by

Memaknai Wisata dan Ibadah

-Religi-105 views

BERBAGI News – BAGAIMANA sikap seorang muslim terhadap kegiatan pariwisata yang terus-menerus digalakan?

Tentu saja yang harus menjadi pertimbangan sikap seorang muslim ialah berpartisipasi aktif, tetapi tidak terlepas dari norma-norma agama sehingga kegiatan pariwisata tetap bernilai ibadah.

Allah Subhana Wata’la berfiman: “Katakanlah, berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan makhluk (manusia dan alam sekitarnya)”. (QS. Al-Ankabut: 20).

Ahli tafsir menyebutkan, kata ‘syiru’ dalam ayat itu diterjemahkan berjalanlah, mengandung arti bahwa berpergian jauh ke suatu tempat yang dituju dianjurkan bagi mereka yang mampu dan memiliki kesempatan.

Jadi yang harus kita lakukan selama dalam perjalanan wisata selain yang diterangkan pada ayat tadi, tentu masih banyak lagi bentuk wisata lainnya.

Umpamanya melaksanakan ibadah umrah, dan tempat-tempat bersejarah Islam lainnya, adalah  dikategorikan juga wisata rohani (religi).

Itu semua justru untuk menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat serta meningkatkan iman dan taqwa, dan itu merupakan termasuk Ibadah.

Hendaknya pelaksanaan wisata harus berupaya menyebarkan salam sebagaimana diterangkan oleh Imam Bukhari dalam haditsnya: “Termasuk iman yang sempurna bila dapat mengumpulkan tiga macam perilaku yaitu insyaf, sadar terhadap keadaan diri dan mengeluarkan naf qah dalam keadaan serba kekurangan”.

Pergilah dan perhatikanlah alam semesta ciptaan Allah Subhana wata’la ini yang Maha Indah.

Sebarluaskan salam ke seluruh pelosok tempat wisata. Inilah wisata ibadah bagi setiap muslim, dan sebaiknya jauhi tempat-tempat wisata yang tidak sesuai dengan norma-norma agama.

Semoga bermanfaat…..

Wallahu a’lam bish shawab.

Barakallahu li walakum.

Baca Juga :  Puasa Membentuk Karakter Sosial

News Feed