by

Perbedaan Tidak Menjadikan Umat Manusia Berpecah Belah

-Agama-113 views

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS, Al Hujarat [49]: 13).

BERBAGI News – PERBEDAAN Jenis kelamin, suku, etnis, warna kulit, bahasa, adat, budaya dan bangsa adalah bagian dari sunnatullah dalam menciptaan manusia.

Allah SWT tidak menghendaki perbedaan ini menjadikan umat manusia berpecah belah, bertikai, dan bermusuhan diantara satu dengan yang lainnya.

Allah menginginkan perbedaan itu membuat manusia saling mengenal, bahu-membahu dan tolong menolong untuk memakmurkan bumi ini.

Berbeda tidak harus lantas berpecah, namun berbeda untuk menuju sinergi, harmonisasi dan kesempurnaan.

Tak bedanya seperti bangunan yang kesempurnaannya terbentuk dari bangunan yang beragam. Ada pasir, semen, air, batu bata, kayu, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu ayat di atas diawali dengan lafazh “Ya Ayyuhan Nas” [Hai manusia], yakni untuk mengingatkan manusia bahwa mereka itu sama asal usulnya dari satu keturunan, dari Nabi Adam AS dan Siti Hawa-‘alaihima as-salam, sehingga satu sama lain tidak boleh saling, menghinakan atau menjelekkan.

Begitu banyak definisi manusia terbaik dan mulia dalam pandangan màsyarakat. Ada yang melihat orang yang paling kaya di antara kita yang terbaik. Ada juga yang melihat tampilan fisik; ketampanan dan kecantikan menjadi ukuran kebaikan seseorang.

Yang lain membanggakan dirinya karena berasal dari keturunan tertentu, sehingga menganggap dialah manusia yang paling mulia. Ada pula yang menganggap diri dan komunitasnya yang terbaik karena memiliki kewarnegaraan atau kebangsaan tertentu.

Baca Juga :  Ibadah Qurban, Sebagai Pelambang Keadilan Sosial

Dan, masih banyak lagi atribut, simbol dan lain-lain yang sering membuat manusia terpukau dan tertipu sehingga menganggap dirinya the best, super atau terbaik.

Semua itu dalam timbangan dan pandangan Allah SWT sama sekali tidak berarti dan diperhitungkan. Yang bernilai dan memiliki bobot dihadapan Allah hanyalah takwa.

Takwa inilah yang dipakai untuk mengukur kebaikan dan keunggulan manusia. Ayat diatas telah menegaskan hal ini. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kalian,”

Jadi, manusia yang paling mulia dan the best serta paling tinggi derajatnya disisi Allah di dunia dan di akhirat adalah al-Atqa ‘yang paling bertakwa’ yang paling shalih dan bermanfaat untuk diri dan masyarakatnya.

Karena harus ada yang bisa dibanggakan dan dikejar, maka ia adalah takwa yang bermakna komitmen tehadap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

Karena itu, jangan sampai kita mudah terpukau dengan ketampanan, kecantikan, kekayaan, kekuasaan, kepangkatan dan gelar seseoràng.

Sebagaimana jangan mudah minder jika Allah SWT belum atau tidak menganugerahkan kepada kita atribut dan pernak-pernik dunia. Sebab, Rasulullah Nabi Muhammad SAW telah menegaskan;

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk (fisik) kalian dan harta (kekayaan) kalian. Melainkan Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim).

Adapun salah satu ciri orang yang bertakwa adalah berbuat baik terhadap keluarganya dan tidak pernah mendzalimi mereka.

Jika dia seorang suami, tentu dia menjadi suami yang shalih; yang selalu menunaikan kewajiban- kewajibannya kepada Allah SWT, keluarga dan semua orang yang ada dalam tanggunganya dengan ikhlas penuh semangat dan lapang dada.

Baca Juga :  Video: Pelaksanaan Idul Adha 1442 H, Ditengah Pandemi, Kita Banyak Kehilangan Kegiatan

Dia tidak nenuntut hak lebih banyak dari yang semestinya. Bahkan dia toleran dengan kekurangan yang ada. Dia pantang menyepelekan dan menyia-nyiakan kewajiban-kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, bahkan dia tunaikan dengan sebaik-baiknya sebelum menuntut haknya. Dia akan selalu berusaha membahagiakan istrinya.

Jika dia seorang istri, maka dia akan menjadi istri yang shalihah; yang taat kepada Tuhannya, memperlakukan suami dengan baik, tidak menyia-nyiakan kewajiban dan tidak menuntut hak lebih banyak dari yang seharusnya serta selalu membahagiakan suaminya.

Dia berusaha menjadi “Khairu Mata’ ad-Dun’ya^ sebaik-baik perhiasan dunia, yang ciri-cirinya menurut Nabi Muhammad SAW, “Jika suami memandangnya menyenangkan, jika ia memerintahnya taat dan jika ia tiada (absen darinya) mampu menjaga kehormatan dan hartanya) (HR. Abu Dawud).

Karena itulah, perspektif Nabi Muhammad SAW manusia terbaik di jagat raya adalah manusia yang paling baik terhadap keluarganya, yang mampu mewujudkan keluarga SAMARA (sakinah, mawaddah, warahmah).

Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan yang hakiki, bukanlah hanya ketika seseorang mampu meraih puncak karir, popularitas, gelar tinggi dan keuntungan duniawi yang tiada ternilai.

Namun, kesuksesan yang hakiki adalah manakala kita mampu meraih simpati dari anak dan istri atau suami karena pancaran sinar takwa yang membumi.

Kesuksesan yang sejati adalah ketika kita berhasil mengkondisikan dan membina keluarga kita menjadi insan-insan bertakwa, bahkan menjadi pemimpin orang yang bertakwa.

Ya Rabbana (Tuhan kami), anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai Qurrata A’yun (penyejuk hati kami), dan jadikanlah kami imam/pemimpin orang-orang yang bertakwa.” (qs. Al Furqan [25]: 74).

Wallahu A’lam Bish Shawab.
Selamat Membaca dan Semoga Bermafaat.