by

Dengan Saling Mencintai, Semua Jadi Damai

-Religi-140 views

“Cinta kasih dapat mengubah pahit menjadi manis, debu menjadi emas, kotor menjadi jernih, sakit menjadi sembuh, tahanan menjadi taman, derita menjadi nikmat, itulah cinta kasih yang melunakkan besi, meluluhkan batu, membangkitkan orang mati dan neniupkan kehidupan.” [Ungkapan seorang ulama salaf].

CINTA kasih itulah mutiara satu-satunya yang memberikan rasa aman, ketenangan dan kedamaian. Kami mencintai segala-galanya, bahkan kami mencintai bencana sebagaimana kami mencintai kenikmatan.

Cinta dapat membangkitkan kekuatan untuk melawan, lalu jiwa tergugah bangkit seolah-olah melompat. Di samping itu cinta kasih adalah angin segar yang mendinginkan panasnya pertikaian. Kami mencintai kehidupan, adakah orang yang bercinta kasih seperti ini? Bila dapat melakukannya sungguh ia adalah pahlawan.

Sesungguhnya orang yang dapat bercinta kasih seperti ini hanyalah orang-orang memperoleh manisnya iman di hatinya. Iman adalah satu-satunya sumber cinta kasih yang jernih

Hanya orang-orang yang beriman kepada Allah, satu-satunya yang dapat nencintai segala sesuatu walaupun pada bencana, duka cita, ia mencintai alam ini awal dan akhirnya, maut dan hidup.

MENCINTAI ALLAH•

Orang yang beriman dengan aqidahnya, ia dapat menembus rahasia alam, sehingga ia mencintai Allah pemberi kehidupan, sumber segala yang ada, sumber pertolongan dan bantuan.

Ia akan mencintai Allah seperti cinta seseorang pada keindahan. Ia telah melihat jejak ciptaannya di alam yang kokoh ini. “Dia-lah dzat yang telah memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan.” [QS. Sajadah : 7].

MENCINTAI ALAM•

Seorang mukmin mencintai alam seluruhnya sebagaimana ia mencintai Tuhannya. Karena alam adalah jejak dari jejak-jejak Tuhannya. ” Ia-lah dzat yang menciptakan dan menyempurnakan dan menentukan dan membimbing,” [QS. Al-Qamar: 49].

Alam bukanlah musuh manusia, akan tetapi ia adalah makhluk yang ditundukkan untuk berkhitmat pada manusia agar dapat membantunya melaksanakan tugas kekhalifahannya di bumi.

Baca Juga :  Dahsyatnya Sedekah di Hari Jum'at

Segala sesuatu yang ada di alam bertasbih membesarkan nama Allah dengan bahasa yang kadang-kadang tidak dipahami oleh anak manusia.” Langit yang tujuh dan bumi dan orang-orang yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya, tiada sesuatupun kecuali beetasbih kepada-Nya, akan tetapi kalian tidak memahami tasbihnya,” [QS. Al-Isra: 4].

MENCINTAI SESAMA MANUSIA•

Orang mukmin mencintai sesama manusia, karena mereka adalah saudara, teman mengabdi kepada Allah, mereka semua adalah satu nasab, keturunan dan juga memiliki satu tujuan dan satu lawan.

Satu keturunan, seperti firman Allah, “Wahai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang menjadikanmu dari satu jiwa, dan telah menciptakan dari pasangannya dan menyebar darinya laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertaqwalah kepada Allah yang kalian saling bertanya-tanya tentang ia dan sanak famili [muhrim].” [QS. An-Nisa’: 1].

Aqidah Islam tidak membatasi faktor etnis, seorang muslim berkeyakinan bahwa semua manusia adalah dari Adam. Perbedaan bahasa, warna kulit hanya sebagai dalil dari ayat-ayat-Nya.

“Di antara ayat-ayat-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa dan warna kulit, sesungguhnya pada yang demikian itu ada ayat-ayat/tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengetahui.” [QS. Ar-Rum: 22].

Betapa tingginya kedudukan ukhuwah basyariyyah [persaudaraan sesama manusia] dalam jiwa seorang muslim. Ukhuwah ini menempati peringkat setelah tauhid [ mengesakan Allah dan pengakuan kerasulan Muhammad].

Demikian sikap mental seorang mukmin kepada manusia tidak menonjolkan faktor etnis, fanatik daerah, tidak membenci tingkat sosial masyarakat, tidak hasud pribadi, akan tetapi rasa cinta kasih dan persaudaraan bagi sesama manusia.

Cinta kasih seperti ini merupakan bukti imannya kepada Tuhannya dan penuntunnya ke surga, tepatlah sabda Nabi Saw, “Demi Dzat yang diriku berada di tangannya, tidak akan dapat masuk surga sebelum kalian beriman dan tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai.” Wallahu a’lam bish shawab.
[Sumber bacaan Al-Qalam, No.10/1997].