by

Belajar Dari Ulat Sutra

BERBAGI News – Sebagian orang merasa jijik melihat ulat dari segi bentuknya, ulat memang mejijikkan.

Padahal, ulat pada waktunya akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Sadarkah kita, kain sutra yang dipakai para pembesar, raja-raja, dan kaum bangsawan sebenarnya berasal dari tubuh mahkluk yang dianggap menjijikkan itu (ulat sutra).

Jika merenungkan ciptaan Allah SWT ini, setidaknya ada lima pelajaran yang dapat kita ambil darinya;

Pertama, janganlah kita cepat menilai seseorang dari lahirnya. Boleh jadi, orang yang tampak tidak berharta, tak memiliki jabatan justru menjadi kekasih Allah SWT. sebab, Allah SWT tidaklah memandang seseorang dari banyaknya harta dan penampilan, tapi dari amalan dan hatinya.

Kedua, setiap manusia hendaknya menghargai yang membantunya, sekecil apa pun peranannya.

Pemimpin perusahaan harus memperhatikan kesejahteraan pegawainya, meski pun ia hanya tukang sapu. Tidak semena-mena dan bersikap angkuh. Tanpa mereka, kita tidak dapat berbuat apa-apa, seorang majikan, bersikap baiklah pada pembantu, tanpanya kita tentu merasa kerepotan.

Ketiga, tidak memvonis manusia yang pernah berbuat salah. Kita harus berlapang hati. Sebab manusia yang bersalah, seiring dengan pergantian waktu dapat berubah menjadi baik. Seperti seekor ulat yang dapat berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Keempat, penciptaan ulat adalah wujud Keagungan dan Kemahakuasaan Allah SWT. Dari tubuh ulat yang hina itu, manusia bisa membuat pakaian yang indah, sehingga status sosialnya menjadi naik. Dari makhluk yang menjijikkan, taman-taman bunga menjadi makin indah

karena berhiaskan kupu-kupu yang berterbang an dengan aneka warna, bentuk, dan ukuran.

Kelima, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain.

Setiap manusia dilengkapi Allah SWT kelebihan yang dapat mengangkat derajatnya.

Baca Juga :  Ditengah Pandemi, ALS Foundation Qurban 3 Sapi dan 8 Kambing

Seperti ulat sutra, meski dia hanyalah seekor ulat, tapi karena mampu menghasilkan sesuatu yang berharga, manusia memeliharanya dan memuliakannya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata). Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

(QS. Ali Imran :190-191).

Nashrum Minallahi Wa Fathun Qariib Wa Basysyiril Mu’minin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : H. Aswan Nasution

News Feed