by

Konflik Sosial yang Terjadi di Kehidupan Masyarakat Modern dan Multikultural yang Ditinjau dari Masyarakat Pancasila

-Opini-46 views

BERBAGI News – Di era yang serba digital dan serba media sosial seperti saat ini, banyak informasi dan berita yang dapat kita peroleh dengan cepat, bahkan sampai pelosok Negeri pun kita dapat mengetahuinya, media menjadi salah satu alat penyambung lidah antara pemerintah dan rakyatnya.

Tetapi, dibalik kemudahan informasi dan berita yang kita peroleh sekarang ini, tak jarang pula kita menemui adanya hoaks dan provokasi. Hal tersebut terjadi karena ulah beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab yang membuat sebuah berita yang kebenarannya belum pasti dan berniat untuk memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia ini. Ujaran kebencian dan berbagai fitnah pun menyebar luas dan tak sedikit dari rakyat Indonesia yang menelan mentah-mentah berita yang tidak jelas dari mana asal-usulnya.

Sebagai generasi bangsa, generasi yang berpendidikan, dan generasi yang lebih modern masalah ini seharusnya menjadi pondasi bagi kita untuk berpikir dan bertindak. Kita dituntut untuk memahami dan menelaah segala sesuatu secara menyeluruh dan bukan setengah-setengah. Sikap dan tindakan apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi hal seperti ini ? Sebagai penerus bangsa, apakah kita akan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik dan maju ataukah akan mengalami kemunduran dan kemerosotan?

Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di kawasan Asia Tenggara, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ribuan pulau dengan keindahan khas yang dimiliki oleh setiap pulaunya, tercatat bahwa 17.504 adalah milik Indonesia, dengan 1.340 suku bangsa dan 546 bahasa serta 6 agama yang diakui di Indonesia. Inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman atau disebut juga multikultur. Namun, dibalik keanekaragaman tersebut tak sedikit pula ketimpangan atau konflik yang ada di masyarakat Indonesia, terlebih lagi mengenai suku, ras, dan agama.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Kemudian konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih atau kelompok, dimana salah satu pihak berusaha untuk menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuat tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat, jika konflik terkontrol maka akan menghasilkan integrasi, namun ketika integrasi tidak sempurna maka akan menyebabkan konflik.

Sebagai negara yang multikultur, sangat sulit memisahkan Indonesia dari berbagai macam persoalan yang menyangkut tentang perbedaan yang ada. Konflik sosial ini dapat disebabkan karena perbedaan individu, perbedaan latar belakang kebudayaan atau mereka masih bersifat kesukuan, dan perasaan mayoritas atas minoritas. Hal tersebut sudah menjadi penyakit lama yang hinggap dalam tubuh negeri ini dan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Terlebih lagi dengan budaya yang lahir dari kebiasaan jelek masyarakat Indonesia yang tidak gemar membaca dan menelaah maksud dari suatu berita atau memahami suatu masalah secara menyeluruh dapat memicu maraknya kasus provokasi.

Karakteristik masyarakat inilah yang memudahkan pelaku provokasi untuk menyebarkan berita palsu dan memecah belah persatuan negara ini. Apalagi di era yang serba digital ini, orang akan semakin mudah menerima informasi dan berita dari berbagai penjuru daerah. Jika karakteristik masyarakat tersebut tidak segera diperbaiki, maka kejahatan hoaks atau provokasi tersebut dapat mengganggu keamanan nasional dan merusak persatuan bangsa, serta cita-cita bangsa tidak akan terlaksanakan sebagaimana mestinya.

Konflik sosial yang terjadi di negara Indonesia ini sudah berlangsung sejak bertahun- tahun yang lalu. Namun, seiring perkembangan jaman dan teknologi, masalah ini tidak semakin berjalan kearah yang lebih baik, justru malah menjadi suatu ancaman besar bagi persatuan dan kesatuan serta keamanan bangsa ini. Berbagai permasalahan yang timbul dari dalam negeri dan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri.

Baca Juga :  Darurat Covid-19, Melahirkan Diktator atau Negarawan

Sebagai masyarakat yang memiliki berbagai keberagaman, seharusnya hal tersebut dapat menjadi motivasi kita untuk mengembangkan berbagai potensi yang ada di negeri ini untuk kemajuan bangsa Indonesia, terlebih lagi kita memiliki dasar negara Pancasila, yang dibentuk sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dan diharapkan mampu menjadi tolak ukur masyarakat Indonesia dalam bertingkah laku. Sudah berbagai konflik yang dihadapi bangsa Indonesia berkaitan dengan masalah agama, suku, dan ras. Hal tersebut seharusnya mampu menjadi pembelajaran bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia itu sendiri  dari Sabang sampai Merauke untuk berperilaku dan bertindak kearah yang lebih baik sesuai dengan cita-cita Pancasila dan pendiri bangsa Indonesia.

Jika kita melihat negara Indonesia dengan cermat, kita akan menemukan berbagai potensi yang dapat membangun dan memajukan bangsa Indonesia. Indonesia adalah negara yang memiliki lautan yang sangat luas sehingga menjadikannya sebagai negara maritim terbesar di dunia. Selain itu, negara Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Dengan jumlah penduduk yang besar dari berbagai latar belakang budaya, seharusnya dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul di setiap bidangnya.

Telaah Teori : Analisis Konflik Sosial Indonesia berdasarkan Pancasila

Rendahnya kesadaran dan sikap toleransi sebagai masyarakat multikultur adalah salah satu pemicu munculnya berbagai konflik sosial. Hal ini sama dengan teori yang dikemukakan oleh Emile Durkheim yang perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya pada masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme. Dan apalagi di masa sekarang ini banyak terdapat oknum yang ingin memecah belah persatuan negara Indonesia dengan cara memprovokator sejumlah komunitas yang berpengaruh bagi masyarakat, seperti contoh dengan melibatkan tokoh agama, tokoh budaya, dan tokoh politik. Provokator tersebut berusaha menggiring opini masyarakat Indonesia dengan cara menyebarkan hoaks atau berita palsu melalui media sosial, atau dapat juga dengan memberikan ujaran kebencian kepada pihak yang bersangkutan tanpa adanya tanggung jawab.

Usaha untuk membangun Indonesia yang multikultural hanya mungkin dapat terwujud apabila konsep multikultural menyebar luas dan dipahami pentingnya bagi bangsa Indonesia (Agustinus W. Dewantara, 2017:146).

Multikulturalitas budaya harus dikelola dengan baik, agar tidak menjadi sumber utama konflik dan perpecahan, ataupun timbulnya dominasi kelompok mayoritas atas minoritas. Tuntutan untuk saling menghargai dan memberi ruang bagi kelompok yang berbeda harus dikedepankan. Kesadaran akan pentingnya memahami masyarakat yang multikultur harus sudah dikembangkan sedari kecil.

Di Indonesia telah terjadi banyak kasus dikarenakan perbedaan budaya dan yang telah menyimpang dari Pancasila dan cita cita bangsa sebagai masyarakat yang multikultur.

1. Konflik yang terjadi antar umat beragama

Sudah bukan menjadi wacana bahwa Indonesia terdiri dari berbagai macam agama, sekarang ini terdapat 6 agama yang diakui di Indonesia. Tak jarang pula terdapat gesekan atau konflik yang terjadi diantaranya. Contoh konflik yang terjadi menyangkut perbedaan agama adalah konflik Ambon, yang mengaitkan antara agama Islam dan Nasrani. Konflik ini terjadi pada tahun 1999 dan jika kita amati sekarang ini masih terlihat adanya konflik yang terjadi antara umat muslim dengan umat nasrani di ambon, dan konflik tersebut dipicu karena kasus pemalakan yang dilakukan oleh dua orang Muslim kepada seorang Nasrani di Ambon. Lalu, konflik tersebut semakin menyebar karena isu-isu yang semakin berkembang yang mengakibatkan terbakarnya amarah kedua belah pihak agama, sehingga menyebabkan 12 orang tewas dan ratusan orang luka-luka.        

Baca Juga :  Tafsir Shalat Berjamaah di Masjid Saat Wabah

Kasus ini jelas sudah melenceng dari nilai-nilai Pancasila, khususnya pada:

Pada sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama, tentu saja mereka percaya kepada Tuhan dan setiap ajaran yang diajarkan tentu saja mengarah kepada kebaikan. Kasus diatas merupakan contoh kasus yang sangat tidak etis, mengapa ? karena memalak adalah perbuatan yang sudah melanggar dari ajaran agama yang dianutnya atau suatu bentuk ketidaktaatan kepada ajaran agamanya.

Pada sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Kasus ini menyimpang dari sila kedua karena merupakan suatu tindakan yang tidak manusiawi dan sangat merugikan orang lain terutama korban.

Pada sila ketiga: Persatuan Indonesia

Tentu saja kasus ini tidak sesuai dengan sila ketiga, dimana menjadi masyarakat yang berbeda kepercayaan kita seharusnya menjunjung tinggi kerukunan dan kedamaian, saling membantu dan hidup bergotong-royong. Juga, sikap yang harus dilakukan ketika kita mendapatkan isu tersebut adalah, masyarakat seharusnya menjadi media penengah antara kedua belah pihak, dan mencari akar permasalahan daripada membuat isu isu yang memprovokatori kedua belah pihak untuk berperang.

Pada sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Sebagai masyarakat yang berpancasila, ketika terjadi perselisihan antar dua belah pihak tidak seharusnya diselesaikan dengan kekerasan, sehingga hal tersebut menewaskan banyak orang yang tidak ada sangkut pautnya terhadap masalah utama. Hal ini tentunya sangat merugikan masyarakat dan keluarga korban khususnya. Seharusnya masalah ini dapat diselesaikan dengan cara baik dan tidak main hakim sendiri.

Pada sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Pada sila kelima ini, hukum di Indonesia seharusnya dapat berjalan dengan tegas, pelaku seharusnya sudah mendapat konsekuensi dari awal sejak perbuatannya, dan korban juga seharusnya mendapat perlindungan saat itu juga, sehingga masalah terselesaikan dengan baik dan tidak ada isu-isu yang merugikan masyarakat sekitar.

2. Konflik yang terjadi antar suku

Konflik antar suku di Indonesia sering terjadi seperti di papua, dimana Papua kembali panas. Suku Kimyal melakukan penyerangan kepada Suku Yali di Yahukimo, Papua. Akibatnya, 6 orang tewas dalam insiden tersebut, Minggu (3/9). Sementara untuk korban luka-luka dari sebelumnya tercatat hanya 10 orang. Kini bertambah menjadi 41 orang yang saat ini masih menjalani perawatan di RS Yahukimo. Untuk diketahui bahwa kejadian tersebut terjadi Pada hari Minggu 03 Oktober 2021 Pukul 12.45 Wit, terjadi penyerangan terhadap Masyarakat Suku Yali oleh kelompok masyarakat dari suku kimyal. Dimana massa Suku Kimyal yang dipimpin Kepala suku Kimyal Morome Keya Busup, dengan menggunakan 2 unit mobil minibus membawa alat tajam berupa busur panah dan parang mendatangi masyarakat suku Yali dan melakukan penyerangan. Identitas Pelakuan yang diduga berasal dari masyarakat Suku Kimyal. Sedangkan yang banyak menjadi korban adalah masyarakat Suku Yali. Barang bukti yang masih ada 1 bus yang digunakan pelaku untuk melakukan aksi penyerangan. Kepolisian telah melakukan langkah-langkah mendatangi TKP, melakukan TKP, melakukan kegiatan terhadap masyarakat dari Suku Yali yang menjadi korban aksi penyerangan ke RSUD Yahukimo, melakukan pendekataan terhadap para tokoh, melakukan penyelidikan dan penyidikan. Saat ini kasus tersebut telah ditangani oleh Polres Yahukimo.

Dalam kasus ini terdapat banyak pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila, khususnya pada:

Pada Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa

Penyerangan yang dilakukan suku kimyal terhadap suku Yali di yahukimo papua, merupakan tindakan yang sangat tidak etis dan tidak termasuk ke dalam sila pertama pancasila. Tindakan seperti membunuh dan melukai sesama manusia merupakan perbuatan yang melanggar dari ajaran agama yang dianutnya.

Baca Juga :  Budaya Sumbawa Dalam Balutan Sistem Hukum Nasional

Pada Sila kedua: Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

Penyerangan yang dilakukan oleh suku kimiyal terhadap suku yali di Yahukimo ini sangat tidak adil dan tidak memiliki nilai sebagai masyarakat Pancasila. Di dalam penyerangan tersebut memakan banyak sekali korban dari suku yali di Yahukimo,ini merupakan sebuah tindakan yang menunjukkan adanya ketidakadilan dan kemanusiaan.

Pada Sila ketiga: Persatuan Indonesia

Kasus tersebut yang melibatkan dua kelompok suku, Dimana massa Suku Kimyal yang dipimpin Kepala suku umum Kimyal Morome Keya Busup, dengan menggunakan 2 unit mobil minibus membawa alat tajam berupa busur panah dan parang mendatangi masyarakat suku Yali dan melakukan penyerangan. Dari kejadian ini dapat kita melihat bahwa tindakan seperti itu tidak sesuai dengan silakan pancasila yaitu persatuan Indonesia, dimana antar kedua suku aja saling menyakiti dan saling membunuh antar saudara dan setanah air sehingga disana belum tertanam rasa solidaritas dan keinginan bersatu.

Pada Sila keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Penyerangan yang dilakukan oleh suku kimyal terhadap suku yali di Yahukimo itu merupakan penyerangan yang sangat tidak baik karena didalam penyerangan tersebut banyak sekali memakan korban jiwa, dan meskipun pemberontakan itu di halangi oleh pihak sebagai penengah tetap penyerangan itu masih bisa dilakukan oleh suku kimyal terhadap suku yali di Yahukimo, dan meskipun negara kita ini negara pancasila tetapi mereka malah menyelesaikan masalahnya dengan cara yang lebih kejam. Dan masalah ini bisa dihindari apabila kedua pihak itu bisa membicarakan pokok permasalahannya dan mencari solusi dengan cara musyawarah makan permasalahan itu bisa di atasi dan tidak menelan korban jiwa.

 Pada Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Dalam sila ini memiliki arti bahwa masyarakat Indonesia harus bisa hidup dengan adil. Namun kenyataannya dalam hal tersebut, sebagai sesama rakyat Indonesia tidak ada praktek keadilan. Dari penyerangan tersebut tidak terlihat nilai pancasila silakan ke lima yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang di mana penyerangan itu menelan banyak sekali korban jiwa sehingga yang menjadi korban tersebut tidak mendapatkan keadilan yang sepenuhnya karena mati secara sia-sia yang disebabkan oleh permusuhan antara kedua suku yang ada di papua.

Indonesia adalah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Perbedaan ini seharusnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu cara untuk maju dalam dunia internasional. Tetapi dari uraian berbagai kasus diatas, banyak sekali penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, baik itu dari kaum awam maupun kaum terpelajar dan bahkan dari kaum yang bergelar.

Banyak kasus lain ditemukan yang berlandaskan agama maupun budaya. Mayoritas menindas minoritas. Kesamaan pemahaman diantara para ahli mengenai konsep multikulturalisme dan bangunan konsep-konsep yang mendukungnya amat diperlukan untuk dapat mewujudkan cita-cita ini (Agustinus W. Dewantara, 2017:146). Indonesia perlu melakukan gerakan yang besar untuk menghindari masalah atau pertengkaran antar sesama anak bangsa, sehingga bangsa Indonesia dapat mewujudkan nilai Pancasila dan cita-cita bangsa. Kerukunan dan kedamaian harus tercipta di dalam negara ini, sehingga negara Indonesia dapat menjadi contoh untuk negara lain.

Maka dari itu, diperlukan kesadaran yang mendalam dalam diri masyarakat Indonesia mengenai kesamaan hak dalam perbedaan latar belakang yang ada lah ini sama dengan isi teori yang dikemukakan oleh tokoh Emile Durkheim. Pendidikan multikultural harus sudah ada dan sudah ditanamkan sejak dini. Sehingga ketika kita para generasi harapan bangsa tumbuh menjadi orang yang memegang peran sangat penting untuk negara ini dapat kita laksanakan dengan baik dan penuh bertanggung jawab. (red).

News Feed