by

Indahnya Menjalin Ukhuwah

-Religi-106 views

Oleh: Aswan Nasution

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujarat : 10).

BAHWA kekuatan hanya bisa diraih dengan persatuan dan persaudaraan, hanya dengan Ukhuwah Islamiyah, “Innamal Mu’minuna Ikhwah”. Ukhuwah Islamiyah bukan sekedar slogan, bukan hanya penghias spanduk dalam ruang seminar, tetapi yang lebih penting bagaimana kita dapat membuktikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Umat Islam masih membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Tiada perjuangan tanpa kesatuan dan persatuan. Tiada kesatuan dan persatuan serta persaudaraan tanpa hati yang tulus dan suci. Tiada hati yang suci tanpa jiwa, pikiran, dan kepribadian yang suci. Karena hanya dengan kesucian diri kita dapat mencapai kesucian Ridha Ilahi.

Baru saja umat Islam memasuki bulan Syawal dan beridul fitri sembari memohon maaf lahir dan bathin, hendaknya bukanlah sekedar basa basi, atau sebatas ukiran kata- kata dalam ucapan disaat lebaran, tetapi bagaimana sikap kita berlapang dada dalam menerima masukan, nasehat dan kritikan, atau perbedaan pendapat dan paham dari orang lain.

Apalagi bagi umat Islam di seluruh dunia setelah melalui pendidikan di bulan Ramadhan, bulan penuh kesucian, bulan persatuan dan persaudaraan yang menjadi kekuatan bagi umat Islam.

Dengan demikian, jangan sampai kita masih terpecah belah karena perbedaan kelompok atau sesama organisasi Islam (ormas Islam). Ingatlah bahwa banyak orang yang tidak rela jika melihat umat Islam itu bersatu, bersaudara dan maju serta rukun dan damai.

Padahal sejak datagnya ajaran Islam itu telah mendidik kita untuk meggalang ukhuwah, persatuan, dan kebersamaan. Atas nama Allah kita semua sama-sama menjalani ibadah shalat, puasa, zakat dan haji serta ibadah-ibadah lainnya.

Baca Juga :  Mengawal Moral Bangsa dengan Dakwah

Maka tidak ada alasan yang prinsif kita kembali memperbesar perseteruan yang tidak bermanfaat yang bisa merugikan ukhuwah Islamiyah itu sendiri.

Mari kita tinggalkan segala perpecahan dan pertikaian. Hilangkan rasa egoisme, ingin menang sendiri, merasa paling benar sendiri, dan fanatik terhadap pendapat golongan sendiri.

Hancurkan rasa kesombongan, kedengkian keangkuhan kelompok, diganti dengan rasa saling menghormati pendapat dan pemahaman orang dan kelompok yang lainnya. Kita jadikan perbedaan sebagai potensi dan aset umat, bukan sebagai ajang pertikaian.

Masih terlalu banyak masalah umat yang harus kita selesaikan secara bersama-sama. Contoh dan misalnya pendidikan umat masih terbengkalai, ekonomi umat masih berantakan, teknologi belum kita kuasai, informasi masih sering menyudutkan umat Islam dan berat sebelah.

Sekian juta anak-anak yatim, fakir, miskin, janda dan fuqara hidup terlantar, masihkah sempat kita menyuburkan dan menebarkan perdebatan yang tak kunjung terselesaikan adanya, guna membicarakan khilafiyah yag terkait dengan furu’iyah (cabang) bukan pokok, dan kehebatan kelompok sendiri serta merendahkan kelompok dan golongan yang lainnya.

Terkait dengan hal ini, Dr. Tha Jabir Ulwan dalam buku Adabul Ihktilaf Fil Islam menyatakan bahwa para sahabat dan para ulama fiqih walaupun berbeda pendapat tetapi mereka tetap menjaga adab dalam berbeda pendapat seperti:

  1. Menghargai satu sama lain dan tidak mengakibatkan pada perselisihan atau permusuhan. Jika perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh perbedaan penafsiran atas satu Nash Al Qur’an atau Hadits dan Rasulullah membenarkan kedua pendapat tersebut, maka para sahabat menganggap bahwa pendapat yang lain itu adalah benar sebagai pendapatnya sendiri dan setiap sahabat akan tetap menghormati pendapat yang lain tanpa ada rasa fanatik terhadap kebenaran pendapat sendiri.
  2. Selalu bersikap penuh ketaqwaan dan menghindar dari sikap emosional, karena yang utama adalah tercapainya kebenaran tanpa memperdulikan apakah kebenaran tersebut berasal dari ucapannya atau lisan sahabat yang lain.
  3. Tidak memperpanjang permasalahan dalam perdebatan, tetapi mencari jalan keluar secepat mungkin dan tetap menghargai pendapat yang lain serta tidak memaksa yang lain untuk menerima suatu pendapat, sambil mencari pendapat yang lebih baik dan benar.
Baca Juga :  Merajut dan Menjaga Ukhuwah

Akhirnya dalam tulisan ini, mari bersatu dan berjuang dengan harta maupun jiwa, saling bahu membahu menghimpun tenaga dan pikiran demi mengajak kepada persatuan dan menggalang ukhuwah Islamiyah dalam kebaikan dan menegakkan kebenaran dan mencari Ridha Allah semata.

Nashrum minallahi wafathun qariib, wabasyril mu’minin. Wallahu a’lam bish shawab.