by

Menggapai Karunia Allah Yang Berlimpah

-Agama, Ngaji-59 views

BERBAGI News – ALKISAH, Imam Hasan al-Basri kedatangan tiga kelompok tamu, guna mengadukan perihalnya masing-masing.

Kelompok pertama, mengadukan perihal kekeringan.
Kelompok kedua, perihal berkurang rezeki serta harta.
Kelompok ketiga, terakhir tentang belum adanya keturunan.

Imam al-Basri menjawab semua permohonan tersebut dengan surat Nuh ayat 10 sampai 12 yang memerintahkan kita untuk beristighfar atau memohon ampun kepada Allah SWT.

“Maka, aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.

Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan penuh berkah

Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai).” (QS. Nuh; 10-12).

Menurut ahli tafsir, bahwa ada empat keutamaan istighfar yang terkandung dalam tiga ayat di surat Nuh ini.

Pertama, orang yang rajin beristighfar tidak akan mengalami kekeringan. Allah SWT mengirimi mereka hujan yang lebat yang tidak menimbulkan banjir, tapi justru menambah sumber air dan menyuburkan tanaman.

Kedua, dengan beristighfar,
Allah SWT akan mengucuri banyak harta kepada kita.

Ketiga, Allah SWT akan memberikan keturunan yang saleh dan saleha sebagai qurrata a’yun.

Keempat, Allah SWT akan memberikan kepada kita kebun dan ada sungai di dalamnya serta pemandangan alam yang sangat indah.

Dengan demikian, beristighfar, dapat dipahami dengan sebuah alur logika sebab akibat yang kuat yaitu :

Pertama, beristighfar ‘memaksa’ kita untuk melakukan evaluasi dan instrospeksi dalam rangka untuk memperbaiki diri.

Faktanya, orang yang berani mengevaluasi diririnya, insya Allah, akan menemukan penyebab berbagai masalah. Tentu sekaligus bersama dengan solusinya.

Sebagai contoh, kekeringan terjadi mungkin akibat siklus ekologi yang terganggu.

Kondisi kesulitan harta, mungkin akibat kita belum maksimal mencarinya, kurang cerdas, atau prosesnya tidak halal.

Baca Juga :  Pengadilan Akhirat Saat Bersaksi Di Hadapan Allah

Belum hadirnya anak, mungkin kàrena adanya gangguan kesehatan, stres, atau faktor genetika.

Kedua, istighfar mengandung komitmen untuk berubah ke arah yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan.

Beristighfar mengundang komitmen untuk melaksanakan perbaikan dan mencoba sampai berhasil.

Para Ulama menyebutkan tiga rukun bertobat, yaitu penyesalan, berhenti dari kesalahan, dan berjanji sepenuh hati tidak akan mengulangi lagi.

Ibnu Qoyyim menambahkan lagi tentang muhasabah atau melakukan evaluasi sebagai bagian dari bertobat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa menggunakan filosofi tobat dalam mencari solusi, yakni evaluasi, komitmen, doa, dan istighfar (EKDI).

Akhirnya, insya Allah kita akan menemukan dan menggapai karunia Allah SWT yang berlimpah.

“Nashrum minallahi wa fathun qariib wa basysyiril mukminin.”

Wallahu a’lam bish shawab.

News Feed