Pemimpin Tauladan Sepanjang Zaman

Religi38 Views

“Pakar dari Barat Will Durrant menilai, Nabi Muhammad SAW merupakan sosok Nabi yang berhasil meningkatkan ruhani dan moralitas suatu bangsa dari kebiadaban. Dia membawa ajaran Islam dan menyebarkannya ke Barat dan ke Timur.” [ Al-Qalam ].

SEJARAH perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan Islam selalu menghadapi rintangan dan tantangan berat. Namun semua itu dihadapinya dengan keteguhan iman, tidak tergiur atas keanekaragaman tawaran baik harta, tahta, maupun wanita.

Andai saja Nabi Muhmmad Saw mau menghentikan perjuangannya untuk Islam atau melepas sama sekali ajaran Islamnya, maka kedudukan raja, harta yang melimpah bahkan wanita-wanita cantik telah tersedia.

Namun semua itu ditepis, dan ia tetap meneruskan misi perjuangannya dalam menegakkan Islam sampai titik darah penghabisan. Bahkan di saat menjelang ajal. Nabi masih sempat berwasiat kepada umatnya agar selalu tetap menjaga shalat dan ibadahnya.

Nabi Muhammad Saw, dalam kepemimpinannya sebagai kepala negara, tidak saja pandai dalam memberikan nasihat dan fatwa, tapi juga bersatu nya antara ucapan dan perbuatan. Nabi melakukan dulu apa-apa yang akan disampaikan kepada umatnya, setelah itu mengajak umat untuk melakukan hal serupa.

Sebagai pemimpin bisa saja Nabi Muhammad Saw memerintahkan bahwannya dan meminta dirinya mendapat prioritas dalam segala hal. Namun semua itu ditepis, malah memilih kehidupan yang wajar, apa adanya, bahkan segalanya diserahkan untuk Islam.

Nabi Muhammad Saw merasa takut kepada Allah Swt bila dirinya berhidup mewah, sementara umatnya hidup dalam kemelaratan. Bahkan Rasulullah terkenal dengan doa agar dalam kematiannya tergolong dalam kelompok orang-orang miskin.

“Pakar dari barat Will Durrant menilai, Muhammad Saw merupakan sosok Nabi yang berhasil meningkatkan moralitas suatu bangsa dari kebiadaban. Dia membawa ajaran Islam dan menyebarkannya ke Barat dan ke Timur.

Tak heran bila Michael H Hart, seorang cendekiawan AS menempatkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh urutan pertama di antara 100 tokoh dunia yang memiliki peranan besar dalam sejarah manusia. Meskipun bagi kaum muslimin tanpa itupun tidak berkurang walau sedikit kemuliaan beliau.

Kondisi realita di atas cukup menggelisahkan kalangan Barat. Dalam konteks kebangkitan kembali dunia Islam. Lothrop Stoddart mengatakan dunia Barat terkesan cemas tehadap kehadiran Islam setelah perang dunia II usai.

Kendati dunia Islam dewasa ini mengalami pergolalakan cukup hebat, umat Islam terbesar antara Maroko dan Tiongkok, antara Wasington dan Kongo, bergolak menuju Islam satu ide yakni Islam yang nyata.

Islam yang membumi dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan besar akan dirasakan oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini.” [Dikutip dari Al-Qalam, No.38/VII/1997].

Bahwa sosok ketauladanan Nabi Muhammad Saw seperti itu masih dan terus relevan diikuti pada zaman ini dan mendatang. Apalagi melihat fenomena dekadensi moral, krisis figur dan krisis wibawa terjadi dimana-mana.

Dan merupakan saat yang tepat bila pribadi Nabi Muhammad Saw dijadikan sebagai acuan untuk menempuh kehidupan yang serba global ini.

Bila pakar Barat terkagum-kagum pada pribadi Rasulullah Saw, masihkah kaum muslimin tetap berpangku tangan tanpa ada upaya untuk meneladaninya?

Mengenang kembali Rasulullah Saw tidak sebatas di setiap peringatan kelahiran beliau. Juga tidak cukup sebatas terkagum-kagum.

Tapi hendaknya ada upaya penyelarasan tingkah laku, sesuai dengan ajaran mulia beliau bawa. Menjunjung tinggi akhlak mulia dan menyebarkan luaskan rahmat bagi seluruh alam.• Wallahu a’lam bish shawab.

[Sumber bacaan: Al-Qalam, 38/VII/1997].

Baca Juga :  Jangan Pernah Berhenti Berbagi dan Berbuat Kebaikan