by

Pertanian Cerdas Iklim

-Berbagi-85 views

Oleh : Dali Surenggana, Mahasiswa Sosiologi Unram Magang MBKM di Konsepsi NTB

BERBAGI News – Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Hal ini terlihat dari bentang alam Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang luas dan sumber daya alam yang melimpah. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 sebanyak 29,59% tenaga kerja di indonesia bekerja di sektor pertanian, namaun jumlahnya terus menurun. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang pertanian kepada anak muda sebagai generasi penerus bangsa agar jati diri bangsa kita tidak hilang.

Kondisi ini semakin sulit ditambah dengan adanya ancaman dampak perubahan iklim yang menghantui sektor pertanian. Hal ini tentu dibutuhkan upaya adaptasi perubahan iklim khususnya pada sektor pertanian. Salah satu upaya awal yang penting untuk dilakukan adalah memberikan informasi iklim bagi petani. Pada konteks daerah, di Nusa Tengara Barat banyak petani yang belum memiliki pengetahuan bagaimana beradaptasi dengan ancaman perubahan iklim di sektor pertanian.

Dalam melakukan aktivitas pertaniannya, para petani masih menggunakan metode lama dengan melakukan kegiatan bercocok tanam menurut apa yang sudah diajarakan oleh nenek moyang dari zaman dulu. Petani masih beranggapan bulan yang berakhiran ‘ber’, identik dengan musim hujan. Padahal sebagai dalah satu dampak dari peruahan iklim adalah cuaca yang tidak menentu. Sehingga kondisi iklim dan cuaca saat ini sangat berpengaruh terhadap dunia pertanian. Untuk itu diperlukan pemahaman dalam menentukan waktu tanam, jenis tanaman dan memperhatikan cuaca dan iklim.

Perubahan iklim sendiri disebapkan oleh tinginya pengunaan rumah kaca sehingga menyebapkan pola distribusi iklim berubah atau climate change, fenomena alam yang ekstrim ini berakibat mempengaruhi kegiatan pertanian yang menyebapkan sisitem produksi pertanian terganggu, Perubahan iklim menjadi ancaman yang sangat serius bagi pertanian. Derdampak pada penurunan kualitas dan kuantitas produksi tanaman pangan, sehingga menyulitkan upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Kondisi seperti ini memaksa para petani untuk mereformasi sistem pertanian dengan menerapkan pendekatan climate smart agriculture (CSA), kementrian pertanian mengembangkan program CSA agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang ada, seperti pengunakan pestisida nabati, pupuk organik dan lain sebaginya.

Baca Juga :  Pemdes Rarang Salurkan Bantuan Sosial Beras Kemensos

Sekolah Lapang Iklim

Perubahan iklim yang sangat nyata, berdampak terhadap sektor pertanian dan pada hasi yang didapatkan. Untuk itu melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) diharapakan bisa mengatasi persoalan yang di hadapi para petani. Sekolah Lapang Iklim sendiri merupakan salah satu bentuk dukungan BMKG pada sektor pertanian untuk meningkatkan wawasan petani tentang informasi iklim dan cuaca dari BMKG serta memanfatkan informasi yang didapat untuk kegiatan pertanian, sehingga bisa membentuk Petani yang cerdas Iklim, dalam arti masyarakat mengetahui kondis lingkungan dan iklim yang sesuai atau tepat dalam melakukan kegiatan pertanian sehingga hasil yang didapatkan bisa mendukung ketahanan pangan nasional.

Sekolah Lapang Iklim Operasional NTB tahun 2021 digelar Sembalun yang diinisiasi oleh Konsepsi NTB bekerjasama dengan BMKG NTB. Sekolah Lapang Iklim ini berlangsung selama dua bulan, di pertemuan pertama dilakukan pembuakaan Sekolah Lapang Iklim oleh kepala BMKG NTB, Direktur Konsepsi, dan Camat sembalun, setelah itu dilakukan pemaparan mengenai iklim dan cuaca dari BMKG yang kemudian dilanjutkan dengan penanaman sayur-sayuran seperti, selada dan bawang di lahan belajar Sekolah Lapang Iklim. Kemudian pertemuan ke dua, dilakukan sosialisasi tentang iklim dan cuaca serta Pengamatan tanaman agroekosistem dan pembelajaran pengukuran tinggi curah hujan di lahan belajar SLI dilanjutkan dengan persentasi dan diskusi hasil pengamatan yang dilakukan dan ditutup dengan bermain game tentang iklim dan cuaca. Dan pertemuan ketiga dilakukan pengamatan sayuran bibit sawi putih, selada dan bawang pada penanaman pertemuan pertama. Dan bagaimana perkembangan peran pestisida yang digunakan, dampak negatif pestisida kimia, mendiskusikan solusi untuk mengatasi permasalahan dampak pestisida dan hama alami dari bibit-bibit tersebut.

Sekolah Lapang Iklim diharapkan mampu menjadi solusi dari masalah pertanian yang ada di Lombok Timur terutama di Sembalun Bumbung dan Sembalun Lawang. Dengan adanya Sekolah Lapang Iklim mampu menigkatakan pemahaman dan penegetahuan masyarakat tentang iklim dan cuaca, sehingga bisa meminimalisir kerugian yang ditimbulkan dari dampak buruk cuaca dan iklim bagi para petani. SLI juga memberikan pemahaman mengenai pengunaan pestisida yang tepat untuk tanaman sehingga hasil yang didapatkan bagus dan melimpah.

Baca Juga :  Segera, Warga Desa Pejaring Akan Menikmati Air Bersih Bantuan Sumur Bor dari PLN

Dengan adanya sekolah lapang iklim nantinya bisa membentuk petani yang cerdas iklim dan bisa mengunakan alat-alat modern untuk membantu kegiatan pertanian baik dalam menentukan perkiraan cuaca serta dalam perawatan tanaman, sehingga bisa mendapatkan hasil produktivitas yang tinggi sehingga memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa, Pertani cerdas iklim merupakan salah satu strategi pegembangan pertanian modern berbasis teknologi yang ramah lingkungan dan cerdas dalam memanfatkan sumber daya alam. Konsep pertanian cerdas iklim pertama kali diperkenalakan oleh FHO pada tahun 2010, yang impelentasinya diharapkan mendorong pencapaian ketahanan pangan nasional dan tujuan pembangunan. Sehingga dengan adanya Sekolah Lapang Iklim bisa menjadi pelatihan kepada para petani untuk bisa beradaptasi dan memiliki mitgasi terhadap perubahan iklim agar bisa tahan terhadap kondisi iklim yang tidak baik, dan bisa memberikan hasil yang tinggi supaya kebutuhan panggan tetap terjaga dan bisa mneingkatkan kondisi prekonomian para petani. (*)