Idul Fitri, Menjadikan Pribadi Tangguh Menghadapi Tantangan

Agama1 Views

BERBAGI News – SUDAH menjadi tradisi bagi umat Islam di Indonesia dalam setiap hari raya Idul Fitri mengucapkan kata-kata “Minal ‘Aaidien wal Faaidzien” sedangkan dalam tradisi negara Arab biasanya terdengar adalah kata-kata “Fi Kulli ‘Amin wa antum bi khairin” [semoga di setiap tahun kamu tetap berada dalam keadaan baik], dan juga ucapan “Taqabballallah”, semoga Allah menerima segala amal ibadah kita.

Secara sederhana kata-kata “Minal ‘Aai wal Faidzien” berarti suatu do’a yang menyatakan “semoga anda termasuk diantara orang-orang yang telah kembali dan mendapat kemenangan”

Kata-kata “Minal Aaidien” bermakna semoga kita menjadi orang yang kembali, manusia yang kembali kepada fitrah manusia yang asli, yaitu fitrah yang suci, sebagaimana fitrah seorang anak yang baru dilahirkan oleh seorang ibu.

Dalam bulan suci Ramadhan umat Islam dididik dan dilatih bagaimana pola hidup manusia dengan fitrah ibadah dan berfitrah tauhid. Terkait dalam hal itu, ada beberapa hal yang dapat kita petik dari pelajaran Ramadhan dalam membentuk fitrah ibadah dan tauhid.

Pertama : Hati yang tulus dan niat yang ikhlas.

Dalam Ramadhan, kita dilatih untuk melaksanakan puasa dengan niat tulus ikhlas, hanya mengharapkan keridhaan Ilahi.

Sehingga niat seseorang manusia fitrah dalam bekerja tidak sama dengan yang lain, karena seorang muslim yang kembali kepada fitrah ibadah tauhid akan bekerja dengan niat mencari Ridha Allah. Niat dan motivasi yang tulus dan ihklas ini merupakan syarat untuk meraih prestasi bagi seorang khalifah Allah di muka bumi.

Kedua: Pemikiran berdasarkan petunjuk Al Qur’an.

Dengan tadarus Al Qur’an, berarti kita membaca, mengkaji, memahami kandungan Kitab Suci Al Qur’an yang berisi petunjuk Allah bagi seluruh kehidupan manusia.

Baca Juga :  Meski Susah, Tetap Bersedekah

Sehingga setiap pemikiran, gerak, langkah dan tindakan seorang muslim yang kembali kepada fitrah harus berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran berdasarkan petunjuk Tuhan yang terkandung dalam kita suci Al Qur’an.

Ketiga: Pengendalian diri, menahan emosi.

Puasa membentuk kita agar dapat menjadi pribadi imsyak, pribadi fitrah yang dapat mengendalikan diri dari segala godaan syetan dan hawa nafsu, pribadi yang bebas dari penyakit hati dan sifat egois, individualis, budaya materialis, sikap hedonis.

Fitrah ini merupakan syarat kesuksesan seorang pemimpin, khalifah Allah dalam menata, mengelola, memimpin dan mengatur kehidupan dunia.

Keempat: Bersikap terpuji, dan mempunyai etos kerja yang tinggi.

Manusia yang mempunyai fitrah ibadah dan tauhid dan melakukan pekerjaan di siang hari dengan sikap terpuji, sebagaimana orang berpuasa yang bekerja di siang hari.

Sehingga pekerjaan apapun yang dilakukannya bernilai ibadah kepada Allah Swt, karena pekerjaan tersebut dilakukan niat ikhlas, dengan cara melakukan sesuai dengan ketentuan agama, tehindar dari dosa dan maksiat.

Pekerjaan tersebut juga dilakukan dengan etos kerja yang tinggi, karena seorang muslim yakin bahwa butiran keringat yang dikeluarkan karena bekerja sekuat tenaga akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat ganda, sehingga kepenatan dan kesungguhan dalam bekerja merupakan jalan untuk mendapatkan ridha Ilahi.

Kelima: Pribadi ukhuwah, jamaah dan berjiwa sosial.

Dalam bulan Ramadhan, umat Islam melaksanakan shalat fardhu dan sunat tarawih secara berjamaah, demikan dalam berbuka, bersahur, bertadarus dan lain sebagainya.

Ini merupakan sikap pribadi fitrah, pribadi yang selalu membangun jamaah, membina ukhuwah dengan sesama muslim, tanpa melihat pada perbedaan kulit, perbedaan golongan, mazhab, organisasi dan lain sebagainya.

Dengan pribadi jamaah, pribadi ukhuwah dan pribadi silaturrahmi, maka diharapkan berbentuk pribadi yang peka terhadap persoalan sosial, suka menolong, membantu kaum dhuafa dan fuqara, senang menyisihkan sebagian rezkinya untuk orang lain. Pribadi yang siap melayani umat, memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga :  Disiapkan Tempat Mewah, Gubernur NTB Memilih Tidur di Masjid

Dengan pendidikan Ramadhan dan Idul Fitri berarti kita sebagai umat Islam dibentuk menjadi manusia fitrah, pribadi paska Ramadhan yang tangguh untuk menghadapi setiap tantangan dan godaan kehidupan di masa mendatang dengan bekal iman demi meraih masa depan gemilang.
Aamiin ya rabbal a’lamiin.

Wallahu a’lam bishshowab.