by

Dari Balik Layar FFS#3: Belajar Mengelola Keresahan dan Menjadikannya Karya Dokumenter

BERBAGI News – Program Workshop Film Pendek Fiksi dan Dokumenter yang merupakan rangkaian dari Festival Film Sumbawa #3 sudah memasuki hari kedua (13/10/2021). Kali ini ada tiga bidang penting dalam ranah produksi film dokumenter yang dijadikan materi untuk disampaikan pada para peserta, yakni sesi Pengembangan Ide Cerita dan Riset, Penyutradaraaan, serta Manajemen Produksi Film Dokumenter.

Para pemateri adalah dokumenteris professional yang memiliki banyak pengalaman serta penghargaan atas karya film-filmnya antara lain Tonny Trimarsanto. Dokumenteris yang lahir di Klaten, 21 Oktober 1970 ini menyelesaikan studi Ilmu Politik di Universitas Sebelas Maret, dan menamatkan masternya di bidang film.  Tonny merupakan dokumenteris professional sekaligus staf pengajar Pasca Sarjana di ISI Surakarta dan Jogya Film Academy. Karya-karya filmnya banyak diputar dan memperoleh  penghargaan di berbagai festival film Internasional. Film “Bulu Mata”, meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2017 untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik. Ia juga aktif di Rumah dokumenter dan kini menjadi ketua Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN). Tonny berbagi pengalaman tentang bagaimana sebuah ide menjadi elemen yang sangat mendasar dalam pembuatan film dokumenter.

Selain Tonny, ada Dwi Sujanti Nugraheni atau biasa dipanggil Heni. Ia adalah sutradara dan produser film dokumenter dari Yogyakarta. Ia pernah belajar Ilmu Politik dan Sastra Jawa di UGM dan bekerja di beberapa LSM lokal maupun internasional. Dari tahun 2003 hingga 2013 ia mengorganisir Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta dan menjadi mentor workshop video untuk anak muda dan komunitas tuna rungu hingga kini. Ia pernah mendapat Artist Fellowship dari Asian Cultural Council New York pada tahun 2008. Ia menjalani magang di Appalshop/Appalachian Media Institute, Kentucky dan Women Make Movies, New York City tahun 2009. New York City pada tahun 2009. Pada tahun 2013 dia mendapatkan John Darling- Herb Feith Foundation Fellowship untuk menjalani kursus pasca sarjana untuk film etnografi di Departemen Antropologi, Australian National University. Dia memenangkan Piala Citra pada FFI 2013 untuk film dokumenter panjangnya “Denok & Gareng” dan memenangkan beberapa penghargaan film internasional untuk film itu. Film Panjang keduanya “Between the Devil and the Deep Blue Sea menjadi nominasi pada FFI 2020”.

Baca Juga :  Festival Film Sumbawa #3, Ismail Basbeth: Film yang Baik, Berawal dari Ide yang Keren

Pemateri sesi akhir diisi oleh Erlan Basri yang merupakan lulusan S2 (Pasca sarjana Institut Kesenian Jakarta). Ia pernah menjadi ketua tim perumus SKKNI bidang film dokumenter tahun 2019. Ia pernah menjadi asisten pengajar bidang film dokumenter di FFTV-IKJ sejak tahun 1998 hingga 2002. Sejak 2017 hingga sekarang menjadi pengajar bidang film dokumenter di FFTV-IKJ. Saat ini, ia menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN).

Ada beberapa catatan penting mengenai 3 bidang yang disampaikan oleh para pemateri. Dalam sesi pertama Tonny Trimarsanto dalam sesi Pengembangan Ide cerita dan Riset mengatakan “Sebagai filmmaker harus percaya dengan ide cerita yang dimiliki”.

Pada sesi kedua mengenai Penyutradaraan dalam Film Dokumenter yang disampaikan oleh DS. Nugraeni mengatakan “Salah satu hal mendasar dalam penyutradaraan film dokumenter adalah building trust dengan karakter/subject film”.

Kemudian di sesi akhir tentang Manajemen Produksi Film Dokumenter yang dijelaskan oleh Erlan Basri mengatakan “Dokumenter selalu menyuarakan kemanusaisan dan keadilan, karena itu ia memiliki nilai”.

Muhammad Ikhasnul salah satu pelajar dari SMAN 1 Sumbawa sangat berterima kasih pada pihak FFS yang telah mempertemukannya dengan filmmaker professional yang mengajarkan banyak pengetahuan tentang film.

“Semoga kedepannya kami bisa tahu cara membuat film yang bagus,” kata Ikhasnul.

Testimoni seperti itu membantu pihak penyelenggara untuk mengetahui sejauh mana capaian visi dan misi workshop terwujud.

Para peserta yang hadir merupakan pendaftar yang lolos dalam kategori seleksi Pengembangan Ide Cerita, namun workshop ini terbuka untuk umum sehingga perwakilan dari lintas SMA di Sumbawa Besar pun hadir sebagai observer. Kebanyakan dari mereka hadir untuk megumpulkan pundi-pundi ilmu pengetahuan mengenai film supaya mempermudah saat proses produksi film dimana film-film tersebut akan diikutkan dalam program Kompetisi Ide Cerita Film Pelajar Se-Kabupaten Sumbawa.

Baca Juga :  Seminar Nasional, Taufik Rahzen: Pemajuan Budaya melalui Disiplin Seni Visual

Konsep hybrid yang difasilitasi penyelenggara FFS#3 sangat membantu pelaksanaan workshop film. Sebab mereka yang tidak bisa hadir ke lokasi bisa tetap mengikuti workshop film ini melalui fasilitas zoom meeting yang disediakan oleh panitia Festival Film Sumbawa. Karena tidak sedikit peserta yang hadir melalui jalur online, bisa disimpulkan antusiasme masyarakat Sumbawa ternyata cukup tinggi.

Kegiatan workshop dilaksanakan cukup padat dan panjang, mulai dari pagi sampai menjelang malam dengan sesi break di siang dan sore hari. Namun para peserta masih semangat, terlebih lagi dalam sesi Tanya jawab dengan pemateri, tidak sedikit peserta banyak yang mengajukan pertanyaan sehingga siklus berbagai pengetahuan terjadi dengan baik. Tentunya melihat antusiasme peserta yang tinggi menjadi bagian harapan penyelengara Festival, sebab dari situ bisa dijakan sebuah tolak ukur bahwa ekosistem perfilman di Sumbawa masih memiliki potensi yang baik. (byu)

News Feed