by

Menjadi Tamu Allah Menuju Ka’bah

-Religi-125 views
Penulis: Ust. H. ASWAN NASUTION

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempàt beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi manusia”. (QS. Ali ‘Imran : [3] : 96).

DALAM Kitab Tarikh Makkah, berdasarkan sebuah hadits disebutkan bahwasanya Ka’bah tersebut pertama kali dibangun oleh Nabi Adam A’laihissalam.

Muhammad bin Ishak menyatakan bahwa telah disampaikan kepada kami bahwasanya tatkala Allah memerintahkan Adam turun ke bumi, maka Dia menyuruhnya berjalan ke arah Makkah dan setelah sampai disana diperihtahkannya Adam untuk membangun Ka’bah sebagai tempat beribadah kepadanya.

Setelah selesai maka Allah memerintahkan Adam untuk beribadah dan thawaf di sekelilingnya sambil berdoa : “Ya Allah jadikanlah tempat ini sebagai tempat ibadah bagi anak keturunanku.”

Itulah sebabnya dalam Kitab suci Al Qur’an disebutkan bahwa: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibagun untuk tempat beribadah bagi umat manusia adalah Baitullah yang berada di kota Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran : 96).

Malahan dalam sebuah riwayat menurut Mujahid disebutkan bahwa Allah menjadikan lokasi tempat Ka’bah tersebut dua ribu tahun sebelum menjadikan lokasi bumi yang lain. Wallahu Alam.

Sejak Nabi Adam membangun Ka’bah, maka tempat itu menjadi tempat beribadah bagi umat manusia. Oleh sebab itu dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa sejak didirikannya, maka di sekitar Ka’bah tidak pernah kosong daripada thawaf daripada manusia, jin, atau malaikat.

Menurut sebuah riwayat, Nabi Adam sendiri telah melakukan haji. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah disebutkan bahwa:

“Seluruh para nabi dan rasul mereka semua datang ke tanah Haram dengan berjalan kaki untuk melakukan thawaf dan melaksanakan ibadah haji dan lainnya”.

Baca Juga :  Berbagi Rahmat Allah SWT

Setelah banjir Nabi Nuh, maka Ka’bah tertimbun, hilang dari permukaan bumi, sehingga datanglah perintah kepada Nabi Ibrahim as, untuk membangun kembali Ka’bah tersebut di lokasi semula.

Mendapat perintah tersebut, maka Nabi Ibrahim datang ke Makkah dan mengajak anaknya Nabi Ismail untuk melaksanakan perintah Allah tersebut mendirikan kembali Ka’bah sebagai tempat peribadatan umat manusia.

Setelah selesai mendirikan Ka’bah bersama anaknya Ismail, maka beliau berdoa : ” Wahai Tuhan jadikanlah negeri Mekah ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari perbuatan menyembah berhala.

“Wahai Tuhanku! Jadikanlah negeri Mekah ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dan berbagai jenis buah-buahan kepada penduduknya, yaitu orang- orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat diantara mereka”.

Menjawab doa tersebut Allah berfirman: “Permohonanmu itu diterima, tetapi siapa yang kufur dan ingkar maka Aku akan beri juga dia bersenang-senang menikmati rezeki itu sementara (di dunia), kemudian Aku memaksanya (dengan menyeretnya) ke azab neraka, dan (itulah) seburuk-buruk tempat kembali”.

Sejak saat itu Ka’bah kembali menjadi tempat peribadatan umat manusia untuk menyembah Allah, tetapi dengan bergulirnya waktu dan masa, maka sebagian manusia mulai merusak kesucian Ka’bah dengan membuat patung berhala disekitarnya sebagaimana yang terjadi pada masa kota Makkah dipenuhi oleh masyarakat jahiliyah.

Itulah sebabnya Nabi Muhmmad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir ditugaskan kembali untuk membersihkan Ka’bah dari segala bentuk kemusyrikan, dan disyariatkannya ibadah haji bagi umat Islam, untuk mengingat bahwa inilah sebagai tempat ibadah kepada Allah yang telah ditentukan bagi umat manusia dari Nabi Adam hingga akhir zaman.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami jadikan Rumah Suci (Baitullah) itu tempat tumpuan bagi umat manusia (untuk ibadat Haji) dan tempat yang aman, dan jadikanlah Makam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS. Al Baqarah: 125).

Baca Juga :  Perubahan Untuk Mencapai Kehidupan Berkemajuan

Selamat jalan bagi para calon jamaah haji. Selamat melakukan ibadah haji. Laksanakan segala manasik haji dengan penuh keikhlasan, dan penghayatan, sehingga nanti dapat kembali membawa teladan bagi masyarakat dan bangsa, menjadi hamba Allah yang siap mengemban amanat dan risalah khalifah di muka bumi sebagaimana yang telah diamanatkan kepada Nabi Adam dan anak cucunya sampai akhir zaman.

Labbaikallahumma Labaik, labbaik la syarikalak. Selamat jalan, Semoga menjadi haji yang mabrur yang kita dambakan. Aamiin ya rabbal a’lamiin. Wallahu a’lam bish shawab. (*)