by

Viral…!!!, Camping Samping Mobil

BERBAGI News – LAGI VIRAL obrolan tentang camping dengan berbagai model dan cara. Dari yang gratisan, ekonomis sampe kelas Glamping yang merogoh kocek bagi yang pas-pasan.

Sekilas cerita pengalaman pribadi, dari sisi saya sebagai penghobi. Hampir semua model camping sudah saya alami, dari yang ala pramuka dari SD-SMP-SMA, ala Pecinta Alam naik-naik gunung semasa kuliah, ala biker yang seruntulan kemana-mana dan gelar tenda dimanapun, ala pengungsian saat jadi relawan kebencanaan, ala stop-trucking untuk menumpang di truck, nyusurin perbukitan dan sungai cari tempat gratisan untuk sekedar bisa dipakai menggelar tenda, menginap sambil menikmati indahnya panorama alam. Dari model tenda pramuka yang tanpa alas, tenda dome, tenda komando, hanya dengan hammock dan sebagainya. Sempat juga sebelum nikah pernah Camping berduaan dengan modal seadanya.

Sekarang setelah berkeluarga dengan tiga anak dari mantan pacar, beberapa kali kami camping family, dan kemungkinan kedepannya akan lebih sering camping sebelah mobil bersama keluarga maupun dengan kawan-kawan komunitas, kolega MAPALA (Mantan Pecinta Alam), komunitas Camping Adventure Family, komunitas Campervan, bahkan dengan kolega pengurus IATTA (asosiasi adventure). Karena mungkin fasenya sudah beda, saat ini sudah bukan lagi piknik untuk nyenengin diri sendiri, tapi gimana bisa nyenengin keluarga dan bahagiakan pasangan, sekali jalan bisa banyak orang yang dibahagiakan. Pendek kata, kita liburan sambil kerja, dan kerja sambil liburan.

Camping deket mobil itu bukan karena takut mobil akan hilang atau terlalu sayang sama mobil, urusan mobil hilang itu sudah ada asuransi, toh mobil itu cuma titipan Tuhan, yang setiap saat bisa saja diambil entah oleh pencuri, kecelakaan, dan lain-lain. Hilang ya tinggal beli lagi, gak usah dibikin ribet. Kasarnya, Mobil orang yang ilang, kok malah situ yang ruwet? Di bawa santai saja, semua ada pelajaran dibalik kejadian.

Baca Juga :  Wisata Gumbang Ganang Lombok Timur

Balik ke laptop. Camping samping mobil itu merupakan trend wisata petualangan. Camping samping mobil lebih karena kemudahan saat membutuhkan barang ini itu yang kebetulan ada di mobil. Suatu saat pernah camping di salah satu Camping Site, Fasilitas, Wahana cukup lumayan, Bener-bener tertata dengan baik. Toilet banyak dan Free, Musholla mewah & Iconic, tempat sampah tersebar dimana-mana, hanya saja belum tersedia area Campervan alias Camping samping mobil. Meski lokasi parkir sudah paling dekat dengan lokasi tenda, jalan gak sampai lima menit, tapi ya tetep saja bikin repot naik turun tangga bawa barang seabreg. Loading dan prepare harus bolak balik, malem pas butuh sesuatu, balik lagi ke parkiran. Besoknya bubaran, bolak balik lagi masukin barang. Artinya, tempat yang sebaik dan sebagus itupun, masih susah, apalagi dengan Campsite atau Camping ground ala kadarnya.

Nah, di Lombok, saat ini marak dengan bertumbuhnya camping ground, namun banyak pengelola CG yang tidak terfikir sampe sini. Pokoknya yang penting ada lahan luas, udara sejuk, bisa liat bukit/kabut atau suasana lampu kota dari atas bukit, langsung deh bikin CG. tapi Fasilitas gak dicukupi, toilet masih terbatas, kesana-kesini jauh, calo-nya banyak, dll.

Rasanya banyak yang sepakat jika tempat paling aman menaruh barang adalah di mobil: laptop, kamera, drone, dll. bukan di tenda. Jikapun CG menyediakan loker, pasti lokernya juga jauh dan kapasitasnya juga terbatas.

Kalau camping samping mobil, barang berharga tinggal masukin kolong bangku/bagasi, lalu kunci dan kita semua bisa tenang main air lah, berenang lah, ke air terjun lah, jogging lah, senam lah, sholat Jamaah bareng peserta lain lah, ngobrol sama tenda sebelah lah, dll. Tapi kali camping dan mobil jauh diparkiran, mau gak mau salah satu gantian harus jaga tenda saat yang lain berenang misalnya, berarti tidak ada momen kebersamaan dong? atau yg harusnya bisa keliling bareng menikmati tempat wisata atau nyari makan di warung dll, gak bisa dong?

Baca Juga :  Wisata Gumbang Ganang Lombok Timur

Memang sebuah CG tidak harus bisa Camping samping mobil, ya gapapa, Pengelola cukup infokan saja karena segmen peminat kemping itu juga luas, gak semuanya segmen piknik keluarga itu bermobil. Tapi ada keluarga pemotor untuk camping samping motor, segi pemotornya sendiri juga ada yg solo trip, ada yang komunitas, ada yang klub motor.

itu berarti kami-kami bukan pangsa pasar CGnya tersebut, karena tidak tersedia area Campervan. Yang gak boleh itu, jangan sampe iklannya masif kesana sini, informasinya minim, giliran banyak yg dateng, jauh jauh dateng ke lokasi, malah banyak yang bikin kecewa karena diluar ekspektasi. dan biasanya “ya sudahlah, mau gimana lagi, balik lagi jauh …” dan akhirnya itu jadi kamping pertama dan terakhir di tempat tersebut, yang harusnya selama di CG bisa happy, ceria, malah diselingi gerutuan, dongkol, dsb  

Selain itu, Ada juga CG yg semuanya sudah siapkan pengelola, tidak boleh bawa tenda, kompor, makanan sendiri. hal ini boleh boleh saja. Karena mungkin target pasarnya mereka yang belum punya peralatan camping, supaya tidak ribet-ribet untuk beli/sewa di moment tertentu. Atau mereka yang tidak mau repot bawa-bawa, bongkar pasang tenda sendiri, itu juga sah sah saja.

Enaknya CG tipe ini, pengunjung cukup bawa badan dan uang, karena semua sudah disediakan. Tenda, matras, Selimut/sleeping bag, termasuk makan minum sudah disediakan. Bahkan kelas Glamping bisa menjadi pilihan. Minusnya, mau makan harus menunggu jadwal makan berikutnya, mau ngemil gak ada makanan/cemilan, tengah malem mau ngeteh/ngopi jatah kopi udah habis, nunggu jatah kopi besoknya/sarapan, atau pas malem-malem anak minta susu gada air panas, dst.

Kesimpulannya, semua pengelola CG bebas menentukan konsep, aturan & target pasar CG-nya masing-masing, itu hak mereka. Tinggal Informasikanlah sedetil-detilnya. Jadi calon pengunjung tinggal memilih mau kemping di tempat A, B atau C. Sesuai dengan seleranya masing-masing.

Baca Juga :  Wisata Gumbang Ganang Lombok Timur

Tahun ini Lombok menjadi perhelatan Event MotoGP Mandalika 2022, otomatis akan kedatangan komunitas CamperVan (CVI) yang notabene tidak lagi butuh transportasi dan akomodasi, termasuk juga dari komunitas Bikers bahkan komunitas penghobi camping lainnya. Dan hal ini merupakan fakta atas paradigma post modern tourism. Kehadiran mereka, mungkin akan rendah untuk penggunaan fasilitas transportasi dan akomodasi, namun disisi lain nilai belanja konsumsi dan wisata mereka cukup signifikan, selama dipersiapkan dengan paket wisata anti-mainstream, yang cenderung sebagai alternatif wisata konvensional, tidak menutup peluang mereka akan membeli. Semisal sport tourism, nature tourism dan culture tourism, agaknya mereka merupakan ceruk pasar yang sangat menjanjikan dan marketable.

Saat ini Indonesia Adventure Travel Trade Assosiation (IATTA) NTB bekerjasama dengan komunitas CamperVan Indonesia (CVI) tengah merencanakan hadirnya area Camper Park alias tempat Camping samping Mobil. Lokasinya di atas bukit eksotik dengan pemandangan pantai putih nan cantik. Kita bisa berenang dengan aman karena sedikit alun ombaknya. Bahkan bisa beraktifitas seperti snorkling, diving, kayaking, banana boat dll, menjadi psket sport tourism. Di Camper Park ini kita bisa nikmati sunset, sore hari dan di kejauhan akan nampak Gunung Rinjani. Bahkan ada juga wisata edukasi menamam dan memanen rumput laut. Semoga fasiltas pendukung dapat disegerakan untuk kenyamanan selama di lokasi.   

Kita jangan menghakimi cara orang lain dalam mencari dan menemukan kebahagiaan mereka. Mereka adalah tamu kita bersama yang harus disambut dengan keramah-tamahan kita. Jangan menyamaratakan cara orang lain dalam mensyukuri nikmat Tuhan. Semoga Camper Park ini menjadi solusi menyambut kehadiran komunitas mereka. (SR).

News Feed