by

Belajar dari ETHIOPIA

-Opini-56 views

Oleh : Khairuddin Juraid

BERBAGI News – Apa yang terlintas dalam pikiran kita, tatkala mendengar ETHIOPIA ? Kemiskinan, Kelaparan, Pengangguran, kekerasan, perang saudara dan sederet persepsi negatif lainnya. Memori generasi saya tentang Ethiopia, terwakili dari penggalan lirik lagu yang diciptakan Iwan Fals.

“Selaksa do’a penjuru dunia
Mengapa tak ubah bencana
Menjerit Afrika
Mengerang Ethiopia”

Bencana kelaparan di Ethiopia,mengundang solidaritas global,termasuk Indonesia yang kala itu sedang menikmati booming pangan (beras). Melalui badan PBB FAO Indonesia mengirim bantuan 100rb ton gabah dan $ 25.000 tahun 1987. Kondisi tersebut tak berubah, hingga tahun 2000 masih menjadi negara termiskin ke 3 di dunia dengan pendapatan perkapita $ 350. Banyak kalangan menyimpulkan Ethiopia akan hilang sebagai negara.

Tapi itu dulu, situasi telah berubah, negeri tertua tersebut, kini menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi. Medio 2008 sampai 2017 pertumbuhan ekonomi Ethiopia rata-rata berada di atas 10 persen. Pada 2018 pertumbuhan ekonomi Ethiopia mencapai 8,5 persen, mengalahkan ekonomi tiongkok yang hanya tumbuh 6,5%.

Ekonomi Ethiopia tidak sebatas mengalami pertumbuhan, namun yang menakjubkan terjadi pemerataan secara luas. Menurut data Bank Dunia, Kemiskinan turun, tahun 2000 angka kemiskinan 44%, tahun 2011 menjadi 30% , dan tingkat harapan hidup naik, tahun 2000 usia 52 tahun, sejak 2017 naik menjadi 66 tahun, begitupun angka kematian bayi juga berkurang 50% selama periode tersebut.

Food Sustainability Index, menjadikannya sebagai negara adidaya pertanian dan ketahanan pangan, menempati urutan ke 12 di dunia, setingkat dibawah USA urutan ke 11. Saat yang sama, Indonesia dulunya negeri yang sukses swasembada pangan, kini menjadi negeri nett importir untuk beberapa komiditi pertanian. Bukti kesuksesan swasembada pangan, menjadikan daerah kita NTB dijuluki sebagai BUMI GORA.

Baca Juga :  Sabung Ayam Antara Keberkahan atau Penyakit Sosial

Apa sebab Ethiopia bisa maju ?

Ada beberapa musabab yang mendorong kemajuan Ethiopia. Tata kelola Pemerintahan yang baik,. Populasi usia Produktif, optimalisasi dan modernisasi sektor Pertanian, Sektor Jasa dsb.

Negara yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian 2019 ini, memiliki populasi usia produktif terbesar di benua hitam. Sekitar 70% dari 112juta penduduknya usia produktif. Berbekal jumlah penduduk terbesar kedua di Afrika dengan populasi usia produktif yang besar merupakan salah satu faktor yang mendorong kemajuan ekonomi Ethiopia. Inilah juga yang melatari perusahaan Indonesia berinvestasi di negeri yang menggunakan kalender Julian ini. Maka tak heran, Indomie dan Sabun B-29 yang dulu akrab ditelinga generasi baby boomers, sekarang amat populer di Ethiopia.

Saya mengamati, Provinsi NTB, bilkhusus, Kab Bima, memiliki potensi untuk tumbuh menjadi daerah yang maju. Jika beberapa hal dilakukan seperti layaknya Ethiopia. Mungkin kurang tepat membandingkannya dengan NTB dan Kab Bima. Namun ada beberapa kemiripan dari sisi populasi usia produktif dan sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB.

Berdasarkan data BPS sekitar 54 persen populasi Kabupaten Bima berusia 18-60 tahun. Usia produktif ini mengacu pada kriteria World Health Organization (WHO). Artinya Kab Bima sedang dan akan menikmati bonus demografi. Dimana jumlah usia produktif lebih banyak dari jumlah usia tidak produktif.

Sektor pertanian sebagai punggung pembanguan Ethiopia dan kab Bima. Seperti diketahui, sumbangan sektor pertanian terhadap PDB Ethiopia sekitar 40 persen, sebelumnya sekitar 80 persen, namun secara perlahan berkurang karena bergeser ke sektor jasa dan Industri. Sektor pertanian di Kab Bima, memberikan sumbangan terbesar terhadap PDRB yakni 43 persen.

Kisah pilu kelaparan di Ethiopia,tentu tidak pernah terjadi di Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Bima. Tapi ancaman seperti itu bisa saja terjadi, jika kita salah kelola. Oleh sebab itu, maka sudah saatnya kita berpikir dan bertindak maju dengan memanfaatkan potensi yang ada. Salah satunya memberikan afirmasi pada kaum muda usia produktif dengan memprioritaskan pembangunan sektor pertanian. Agar lalat-lalat tidak berdansa cha cha dan anak bayi tidak menangis ditetek ibunya.

Baca Juga :  Desa Terpencil, Guru Mengucil

Jagakarsa, 6 Juni 2021

News Feed