Sunat Adat Bayan: Kombinasi Tradisional dan Modern

BERBAGI News – Sunat merupakan tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan penis. Istilah lainnya sering juga disebut sebagai khitan, sedangan dalam istilah medis disebut sebagai sirkumsisi.

Sunat telah ditemukan pada zaman prasejarah dan merupakan hal wajib bagi anak laki-laki yang beragama Islam dan yahudi. Ditengah perkembangan teknologi dan modernisasi, sunatan tradisional masih banyak dilakukan di berbagai daerah.

Salah satu daerah yang masih melakukan sunatan secara tradisional yaitu sunat adat di Bayan, Lombok Utara.

Dalam hal ini, sunatan dilakukan oleh orang terpilih yang dilihat dari silsilah garis keturunan orang yang biasa melakukan sunatan sejak dahulu. Selain itu juga didampingi oleh tenaga kesehatan professional. Namun, peralatan yang digunakan dalam melakukan sunatan masih dilakukan dengan alat-alat tradisional. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya komplikasi yang timbul akibat proses sunatan yang dilakukan dengan alat-alat tradisional.

Eksistensi sunat adat yang masih terjaga sampai saat ini di Bayan, Lombok Utara juga menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk menyaksikan secara langsung prosesi adat sunatan ini. Sehingga banyak menarik wisatawan luar negeri maupun dalam negeri untuk mengikuti prosesi adat sunatan di Desa Bayan (Bayan Beleq).

Dalam prosesnya didatangkan Gendang Belek untuk meramaikan berlangsungnya kegiatan. Selain itu juga dilakukan arak-arakan untuk anak-anak yang akan sunat. Mereka menggunakan baju adat dan di rias sedemikan rupa untuk mengikuti prosesi yang akan dilakukan.

Prosesi sunat adat ini biasanya dilakukan secara bersamaan yang diikuti oleh beberapa anak yang akan di sunat. Yang mengikuti sunat adat ini biasanya hingga belasan anak. Pada dasarnya sunatan adat di Bayan tidak memperbolehkan anak yang akan disunat terhitung ganjil, jika ganjil maka hasil genapnya akan digantikan oleh telur ayam kampung.

Baca Juga :  Tradisi Malean Sampi, Ajang Silaturrahim dan Keakraban

Kitanan pun dilakukan secara berurutan mulai dari anak yang miliki keturunan dari orang tua yang paling besar sampai yang paling kecil. Sehingga banyak sesembahan untuk para tamu yang hadir baik itu jajanan dan makanan, berupa daging sapi, kambing, serta ayam yang disembelih untuk dihidangkan kepada para tamu.

Sebelum kegiatan sunat adat dilakukan, yang bersangkutan melakukan ziarah terlebih dahulu, ziarah ke makam-makam para leluhur atau tetua. Artinya, sunat yang dilakukan oleh masyarakat di Bayan, Lombok Utara lebih banyak dilakukan karena alasan budaya dan sosialnya daripada alasan kesehatan.

Dalam proses adatnya anak yang akan disunat wajib bekerem (berendam di air dingin) hal ini di maksudkan agar kulit luar kemaluan anak yang akan disunat mengembang sehingga tekstur kulit tidak terlalu keras, dan memudahkan dalam proses penyunatan atau khitanan. Proses selanjutnya akan ditangani oleh tenaga medis untuk membersihkan dan merapikan sunatan.

Berbeda dengan zaman dahulu yang masih dilakukan secara tradisional seluruhnya, saat ini mengkombinasikan antara tenaga medis tradisonal dan professional. Seiring dengan perkembangan teknologi dan modernisasi ternyata masyarakat masih menggunakan dan memanfaatkan alat-alat tradisional dalam proses sunatan. Namun juga mengkombinasikan dengan tenaga medis professional untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini tentu menjadi hal yang baik secara budaya, sosial dan kesehatan.

Dalam perspektif teori fungsional struktural Durkheim ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain.

Adapun definisi menurut beberapa pakar, yang pertama Geoge Ritzer berpendapat bahwa masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri dari beberapa bagian-bagian atau elemen yang mempunyai kaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain.

Baca Juga :  Akhirnya, Baiq Gita Lombok Juara KDI 2020

Sedangkan menurut Talcott Parsons bahwa semua lembaga yang ada pada hakekatnya adalah suatu sistem dan lembaga tersebut akan melaksanakan fungsi dasarnya.

Maka dapat kita kaitkan dan mendefiniskan letak keserasian antara teori structural fungsional dengan kasus diatas yang dimana terdapat struktur-struktur yang berkerja sama dengan baik dan saling membutuhkan sehingga munculnya kestabilan, struktur diantara Anak Penyunat dengan perawat dan begitu juga sebaliknya jika struktur-struktur tersebut tidak berjalan dengan baik maka akan merusak tatanan yang sudah ada. (*)

Penulis : Chika Ifranti
Mahasiswa Peminat Kajian Sosiologi Kesehatan Universitas Mataram