by

Makna dan Hikmah Perjalanan Ibadah Haji

-Religi-172 views

Penulis: Ust. H. Aswan Nasution

BERBAGI News – “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).

ALHAMDULILLAH, bersyukur kita hanya kepada Allah, insya Allah musim haji tahun ini (2022) Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama Republik Indonesia kembali akan memberangkatkan jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci-Makkah – Arab Saudi, yang tertunda selama peristiwa pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia.

Berbagai persiapan pun sudah disiapkan baik penyelenggara haji (Kemenag) secara maksimal, maupun jamaah haji yang telah berbekal diri mulai dari mental dan spritual tak kalah pentingnya adalah manasik haji, kesehatan dan lain sebagainya demi untuk kelancaran dan kesempurnaan ibadah haji nantinya, semoga kembalinya mendapatkan haji mabrur. Aamiin.

Setiap tahun, lebih dari satu juta umat muslim (seperlimanya asal Indonesia) berkumpul di Baitullah untuk melaksanakan perintah Allah ini. Mereka menjawab panggilan Allah dengan ungkapan:

“Labbaikallhumma Labbaik. Labbaika laa Syarika laka labbaik. Innal Hamda wani’ mata laka wal Mulk laa syariikalak.”

Demikianlah ucapan talbiyah berkumandang mengiringi keberangkatan jamaah haji Indonesia menuju Baitullah di Makkatul Mukarramah. Semuanya berangkat dengan satu harapan mendapatkan haji yang mabrur, dengan satu niat hanya menjalankan perintah Allah.

Mereka rela meninggalkan anak dan keluarga, meninggalkan pekerjaan dan segala urusan kantor serta pekerjaan yang lainnya, rela berkorban mengeluarkan uang jutaan rupiah, hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Sebagaimana telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya.
“Al Hajju Al Mabruur laisa lahu Jazaaun illal Jannah”. Tiada imbalan yang setimpal bagi haji yang mabruur melainkan Surga.”

Baca Juga :  Bahaya Lisan Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Ibadah haji berlangsung selama bulan Zulhijjah yang sangat mulia. Keadaan hening dan damai, disana tidak ada rasa takut, kebencian, ataupun perang, yang terasa di gurun pasir itu hanyalah rasa aman dan damai. Suasana ibadah terasa lazim dimana siapapun bebas menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mari kita dengarkan dan renungkan sejenak seruan Nabi Ibrahim AS, yang telah terekam dalam Al-Qur’an, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji. Mereka akan datang padamu dengan bertelanjang kaki atau mengenderai unta yang lemah yang datang dari segenap penjuru gurun pasir yang jauh.” (QS. Al Hajj : 27).

Terimalah undangannya, tinggalkan kampung halamanmu untuk ‘menjumpai’ Dia yang sedang menunggumu! Eksistensi manusia tidak akan bermakna jika mendekati Allah tidak menjadi tujuannya.

Singkirkan diri dari segala tuntutan dan ketamak-an yang memalingkan kita dari Allah. Maka bergabunglah dengan kafilah haji yang dilakukan umat manusia sepanjang zaman untuk ‘menjumpai’ Allah Yang Maha Kuasa.

Sebelum berangkat melaksanakan ibadah haji, hendaklah melunasi dulu utang-utang, dan bersihkan diri dari rasa benci serta marah terhadap anak saudara atau sahabat dan teman-teman.

Jangan lupa tulislah pula surat wasiat untuk mereka yang hendak engkau tinggalkan. Semua ini merupakan langkah-langkah persiapan menghadapi kematian (yang entah kapan akan menimpa setiap orang) dan menjamin kesucian pribadi dan finansial serta melambangkan detik-detik perpisahan dan masa depan manusia.

Ibadah haji menggambarkan kepulangan kita kehadirat Allah SWY, yang mutlak dan tidak terbatas dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Pulang kepada Allah menunjukkan suatu gerakan yang pasti menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai-nilai dan fakta-fakta, yang dalam perjalanan menuju keabadian.

Ibdah haji juga merupakan sebuah gerakan. Manusia memutuskan untuk kembali kepada Allah. Semua ego dan kecenderungan yang mementingkan diri sendiri dikubur di Miqat (Zuhalifah). Ia menyaksikan mayatnya sendiri dan menziarahi kuburannya sendiri.

Baca Juga :  Anjuran Mempermudah, Tidak Mempersulit

Dengan peristiwa ini kita diingatkan kepada tujuan akhir kehidupan yang sejati, kita semua mengalami kematian dan kebangkitan kembali di Miqat yang kemudian harus melanjutkan misinya menembus teriknya gurun pasir antara Miqat dan Mi’ad.

Dalam hal ini, Dr. Ali Syariati, melalui bukunya tentang makna haji menyebutkan untuk menyelami makna haji dan sekaligus menggiring kita ke dalam lorong-lorong haji yang penuh makna, bukan yang hampa tak bermakna.

Untuk memahami hakekat haji sebagai langkah maju yaitu “pembesan diri” bebas dari penghambaan kepada tuhan-tuhan palsu menuju penghambaan kepada Tuhan Yang Sejati.

Selanjutnya Dr. Ali Syariati mengatakan, bahwa haji bukanlah sekedar prosesi lahiriah formal belaka, melainkan sebuah, momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri sebagai manusia.

Dengan kata lain, orang yang sudah berhaji haruslah menjadi manusia yang “tampil beda” [ lebih lurus hidupnya ] dibanding sebelumnya. Dan ini adalah kemestian. Kalau tidak, sesungguhnya kita hanyalah wisatawan yang berlibur ke tanah suci di musim haji, tidak lebih!. [Dikutip Makna Haji, Zahra, 2009].

Ketahuilah, bahwa ibadah haji, sebagaimana ibadah-ibadah lain seperti shalat, puasa dan zakat, merupakan ibadah yang diperuntukkan bagi kehidupan dunia.

Apa maksudnya? Allah SWT mengharapkan agar kita mengambil manfaat, hikmah, dan pelajaran dari ibadah haji-sebagaimana juga dari ibadah-ibadah lainnya-guna diterapkan dalam menjalani kehidupan kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Sehingga kita semuanya akan mendapatkan kehidupan dan kebahagian didunia dan di akhirat kelak, sesuai dengan janji-Nya. Aamiin ya rabbal a’lamiin. Wallahu a’lam bish shawab.

Bersambung… (*)

Referensi:
-Makna Haji, Dr. Ali Syariati, Zahra, 2009.
-Buletin Istaid, No. 202, 1997.D