by

Gunungsari: Keindahan Sebuah Karya Masterpiece

-Sejarah-441 views

BERBAGI News – Tentu banyak yang menduga bahwa foto ini diambil di Taman Mayura. Anda tidak salah jika berpikiran demikian, karena selama ini kolam dan bale kambang selalu identik dengan Taman Mayura. Ini terjadi karena anda dan juga masyarakat luas lainnya tidak pernah mengenal dan mengetahui Taman Gunungsari di era yang lalu, sebelum kehancurannya pada 1894.

Ya, foto yang anda lihat ini memang bukan foto Taman Mayura. Tetapi foto Taman Gunungsari.

Keindahan Taman Gunungsari bisa kita baca dari narasi yang disampaikan oleh beberapa peneliti asing yang pernah berkunjung kesana, seperti Heinrich Zollinger, Dokter Julius Karel Jacobs maupun Alfred Russel Wallace.

Heinrich Zollinger dalam The Island of Lombok yang dimuat dalam The Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol V Juni 1851, menyebut Gunung Sari sebagai Gunung Rata. Tempat ini berjarak 2 mil di sebelah utara Mataram.

Bagi anda yang paham dengan pembagian kluster/zonasi sebuah Puri tentu paham akan makna Gunung Rata ini. Bagi yang belum paham, suatu saat nanti akan kami sajikan zonasi Puri dan makna Gunung Rata.

Lebih lanjut Zollinger mendeskripsikan keindahan Gunung Rata, dengan taman indah dan luas, pesanggrahan tempat beristirahat, kawasan yang penuh rusa, kebun buah-buahan, pepohonan yang ditanam di lereng bukit. Semuanya adalah karya tangan manusia.

Dokter Julius Karel Jacobs dalam Eenigen tijd onder de Baliers (1883) juga berkisah tentang Gunung Sari atau Bukit Berbunga menurutnya. Dokter Jacobs menerangkan bahwa 400 meter di sebelah barat gerbang Mataram, jalanan dipotong oleh tembok atau partisi yang membentang dari utara ke selatan, atau dari Pagesangan ke Gunung Sari.

Dahulu lereng di Sungai Ancar maupun Sungai Jangkok yang dibuatkan udakan sehingga mudah dilalui. Persimpangan yang dimaksud Jacobs disini adalah perempatan Bank Indonesia saat ini.

Baca Juga :  Tentara Belanda Bermain Kecapi

Dokter Jacobs begitu terpesona oleh keindahan Gunungsari dan mengatakan tidak mungkin bisa melupakan keindahan panoramanya. Menurut Jacobs, tidak mungkin mampu rasanya melukiskan keindahan Gunungsari hanya dengan kata-kata.

Ketika tiba di gerbang Taman Gunungsari, akan terhampar lapangan yang luas dengan latar belakang pepohonan yang memenuhi lereng bukit. Di sebelah kiri ada bukit kecil yang ditutupi rerumputan.

Sementara di sebelah kanan terdapat beberapa bangunan kecil dengan corak Hindu. Di bagian tengah dari lapangan terbuka seluas 4000 meter persegi ini, terdapat 4 buah danau buatan yang di setiap keempat sudutnya terdapat patung besar.

Setiap danau dialiri oleh air yang keluar dari mulut buaya raksasa. Di tengah setiap danau yang berukuran 80 x 80 meter tersebut, terdapat pura yang indah dengan dikelilingi berbagai patung dan pancuran air.

Rimbunan pepohonan yang menjadi latar belakang dari panorama menakjubkan ini dihuni oleh ratusan rusa yang begitu jinak. Ini yang membuat para pengunjung lebih memilih menurunkan senjata mereka dan memilih menikmati keindahan yang mempesona ini.

Ketika tersadar dari keterpukauan akan keindahan panorama ini, begitu tulis Dokter Jacobs, kami mencoba mendekati bangunan kecil di sebelah kanan kami, yang dicapai dengan mendaki 20 atau 25 undakan batu. Di ujung undakan tersebut terhampar dataran luas di mana bangunan kecil tersebut berdiri.

Bangunan tersebut dipenuhi dengan patung dan ukiran yang indah. Kami memperkirakan ini adalah kamar peristirahatan raja.

Dari ketinggian tempat kami berdiri, terhampar pandangan yang menakjubkan di kejauhan. Seluruh wilayah Kerajaan Mataram dapat terlihat dengan jelas dari sini. Tiba-tiba saja kami merasa seperti berada dalam kisah 1001 malam.

Catatan lain tentang Gunung Sari datang dari Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago (1869). Walace datang ke Lombok pada 17 Juni1856.

Baca Juga :  Renungan, 20 Mei Sebagai Hari Kebangkitan Nasional

Dalam catatatannya, Wallace menceritakan bahwa setelah mendengar cerita tentang tempat tetirah raja yang bernama Gunung Sari, ia segera meminta ijin untuk mengunjungi dan mengumpulkan beberapa jenis burung. Raja pun mengijinkan.

Beberapa hari kemudian rombongan berangkat melewati Mataram, di mana Gusti Gde Oka ikut bergabung. Setelah berjalan 3 mil ke utara, mereka memasuki gerbang indah yang terbuat dari batu bata dengan hiasan patung batu.

Di baliknya ada dua buah kolam ikan dan beberapa pepohonan, lalu ada gerbang lagi yang menuju hamparan taman luas. Di sebelah kanan, di sebuah dataran yang agak tinggi, terdapat rumah bata bergaya bali.

Sementara di sebelah kiri terdapat kolam ikan yang sangat luas, di mana airnya mengalir melalui mulut patung buaya raksasa. Tepian kolam dibuat dengan pasangan bata. Sementara di tengahnya terdapat paviliun indah yang dihiasi dengan beraneka patung.

Kolam ini dipenuhi oleh ikan yang selalu muncul di pagi hari untuk diberi makan. Cara memanggil ikan-ikan ini adalah dengan memukul gong kayu yang tergantung disana.

Ketika gong kayu tersebut dipukul, tak hanya ikan yang bermunculan menghampiri kami, namun juga sejumlah rusa bermunculan dari balik pepohonan. Rusa-rusa jinak ini pun meminta diberi makan.

Sama seperti Dokter Jacobs, Wallace juga sangat terpesona dengan keindahan Gunung Sari. Wallace mengatakan tak pernah melihat tempat seindah Gunung Sari dan memuji selera seni dari orang-orang Mataram.

Kini, adakah keindahan yang masih tersisa? Jangankan keindahan, tempatnya saja tak banyak yang mengetahui.

Semoga satu waktu nanti, keindahan sebuah karya masterpiece ini dapat tertata kembali. (lhs)