by

Siklus Peradaban

-Agama, Ngaji-78 views

BERBAGI  News – DEMI MASA. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 1-3)

Surat Al-Ashr menyisakan kekaguman yang luar biasa di benak Imam Syafi’i, hingga ia berkata, “Kalau umat manusia merenungkan surat ini, pastilah dia mencukupi mereka.

“Mengapa demikian? Mari kita lihat dalam konteks siklus peradaban.

Dalam konteks itu, waktu Ashar adalah waktu di mana sebuah peradaban sedang tergelincir ke barat.

Dan di baratlah, matahari selalu tenggelam, lalu mentari peradaban pun terbit kembali dari arah timur di pagi hari.

Ada apa dengan waktu Ashar ? Waktu Ashar dalam konteks peradaban merupakan detik-detik yang menentukan.

Di waktu yang singkat ini, jarang ada peradaban yang bisa bertahan.

Masing-masing peradaban mengalami ketergelinciran menuju kegelapan malam yang menghanyutkan dan menghancurkan.

Faktanya, di pagi hari, manusia dalam kesegarannya, mereka bangkit menyiapkan berbagai pekerjaan produktif.

Di siang hari, hasil jerih payah itu mencapai puncaknya berupa produktivitas dan prestasi.

Masuklah waktu sore, manusia-manusia peradaban pun kelelahan, pulang kerja, meletakkan seluruh pekerjaannya, dan mengambil aktivitas santai hingga malam menjelang.

Lalu mereka tidur pulas waktu malam, hanya beberapa saja yang mempertahankan matanya tetap produktif.

Kejadian harian itu berlaku juga pada perjalanan sebuah peradaban.

Islam di awal (pagi) risalah Muhammad SAW merupakan masa-masa, yang menentukan produktivitas dengan gencarnya dakwah.

Prestasi sepiritual ini menjadi fondasi kegemilangan peradaban hingga abad pertengahan (siang) dijuluki dengan fase The Golden Age (Masa Keemasan).

Namun, pergiliran pun tidak terelakkan. Perjalanan peradaban Islam memasuki waktu Ashar, matahari peradaban bergulir ke Barat melalui Cordova di Spanyol, hingga mereka mencapai masa renaiissance.

Baca Juga :  Berbagi Itu Indah dan Penuh Kedamaian

Barat tercerahkan, sementara Islam mengalami kebuntuan kreativitas karena pintu ijtihad ditutup.

Masuklah malam. Peradaban Islam tak lagi tergelincir, melainkan tertidur. Ia tetap kelelahan, hanya sedikit pahlawan yang terbangun.

Jika pun mereka berteriak, tak ada suara menyahut. Senyap. Bahkan sunyi.

Dari siklus sejarah itu, lantas di “waktu peradaban” apakah kita saat ini ? Saat ini bukan waktu fajar peradaban, sebab fajar kebangkitan Islam sudah terjadi di abad ke-19 dan ke-20.

Kini kita berada di waktu Subuh, di mana kesadaran dan pertumbuhan spritualitas keislaman amat menggembirakan.

Imam Ali RA pernah ditanya, apakah sesuatu yang tidak punya paru-paru tapi bisa bernapas ? Dijawabnya,”Wash subhi idza tanaffas”, demi waktu Subuh ketika ia bernapas.

Nasrum Minallahi Wa Fathun Qariib Wabasysyiril Mu’minin.

Wallahu a’lam bish shawab.

News Feed