by

Keberadaan Covid-19 Ujian Hidup Untuk Manusia

-Religi-252 views

Oleh: Aswan Nasution

“Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan saja setelah mengatakan “Kami telah beriman” tanpa mereka diuji lagi?.”(QS. Al ‘Ankabuut: 2).

AYAT tersebut diatas nada pertanyaan-retoris, namun isinya mempermaklumkan yang sesungguhnya “peringatan keras” dari Allah SWT.

Artinya, barangsiapa yang telah menyatakan diri beriman akan diuji oleh-Nya terlebih dahulu. Hal itu merupakan keniscayaan, karena Allah tidak pernah ingkar ‘janji’.

Sebab, hanya dari hasil ujian itulah terbukti siapa yang dusta (pura-pura) akan keimanan verbalnya itu seperti pernah terjadi pada orang-orang terdahulu.

Ujian hidup dengan demikian amatlah signifikan dalam membedakan kadar keimanan manusia, mana yang hanya omongan dan mana yang esensial.

Pernyataan telah beriman, keimanan verbal, sungguh barulah tataran paling bawah dan awal proses pengimanan seseorang.

Ujian hiduplah yang kemudian memberi peluang apakah keimanannya akan terus berproses ataukah berhenti di situ (omongan) saja.

Setiap orang berhak memilih tataran mana yang akan ditempati yang mencerminkan kualitas dirinya.

Secara hakiki sebenarnya apa pun hal yang kita hadapi merupakan ujian hidup tanpa memandang mudah-sukar, besar-kecil, sedikit-banyaknya.

Namun kemudian orang menyederhanakan dengan membedakan antara ujian hidup yang menyenangkan; sesuai keinginan, dengan yang menyedihkan; tidak sesuai keinginan manusia.

Terhadap ujian yang menyenangkan, tidak sedikit orang yang tidak bisa lulus baik karena tidak tahu bahwa itulah ujian hidupnya maupun karena kenikmatan menjadikannya lupa diri (ghafilin).

Seharusnyalah orang tetap ingat akan hakikat kenikmatannya serta selalu bersyukur baik secara lisan, dalam hati, maupun lewat perbuatan. Itulah tanda-tanda lulus ujian hidup seseorang.

Jika ujian hidup yang menyedihkan kebanyakan orang menyadarinya, seperti berupa menyebarnya wabah COVID-19 yang berujung kepada kematian begitu cepatnya, kelaparan, krisis, kepanikan, ketakutan atau yang lain. Namun di sini pun tidak semua bisa lulus ujiannya.

Baca Juga :  Sederhana Bukan Berarti Miskin, Kaya Tetapi Tidak Mewah

Tidak sedikit yang bersikap menolak, tidak mampu menerimanya ataupun tidak bisa sabar, lantas mengambil jalan pintas yang salah dan berputus asa dengan rahmat Allah SWT.

Orang yang seperti ini akan mengalami degradasi keimanan. Sungguh tanpa ujian hidup, maka kualitas hidup manusia dan juga kualitas keimanan tidak akan meningkat.

Dengan kedatangan wabah Covid-19 ini, dapat menjadi pelajaran yang berharga dan menyadarkan kita semua, untuk memperbaiki hubungan kita kepada Allah SWT dan memperbaiki hubungan baik kepada sesama manusia lainnya.

Dengan adanya wabah Covid-19 ini, hendaknya kita dapat lebih dekat dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

Serta memperbanyak ibadah, bersedekah, berbagi dan peduli kepada sesama, dzikir, dan memperkuat doa’.

Akhirnya, mari kita perhatikan pesan Allah SWT dalam firman-Nya, sebagai berikut;

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Semoga….
Wallahu a’lam bish shawab.

News Feed