by

Kurikulum MBKM Kampus Merdeka, Peran Unram dalam Mengatasi Masalah Ketenagakerjaan di NTB

-Opini-446 views

BERBAGI News – Masalah pengangguran dan ketenagakerjaan merupakan masalah yang sulit sekali untuk diselesaikan, terutama di negara berkembang salah satunya adalah Indonesia. Ketika pemerintah mampu untuk memaksimalkan tenaga kerja dan menciptakan lapangan kerja akan sangat berdampak positif bagi pembangunan, begitupun sebaliknya ketika pemerintah tidak mampu untuk memaksimalkan potensi yang ada akan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Ketika pemerintah mampu mengelola tenaga kerja dengan baik tentu akan menjadi aset penting bagi suatu negara dalam pembangunan ekonomi.

Data world Bank 2013, jumlah angkatan kerja Indonesia merupakan yang terbesar keempat di dunia. Artinaya jumlah angkatan kerja terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. data   dari   BPS (2014)   angkatan   kerja   Indonesia   berjumlah 122.742.601 jiwa dan mengalami peningkatan menjadi 125.316.991 jiwa pada tahun 2014. Sedangkan BPS mencatat jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Febuarai 2020 sebanyak 137,97 juta orang, sementara pada waktu yang sama jumlah pengangguran bertambah 60.000 orang. (BPS, 2020). Ketika pemerintah tidak mampu memberdayakan angkatan kerja tentu akan tidak terserap oleh lapangan kerja dan menjadi pengangguran. Hal ini akan menjadi beban dalam pembangunan ekonomi. (BPS, 2020).

Untuk menciptakan lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja yang berkualitas pemerintah sangat berharap besar pada perguruan tinggi, namun pada kenyataanya masih belum bisa dimaksimalkan bahkan semakin bertambahmya jumlah pengangguran dari perguruan tinggi.

Perguruan tinggi merupakan tempat menciptakan angkatan kerja yang berkualitas yang diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat tidak hanya menjadi angkatan kerja namun juga bisa menjadi penyerap tenaga kerja baru. Namun kenyataanya perguruan tinggi juga menjadi kontributor masalah ketenagakerjaan.

Indonesia yang merupakan negara berkembang menjadi tempat banyaknya angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan termasuk lulusan perguruan tinggi yang menjadi kontributor angkatan kerja yang sangat melimpah namun tidak sesuai dengan jumlah lapangan pekerjaan yang ada, sehingga terjadi ketimpangan dalam dunia kerja.

Menurut Undang-Undang No. 13 Tahun 2003, ketenagakerjaan adalah segala sesuatu yang ada kaitannya dengan tenaga kerja baik itu sebelum, selama, dan sesudah kerja. Bisa disimpulkan, bahwa ketenagakerjaan adalah suatu hal yang menyangkut soal tenaga kerja dan hal-hal lain terlibat di dalamnya, seperti kesempatan kerja, gaji, kualitas kerja, pemenuhan hak pensiun, dan lain sebagainya. Semua itu secara tidak langsung menyatakan bahwa masalah ketenagakerjaan adalah suatu masalah yang terbilang kompleks dan harus ditangani secara serius oleh pemerintah dan kementerian yang secara khusus menangani soal ketenagakerjaan, yakni Kementerian Ketenagakerjaan.

Baca Juga :  Hanya 63% Masyarakat Sumbawa Taat Protokol Kesehatan

Sulitnya mengatasi masalah ketenagakerjaan harus ditangani secara khusus oleh pemerintah dan kementrian ketenagakerjaan. Hal ini desebabkan oleh kompleksnya masalah ketenagakerjaan mulai dari angkatan kerja, pengangguran, upah, dan masih banyak lagi hal-hal yang ditaur tentang ketenagakerjaan. Banyak daerah yang memiliki perguruan tinggi yang diharapkan menjadi pembuka lapangan kerja baru namun nyatanya masih sangat jauh dari harapan.

Salah satu wilayah yang memiliki masalah ketenagakerjaan adalah NTB (Nusa Tenggara Barat). jumlah pengangguran di tahun 2020 mengalami kenaikan, seperti tingkat pengangguran terbuka (TPT) meningkat sebesar 4,22 persen dibandingkan 2019 sebesar 3,28 persen. Sedangkan penyerapan tenaga kerja tahun 2020 menurun menjadi 95,67 persen dibanding 2019 sebesar 96,58 persen. Dan masih banyak keinginan wilayah NTB untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan seperti capaian kinerja penyelenggaraan bidang urusan tenaga kerja masih belum mencapai target.

Program Dinas Tenaga Kerja (Disnakertrans) untuk peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja, dari target 86 persen, yang teralisasi hanya 25 persen. Program pengawasan ketenagakerjaan, dari target 100 persen, realisasi hanya 75 persen. Kemudian program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja, dari target 91 persen, realisasi hanya 33 persen. “Bahkan peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja pada UPTD BLK NTB tidak dapat melaksanakan realisasi program. (radarlombok, 2021).

Oleh sebab itu sangat banyak program-program yang dibutuhkan guna memperbaiki kondisi yang ada seperti penguatan kemandirian daerah melalui pengutan peran tenaga kerja produktif, dukungan anggaran, sarana prasarana dan hal-hal penunjang lainnya.

Pengangguran terdidik merupakan masalah ketenagakerjaan yang sampai saat ini belum dapat terselesaikan oleh pemerintah, karena banyaknya lulusan-lulusan dari universitas belum terserap oleh lapangan pekerjaan, jumlah Angkatan kerja yang banyak menggambarkan bahwa lapangan pekerjaan sangat kurang, sehingga pemerintah perlu mengambil langkah yang tepat untuk menangani masalah kuantitas angkatan kerja, khususnya pengangguran terdidik. Kualitas angkatan kerja yang relatif rendah, kuantitas angkatan kerja yang banyak belum diimbangi dengan kualitas angkatan kerja yang rendah, persebaran tenaga kerja yang tidak merata. Indonesia merupakan negara yang memiliki luas wilayah sangat luas namun, banyak faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk salah satunya adalah faktor fsikologis. Sehingga dibutuhkannya solusi-solusi baru dan pasti untuk mengatasi permasalahan ketenagakerjaan ini.

Baca Juga :  Dampak Perubahan Iklim pada Perubahan Sosial di NTB, Bagaimana Pandangan Sosiologi?

Gagap keterampilan, pada zaman modern sekarang sangat banyak pengangguran dikarenakan masyarakat tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi, seperti tidak memiliki keterampilan yang khusus, gagap teknologi, hanya ingin menjadi tenaga kerja tanpa berfikir untuk membuka lapangan kerja.

Tidak adanya kreativitas usaha untuk membuka lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja yang sangat banyak. Hal ini disebabkan kerena mental masyarakat khususnya pengangguran terdidik tidak berani mengambil resiko untuk membuat usaha atau untuk menjadi wirausaha, karena alasan keterbatasan modal, tidak cukup ilmu, tidak terampil, dan lain sebagainya.

Kurikulum MBKM kampus merdeka merupakan salah satu solusi dari masalah pengangguran terdidik yang masih sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan, bahkan untuk para mahasiswa yang akan lulus dari perguruan tinggi, karena dalam kurikulum ini para mahasiswa bisa memilih mata kuliah di Fakultas yang berbeda tidak hanya itu para mahasiswa juga bisa belajar lintas Universitas sehingga bisa mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang berbeda. Pengimplementasian ini sangat memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan dunia Pendidikan yang bisa terus memberikan kontribusi bagi masyarakat khususnya untuk menciptakan lulusan yang kreatif dalam dunia wirausaha, sehingga mampu memberikan solusi baru dengan membuka lapangan pekerjaan.

Kurikulum MBKM kampus merdeka sebagai ajang edukasi bagi mahasiswa untuk mengenal dunia usaha dan lebih tertarik untuk menjadi wirausahawan dari sedini mungkin, dengan adanya kurikulum MBKM ini mampu untuk mencetak wirausahawan muda dan menghasilkan lapangan kerja baru untuk menyerap tenaga kerja.

Perguruan tinggi dan lembaga-lembaga kampus harus menjadi laboratorium dosen dan mahasiswa untuk melakukan pelatihan-pelatihan wirausaha. Seperti membuat kompetisi kewirausahan, PKM kewirausahaan dan tetap melakukan workshop dan pelatihan wirausaha. Program-program ini harus didukung penuh oleh semua pihak dengan menyediakan sumua fasilitas dan hal-hal penunjang lainnya, guna menumbuhkan jiwa-jiwa wirausahawan muda di setiap perguruan tinggi.

Baca Juga :  Peluang Industri Kecil Menengah di Masa Pandemi Covid-19

Salah satu perguruan tinggi di Indonesia yang sudah menerapkan kurikulum MBKM kampus merdeka adalah NTB yaitu Universitas Mataram (Unram).

Unram merupakan kampus terbesar di NTB dan sudah berstatus BLU, dalam beberapa tahun ini unram sudah menerapkan banyak program guna mengembangkan SDM mahasiswa yang berkualitas kususnya dalam memberikan program-program kewirausahaan dan sudah bisa dijadikan barometer dari perguruan tinggi lainnya di NTB.  Unram sudah melakukan pengembangan sesuai dengan statusnya yang sudah menjadi salah satu perguruan tinggi berstatus BLU serta sudah banyak belajar dari berbagai kampus yang berstatus BLU sehingga mampu beradaptasi secara maksimal.

Unram sudah mampu menyaingi bahkan lebih maju dari berbagai kampus lainnya dari berbagai aspek sehingga hal ini menjadi poin lebih bagi Unram, namun masih banyak lagi yang harus diperbaiki, baik itu dari tenaga pengajar, fasilitas, program-program yang dibuat dan lainnya.

Guna menunjang dan menciptakan mahasiswa yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi yang siap untuk menjadi pembuka lapangan pekerjaan maupun menjadi tenaga kerja professional di bidangnya. Ini bisa menjadi solusi baru bagi masalah ketenagakerjaan yang ada di Indonesia khususnya di NTB. Dengan memaksimalkan seluruh potensi yang ada serta didukung oleh semua pihak khususnya perguruan tinggai dan pemerintah. (ali)