by

Lantunan Takbir “Allahu Akbar” Berkumandang

-Religi-103 views
  Oleh: Aswan Nasution

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.” [QS. Al-Baqarah: 185].

APABILA Ramadhan telah sampai pada akhirnya, maka ia sungguh telah menyampaikan aneka pelajaran dan peringatan kepada hati orang-orang yang beriman.

Bulan suci yang merupakan bongkahan dari usia kita tersebut, akan juga habis sebagaimana usia kita pun akan habis. Ketika itu akan ada banyak kaum yang berbahagia dan akan ada banyak kaum lainnya yang akan menyesal, padahal sudah sangat terlambat untuk menyesal.

Orang-orang yang akan bahagia di akhir Ramadhan, atau di akhir usia, adalah orang-orang yang mendapatkan hadiah keridhaan dari Ar-Rabb Ar-Rahman [Allah SWT].

Idul Fithri adalah satu simbol Islam. Pada hari itu anak muda dan orang tua, serta semua orang berbagi kesenangan, apakah mereka puasa atau tidak, apakah mereka shalat atau tidak, bahkan mereka yang tidak beriman pun ikut bersuka dalam suasana Idul Fithri.

Perayaan itu membawa kebahagiaan, kesentausaan dan kesembuhan serta keriangan. Umat Islam sangat ceria dan senang, di mana-mana terlihat senyuman dan mata berbinar penuh keceriaan.

Bagi mereka yang memahami suasana yang penuh rahmat ini, suasana menyenangkan terkait dengan keyakinan bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dalam menghadapi ujian di dunia sebagai hamba Allah.

Mereka merasakan kebahagiaan dan ampunan serta ketenangan dalam beribadah sebagai bagian dari hidupnya.

Selama Idul Fithri, umat Islam menikmati karunia yang dilimpahkan dari sang Maha Pengasih. Umat Islam juga memberi sedekah dan beramal, serta bermurah hati kepada para tamu.

Mereka memberi kepada anak-anak, sanak saudara, fakir miskin, dan orang-orang yang memerlukan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: ” Inilah hari untuk makan dan minum.”

Baca Juga :  Puasa Membentuk Karakter Sosial

Walaupun perayaan Idul Fithri dibolehkan oleh agama, namun terkadang kita tidak bisa mengontrol perasaan dan melebihi batas.

Menjaga keseimbangan dalam perilaku adalah perlu. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan cara bersyukur sehingga tidak ada lagi keinginan yang tidak perlu.

Ingat kepada Allah dan bersyukur akan mensucikan hati. Hal itu merupakan kewajiban kita kepada Allah SWT.

Said Nursi, berkata bahwa dengan bersyukur maka ridha Allah akan meningkat dan perasaan tidak bersyukur [kufur nikmat] akan menghilang.

Pada hari Raya Ied, takbir [Allahu Akbar : Allah Maha Besar] berulang kali diucapkan. Sebagaimana kita kumandangkan takbir, makna berikut merasuk ke dalam batin seseorang.

“Kekuatan dan Kekuasaan Tuhan
Yang Maha Kuasa menyelimuti diri kita dan Ia lebih besar dari segalanya, Tidak ada satupun yang bisa menandingi kekuatan-Nya dan menghindar dari kekuasaan-Nya.

Dia adalah lebih besar dari segala sesuatu yang terbesar yang kita takuti. Kebangkitan atau selamat dari kemiskinan, atau jaminan akan kebahagiaan abadi adalah tidak ada apa-apa di banding dengan kebesaran-Nya.”

Aduhai! Di akhir bulan Ramadhan akan ada orang sukses yang diterima amal ibadahnya sehingga ia pun diberikan ucapan-ucapan selamat.

Tetapi ada juga yang kalah yang hanya mendapatkan ucapan bela sungkawa! Selamat, orang yang sukses, dan semoga Allah menolongmu, wahai orang yang kalah!. Wallahu a’lam bish shawab.

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fithri 1443H. Semoga Allah SWT menerima ibadah Ramadhan kita semuanya, sehingga kita mendapatkan predikat hamba yang muttaqiin. Aamiin ya rabbal a’lamiin. (Uan)

News Feed