by

Menghargai Waktu

-Agama-109 views

Oleh: ASWAN NASUTION

BERBAGI News – Allah SWT menjadikan matahari bersinar, bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya tempat-tempat bagi perjalanan bulan.

Tiada lain agar kita mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Allah SWT menciptakan yang sedemikian itu bukan tanpa tujuan.

Terdapat banyak hikmah di balik tanda-tanda kekuasaan-Nya itu.

Di antaranya agar kita menghargai waktu. Caranya adalah dengan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.

“Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan.”(QS.Al-Baqarah; 148).

Kata ‘berlomba-lombalah’ pada ayat tersebut, mengandung arti agar kita menggunakan waktu seoptimal mungkin.

Semakin optimal menggunakan waktu, semakin banyak pula kebaikan yang kita perbuat.

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali Imran : 133).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan, bersegera menuju ampunan Tuhan berarti bersegera melakukan perbuatan yang dapat menutup dosa, yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Rasulullah SAW mengajarkan agar setiap Muslim menghargai waktu, utamanya waktu ‘sekarang’ karena waktu yang selalu tersedia bagi kesempatan itu ialah ‘sekarang’.
‘Sekarang’ adalah kesempatan yang terbaik.

“Apabila engkau berada pada petang hari, janganlah mengulur-ngulur urusanmu sampai besok.

Dan apabila engkau berada di pagi hari, jangan menunda urusanmu sampai petang hari.

Ambillah kesempatan waktu sehatmu sebelum datang sakit, dan kesempatan hidupmu sebelum mati.” (HR.Bukhari)

Dari sabda Rasullah SAW tadi, kita dapat memahami bahwa mengulur-ulur waktu, menunda pekerjaan,
dan menyia-nyiakan kesempatan sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam.

Kebiasaan mengulur waktu dan menunda kerja yang dilarang Rasulullah SAW itu jika diteruskan akan membuat umat Islam tertinggal dan lemah.

Baca Juga :  Dzikir Do'a Kenang Meninggalnya Walikota Pertama Kota Mataram

Muhammad Iqbal, seorang pujangga Muslim dari Pakistan, juga sering mengungkapkan dalam puisi-puisinya agar umat Islam bangkit dan menjahui sikap bermalas-malasan dan tidak menghargai waktu.

Karena barang siapa yang berleha-leha dan bermalas-malasan, maka dia akan ‘tergilas’

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW mengutamakan waktu seperti sebilah pedang.

Pedang merupakan sesuatu yang berguna sekaligus berbahaya.

Apabila kita tidak bisa menggunakannya, maka dia yang akan memotong kita.

Sejenak saja kita terlena dengan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang berarti di dalamnya, berarti kita tidak menghargai umur yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam bish shawab.

Nashrum minallahi wa fathun qariib wa basysyiril mukminin.

News Feed