiap warga yang hendak menunaikan ibadah haji. Saleh kian tak mengerti. Di satu sisi ia benar-benar telah membuktikan kekeramatan sang tuan guru kontroversial, di sisi lain ia bertanya-tanya mengapa dirinya yang dipilih Ahmad Tretetet menerima sesuatu yang tidak terbayangkan seumur hidupnya. Ia menyadari ia hanya orang kecil. Syukur-syukur ia bisa mendapatkan nafkah dari upah menunggu kebun, penopang hidupnya yang sebatang kara.

Sehari setelah pesta digelar, Ahmad Tretetet muncul lagi. Ia benar-benar memenuhi janjinya. Saleh diminta mengikutinya di belakang. Ahmad Tretetet mengajaknya ke sebidang tanah yang ditamani pohon singkong. Ulama eksentrik ini mengingatkan Saleh agar tidak bercerita tentang pertemuan mereka pada kepada siapa pun. Di kebun singkong itu Ahmad Tretetet menyuruh Saleh memejamkan mata. Lagi-lagi sang Waliyullah menunjukkan kekaromahannya. Begitu Saleh membuka mata, keduanya telah tiba di tanah suci.

Pemuda lugu dari dusun yang tak pernah ke luar dari Pulau Lombok ini merasa seolah berada di alam mimpi. Dalam ketakjubannya, ia laksanakan juga seluruh tahapan ibadah rukun ke lima itu tanpa kendala. Ia sempat bertemu beberapa kali dengan majikannya. Tentu saja sang majikan terheran-heran melihat pesuruhnya itu bisa berada di tanah suci. Bermacam pertanyaan ia ajukan.

“Kamu datang dengan siapa?”

“Beribu maaf. Saya dilarang bercerita.”

Jawaban Saleh membuat majikannya semakin penasaran.

Seusai menunaikan ibadah haji, Saleh pulang melalui Madinah. Ia tiba di Lombok mendahului kontingen jemaah lainnya beberapa hari sebelumnya. Ketika sampai di kampung halamannya, Ahmad Tretetet memintanya mengenakan jubah lengkap dengan sorban lazimnya jamaah yang telah pulang berhaji.

Baca Juga :  Dia dari Silsilah Orang-orang Sakti

Saleh telah melaksanakan seluruh rukun haji. Tapi yang belum bisa ia terima, ia menunaikan ibadah itu tidak sebagaimana lazimnya, seperti orang-orang di kampungnya yang telah melaksanakannya.

“Apa kata orang-orang jika melihat saya yang duluan pulang, lalu mengenakan pakaian lengkap seorang haji?” Saleh bertanya dalam hati.

Tetapi di hadapannya Ahmad Tretetet menyerahkan jubah dan sorban kepadanya dan setengah memaksa memintanya memakainya. Kembali, Saleh tak bisa menolak. Dengan menahan malu ia kenakan juga pakaian pemberian Ahmad Tretetet.

“Kamu sekarang haji. Sahih. Allah! Haji. Mabrur, mabrur. Namamu Haji Muhammad Saleh sekarang,” kata Ahmad Tretetet.

Ahmad Tretetet meninggalkan Saleh yang berdiri lunglai setelah mengenakan pakaian hajinya. Sosok misterius itu tak menoleh lagi. Sepanjang jalan terdengar tawanya terkekeh-kekeh sambil mengucap kata-kata aneh. “Tretetet. Tretetet. Tretetet.”

Dugaan Saleh tidak meleset. Begitu ia sampai di kampung, para warga kasak-kusuk. Ia seketika dicap gila! Saleh, seorang fakir yang ternyata berobsesi menjadi orang kaya, mendadak tak waras lantaran kelewat berhayal. Demikian gosip yang beredar di dusunnya.

Beberapa hari kemudian rombongan jamaah haji yang menggunakan jalur resmi kembali ke tanah air. Majikan Saleh disambut warga dengan penuh sukacita. Orang-orang berdatangan mengucapkan selamat.

Di saat itulah para warga terhenyak mendengar cerita dari majikan Saleh.

“Saya bertemu Saleh di tanah suci. Kami sama-sama melaksanakan rukun haji. Tetapi dia tidak mau bercerita dengan siapa berangkat.”

Penuturan sang majikan serta-merta membuat para warga bungkam. Jadi, Saleh benar-benar haji? Bagaimana bisa? Nalar awam tentu tak mampu mencerna sesuatu yang terjadi di luar kelaziman. Tapi, saat itu juga nama Saleh menjadi sakral. Ia dianggap wali!

“Haji Muhammad Saleh ini dulu sering mengunjungi abah saya,” kata Sibawaihi.

Baca Juga :  Ludah Bertuah Sang Wali

Sejak Saleh dihajikan Ahmad Tretetet, kehidupannya berubah drastis. Ia menjadi orang terpandang di kampungnya. Lelaki lajang ini lalu mempersunting seorang gadis juga telah bergelar hajjah. Mereka hidup rukun dan bahagia sepanjang hayat. (Buyung Sutan Muhlis)

News Feed