Puasa Momentum Mengasah dan Mengasuh Jiwa Manusia

Religi366 Views

BERBAGI News – “Puasa tidak saja bermakna kepatuhan pribadi kepada Khalik, tetapi ia juga bermakna kepatuhan sosial kepada sesama umat manusia.” [Ulama].

PUASA atau shiyam dalam bahasa Al-Qur’an berarti “menahan diri”. Ibadah puasa di lakukan di bulan Ramadhan, maka ibadah puasa disebut juga sebagai Ramadhan.

Ramadhan ditinjau dari makna generik [dasar]-nya berarti “membakar” atau “mengasah”. Dinamai demikian, menurut M. Quraish Shihab [Lentera Hati, 1998, hlm. 170].

Karena pada bulan ini semua dosa manusia menjadi pupus habis dibakar, akibat kesadaran dan amal salehnya.

Juga, karena bulan tersebut dijadikan sebagai momentum untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.

Bulan Ramadhan sering diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.

Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya.

Bagi yang lalai, tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna dan tak ada manfaatnya.

Di dalam bulan mulia ini, Nabi Saw menganjurkan agar kaum Muslimin selalu mengadakan instrospeksi diri, agar apa yang salah di masa sebelas bulan lalu dapat dimohonkan ampunan di satu bulan ini, dan apa yang baik di masa sebelas bulan dapat ditingkatkan dan dimantapkan kembali di satu bulan ini.

Dengan mengerjakan apa yang baik dan “mengurangi” apa yang buruk, diharapkan “cahaya Iman” yang mungkin sebelas bulan lalu meredup, bisa bersinar kembali.

Dalam istilah sehari-hari dikatakan, “membenahi” yang berkurang dan mengurangi yang berlebih” adalah pekerjaan manusia cerdas.

Puasa tidak saja bermakna kepatuhan pribadi kepada sang Khalik, tetapi ia juga bermakna kepatuhan sosial kepada sesama umat manusia.

Kepatuhan sosial diberikan tatkala seseorang merasakan lapar dan dahaga, di sana dia “belajar” merasakan derita jasmani yang setiap hari dinikmati oleh mereka yang tak berpunya.

Baca Juga :  Langit Tak Akan Pernah Menurunkan Hujan Emas

Puasa pula yang mampu membunyikan lonceng kematian bagi segenap keangkuhan pribadi tatkala seseorang merasakan ia telah “lebih” dari sesamanya, maka sebenarnya ia sedang berperang melawan dirinya sendiri [jihadul akbar].

Aallahu a’lam bis shawab.