by

“PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Satu)

-Sejarah-66 views

BERBAGI News – Kisah-kisah perang Lombok di tahun 1894 hampir seluruhnya ditulis dengan mengutip referensi Belanda. Seolah tanpa menggunakan catatan-catatan Wouter Cool, Alfons van der Kraan, atau WE Asbeek Brusse dan sejumlah dokumen di Leiden, ulasan yang dibuat bukan kesejarahan yang sahih tentang pulau ini.

Pada tulisan saya kali ini, saya mengangkat sudut pandang lain dari peristiwa yang mengakhiri kekuasaan Karangasem Bali di Lombok di akhir abad 19. Tulisan yang setidaknya sebagai pembanding, karena saya berusaha tidak hanya menggunakan data-data dari literatur yang disuguhkan Belanda.

Saya mengisahkan satu sosok orang asing bernama Vasily Panteleimonovich Malygin. Seorang insinyur pertambangan Rusia yang terlibat dalam pemberontakan anti-kolonial di Lombok. Di Rusia, nama ini begitu populer.

Koran-koran Belanda dan Inggris di abad ke-19, menyebutnya Marxis, petualang, bandit, mata-mata, pembuat onar di Hindia Belanda, dan pemberontak yang berbahaya dari Rusia. Nama Malygin atau sering disebut Maligan, juga ditemukan dalam memoar Konsulat Rusia di Batavia yang diterbitkan pada 1902.

Pada 1891 lelaki bermata kelabu, berwajah lebar, dan berjanggut merah ini berangkat dari Tiongkok menggunakan kapal dagang menuju Singapura. Sebelumnya ia telah berkelana ke beberapa tempat, di antaranya Vladivostok, Hankou, Fuzhou, dan Canton. Malygin fasih berbahasa Inggris, Belanda, dan Cina.

Di Singapura ia bertemu Cragley, seorang pria Inggris. “Saya mencari kebahagiaan di Tiongkok, tetapi itu membuat saya terlantar. Saya datang ke Singapura untuk mendapatkan pekerjaan di beberapa perusahaan minyak kaya,” terang Malygin.

Pertemanannya dengan Cragley membawanya tiba di Pulau Lombok. “Inilah yang Anda butuhkan. Pulau yang sangat kaya kandungan minyak. Jauh dari ibu kota, dan Belanda jarang berkunjung ke pulau ini. Jadi itu semua tergantung pada raja, dan tentu saja, pengaruhnya ada pada saya,” kata Craigley meyakinkan Malygin.

Malygin tiba di Lombok pada 1892. Ia ungkapkan perasaan senang dan kekagumannnya sejak tiba di pelabuhan Ampenan dalam beberapa catatan perjalanannya: “Lombok dikelola dengan sempurna. Sawahnya patut dicontoh, alamnya kaya raya,” tulisnya.

Baca Juga :  Presiden Soekarno bersama Pemain Film 3 Dara

Baru beberapa minggu berada di pulau ini ia dengan mudah akrab dengan penduduk setempat. Otaknya yang cerdik begitu cepat menyerap dan memahami cara berpikir para pembesar istana yang sangat menggandrungi dunia mistis. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang ahli supranatural.

Di depan Raja Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem ia mendemonstrasikan kemampuan gaibnya membakar air. Raja memerintahkan abdinya membawa wadah berisi air, di atas permukaannya terapung perahu kecil. Malygin perlahan mendekat dan membungkuk, komat-kamit mengucap kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti mereka yang hadir menyaksikan. Dengan diam-diam, dia melemparkan sepotong natrium ke dalam air. Api seketika menyala hebat di atas air dan membakar perahu, nampak seperti letusan gunung berapi.

Takjub sekaligus terkejut menyaksikan suatu keajaiban di depan matanya, sang raja berusia sepuh itu sampai menggigil dan sempat terjatuh. Sambil menahan tubuhnya yang gemetaran ia berseru, “Saya menunjuk Anda, Maligan, sebagai penasihat pertama dan orang kepercayaan saya,” tegasnya.

Duta Besar Rusia di Hindia Belanda saat itu dijabat MM Bakunin. Selain pekerjaan diplomatiknya, ia juga dikenal sebagai penulis buku, naskah drama, dan komedi. Desas-desus seorang penyihir Rusia yang muncul di Pulau Lombok, penuh misteri dan mukjizat, mampu melihat masa depan dan membakar air, sampai juga ke telinganya. Seorang lelaki bernama Maligan, orang asing yang sangat dihormati dan disegani penduduk setempat bahkan menjadi orang yang paling dekat dengan raja.

Tapi entah apa alasannya Bakunin menyebut lelaki itu Mr. Parygin dalam artikelnya di Historical Bulletin No. 3. 1900 berjudul Indonesia 1894: Siapa Penasihat Rusia untuk Raja Lombok. “Perawakannya agak pendek, jongkok, dengan wajah bekas cacar, dengan mata licik berkeliaran ke segala arah, gelisah dan bersemangat. Dia berbicara bahasa Rusia dengan buruk, dengan aksen Moldova dan sering merasa sulit untuk menyebut istilah-istilah Rusia,” tulisnya.

Baca Juga :  “PENYIHIR” Rusia di Perang Lombok (Bagian Tiga)

Bakunin juga menyinggung latar belakang pendidikan Maligan. “Dia menyamar sebagai insinyur pertambangan dan mengeksploitasi atau peduli tentang konsesi untuk pengembangan sumber daya alam di Tiongkok dan di tempat lain. Tapi Parygin tidak dapat membuktikan dirinya sebagai insinyur pertambangan dengan dokumen apa pun. Dia mencoba meyakinkan telah menyimpan semua dokumen, namun pada 1894 ketika dia tiba di Singapura, kertas-kertas miliknya kemungkinan dicuri oleh teman-teman Inggrisnya atau hilang dalam pelayaran kapal Pride of the Ocean saat kembali dari Pantai Bali,” lanjutnya.

Namun siapa pun Maligan, demikian Bakunin, pada dasarnya ia orang kulit putih, orang Eropa dan, dengan demikian, diakui, semata-mata berdasarkan asal Eropa-nya, sebagai jenius multilateral, cocok untuk segala sesuatu tanpa kecuali. “Parygin dengan demikian secara tak terduga, dipanggil oleh pangeran tua (Raja Anak Agung) sebagai penasihat, pemimpin politik, dan komandan militer (di Lombok),” ungkap Bakunin.

Raja selalu menerima masukan Malygin sebagai orang kepercayaannya. Sebut saja keputusan tidak menerima lagi pejabat Belanda yang datang ke Lombok untuk memungut upeti. Saran Maligan lainnya yang direalisasikan raja adalah mempersenjatai penduduk setempat.

Pada awal 1894, Bakunin mengirim pesan rahasia ke Kementerian Luar Negeri Rusia, tentang Raja Lombok yang tergesa-gesa membangun angkatan laut. “Raja membeli tiga atau empat kapal bobrok dengan harga yang sangat mahal di Singapura,” lapor Bakunin.

Raja Anak Agung memberi Malygin banyak uang, emas, dan perhiasan. Ia berangkat menuju Singapura untuk membeli mesiu, senjata, dan kuda. Di sana ia menemui Jonathan Holmes, dari Inggris, temannya dalam perjalanan saat pertama kali ke Singapura. Temannya yang sama-sama memimpikan menjadi kaya raya di Negeri Singapura yang makmur.

Baca Juga :  Simpang Lima Kota Tua Ampenan

Holmes mengeluh tentang kegagalan dalam bisnisnya. Malygin lalu menawarinya ke Lombok bersama, menceritakan secara terperinci tentang ladang minyak terkaya di pulau itu.

Orang Inggris itu dengan bantuan tiga teman senegaranya, Paige, Smiles, dan Norwegian Danielson, membeli senjata dan amunisi. Untuk membawanya Malygin menyewa sebuah kapal bernama Pride of the Ocean.

Larut malam, mereka mulai memuat senjata, mencoba melakukan segala sesuatu secara diam-diam. Tiba-tiba, keheningan malam terusik oleh suara keras yang menindas. Para serdadu Belanda muncul di kapal, seperti hantu. Rencana itu bocor. Holmes membisiki Malygin, itu ulah Craigley, teman mereka.

Kargo utama disita. Hanya sebagian kecil dari senjata yang dapat disembunyikan dengan aman. Holmes dan Malygin berdalih bahwa mereka akan pergi ke pantai Papua untuk mendapatkan mutiara. Mereka membutuhkan senjata untuk melindungi diri mereka dari bajak laut. Akhirnya beberapa jam kemudian mereka dibebaskan.

Holmes menyarankan Malygin berlayar bukan pada pagi hari, tetapi di sore hari, ketika puluhan kapal penangkap ikan akan datang ke pelabuhan, dan dalam kesibukan ini akan lebih leluasa berlayar tanpa pemantauan.

Pride of The Ocean tiba di Pantai Buleleng, Bali, setelah melewati badai kuat yang hampir menenggelamkan kapal. Malygin membeli beberapa ekor kuda dengan gerobak dari penduduk setempat untuk memuat peti berisi senjata dan bubuk mesiu. Holmes, Paige, dan Smiles mencari makanan, meninggalkan Danielson seorang diri. Saat itulah sejumlah prajurit Belanda datang lalu menangkap pria ini. Petugas menerima perintah untuk pencarian dan penahanan kapal mencurigakan yang memasuki perairan Sunda Kecil.

Tak ingin mengambil resiko yang bakal dihadapi menimpa kawan-kawannya lagi, Maligan memutuskan berangkat seorang diri ke Lombok. Ia membujuk tiga teman Inggrisnya kembali ke Singapura.

Malygin menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam perjalanan panjang yang melelahkan. Dan ia tidak tahu peristiwa mengerikan sedang terjadi di Lombok. (aliqro)

(Bersambung)…

News Feed