by

Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

-Inspira-228 views

BERBAGI News – Rasulullah SAW menyebut kaum ibu di dalam rumah dengan “Qawa’idu Buyutikum”, yang artinya “tiang-tiang (tonggak) kehidupan rumah tangga”.

Karena seorang ibu adalah fondasi utama dalam membina keharmonisan dan keutuhan rumah tangga.

Seorang ibu dengan penuh kemuliaan, dan kesabaran merawat kandungan janin bayi.

Ini merupakan tugas yang sangat mulia bagi keluarga dan masyarakat.

Karena bayi tersebut merupakan makhluk Allah, yang akan menjadi Khalifah di muka bumi ini.

Tidak ada yang lebih mulia daripada tugas melahirkan seorang makhluk Allah SWT.

Kemudian merawat dan mendidiknya hingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Hal inilah yang dimaksudkan dalam hadits, bahwa seorang wanita harus menuruti suaminya, dalam arti merawat, mendidik anak, dan mengurus rumah tangga.

Sehingga si anak menjadi anak yang shaleh, berbakti kepada kedua orangtuanya, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.

Tanggungjawab seorang ibu tidaklah terputus dengan sekedar melahirkan seorang bayi saja.

Tetapi tanggungjawab tersebut terus berlanjut hingga dapat mengantarkan si anak mencapai pintu surga.

Inilah yang dimaksud dengan hadits, “Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”.

Jika seorang ibu dapat mengantarkan anak-anaknya untuk menggapai pintu surga, maka otomatis jaminan surga pulalah yang akan didapat sebagai imbalannya.

Dewasa ini, dengan segala kesibukan dan alasan, banyak kaum wanita dan ibu-ibu rumah tangga yang kurang memperhatikan tanggungjawab pendidikan tersebut.

Di karenakan mengejar karier dan prestise, hingga pendidikan anak terabaikan.

Si anak cukup diurus oleh asisten rumah tangga (pembantu), guru di sekolah, ataupun pergaulan kehidupan masyarakat.

Seakan-akan si anak hidup hanya dengan kebutuhan jasmani saja, sehingga mereka cukup dengan diberi makan, pakaian, kekayaan materi saja.

Baca Juga :  Salut! Penyandang Disabilitas ini Bertahan Hidup Dengan 80 Ribu Rupiah

Sedangkan jiwa dan imannya kosong dan hampa.

Kebahagiaan mereka hanya diukur dari mendapatkan gelar keserjanaan, mendapatkan pekerjaan, dan mempuyai rumah yang mewah, tanpa menghiraukan hidup mereka di waktu yang akan datang, yang kelak selama-lamanya.

Tugas utama seorang ibu adalah mendidik dan mengasuh anak-anaknya sehingga mereka dapat melaksanakan kandungan Al-Qur’an dan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.

Muhammad Iqbal berkata : “Seorang Muslim yang tidak menghargai wanita, berarti ia sama sekali tidak memperoleh hikmah dari Al-qur’an”.

Barang siapa mau merenungkan kata-kata ibu, pasti akan tampak baginya detail-detail hikmah yang terkandung di dalamnya.

Para ibu adalah pemelihara persaudaraan dan berdasarkan Al-Qur’an mereka kokoh dan tegak.

“Wahai ibu, engkau adalah kekuatan dan benteng agama. Dengan kelembutanmu, kami yang didik oleh awanmu yang jernih akan menutup gunung dan melipat pasir. Wahai ibu, engkaulah pemelihara hukum syariah, dan dalam nafasmulah kehidupan agama”.

“Wahai kaum ibu, hati-hatilah terhadap perkembangan zaman dalam perjalananmu. Dekaplah anak-anakmu. Jangan sampai pipit-pipit ini jauh dari sangkarnya, sebelum kuat sayap-sayapnya”.

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sampai harta bendamu, dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itu akan merugi”. (QS. Al Munafiqun : 9)

Inilah renungan agar kita selalu mendengar seruan Al-Qur’an.

Inilah sebuah renungan di Hari Ibu, 22 Desember 2020″.

Wallahu a’lam bish shawab.

News Feed