by

Cegah pernikahan Dini, Mahasiswa Unram dan PLKB Sambelia Gelar Sosialisasi

Lombok Timur, BERBAGI News – Masih banyaknya remaja yang menikah di usia dini yang terjadi di Desa Bagik Manis dan demi menuntaskan angka siswa/siswi yang menikah di usia anak, Mahasiswa KKN Tematik Universitas Mataram (UNRAM) menggelar sosialisasi mengenai pencegahan pernikahan dini dan pendewasaan usia perkawinan yang bertempat di Sekolah SMKN 1 Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Rabu (20/07/2022) yang lalu.

Ketua KKN Tematik Unram Desa Bagik Manis, Kharisma Rona Musfirah, mengatakan, sosialisasi pernikahan dini dan pendewasaan usia perkawinan ini penting dilakukan untuk mencegah tingginya angka stunting.

“Sebab pernikahan dini dapat mengakibatkan stunting pada keturunan atau anak yang lahir,” terangnya.

Desa Bagik Manis merupakan salah satu desa yang memiliki kasus yang cukup tinggi mengenai pernikahan dini. Pernikahan dini merupakan pernikahan yang dilakukan di bawah usia ideal untuk menikah di usia 15-19 tahun. Pernikahan dini memiliki banyak dampak negatif baik dari segi kesehatan, sosial, ekonomi, psikologis dan lain-lain.

Oleh karena itu, jelas Kharisma, Pendewasaan Usia Pernikahan (PUP) perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan usia pada perkawinan pertama sehingga mencapai usia ideal pada saat perkawinan. Umumnya usia ideal perempuan untuk menikah adalah 21 tahun dan usia ideal laki-laki untuk menikah adalah 25 tahun.

Dalam suksesnya kegiatan sosialisasi, mahasiswa KKN UNRAM bekerjasama dengan pihak PLKB Kecamatan Sambelia.

“Waktu sosialisasi keren banget, pesertanya aktif walaupun ada beberapa yang keliatan malu dan kakak-kakak KKN juga sangat membantu untuk berjalanya kegiatan,” tutur Dodi Anjaswadi, Juara 2 Duta Genre Nusa Tenggara Barat 2022 sebagai pemateri.

Kegiatan sosialisasi mendapatkan dukungan dari pihak sekolah SMKN 1 Sambelia, Jelas Wakil kepala Sekolah, Zanial Apandi, ST, mengatakan, materi tentang sosialisasi pernikahan dini sudah sangat tepat sasaran dan anak-anak siswa baru mulai agak paham tentang bagaimana seharusnya mereka menyikapi fenomena yang ada di sekitar mereka tentang pernikahan dini ini.

Baca Juga :  Pupuk Langka di NTB, KKN Tematik Unram Ajak Warga Desa Teruwai pakai Limbah Ternak

“Teman-teman mahasiswa Unram telah dapat menyampaikan secara lugas dengan bahasa anak muda tentang materi ini sehingga materi ini dapat dicerna oleh peserta didik baru. Itu terlihat dari antusiasnya anak-anak baru dalam video yang saya lihat,” terang Zanial.

Kata Zainal, dari pihak sekolah memang sudah memasukkan materi tersebut di jadwal MPLS dan bersyukur teman-teman mahasiswa datang di saat yang tepat untuk materi tersebut.

Sementara, salah seorang siswa SMKN 1 Sambelia mengatakan, sosialisasi ini penting, karena banyak juga siswa/i yang putus sekolah gara-gara menikah. Dengan adanya sosialisasi ini bisa mengurangi angka putus sekolah terutama karena menikah.

Upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah pernikahan dini dan menunjang pendewasaan usia perkawinan yaitu dengan memberikan kesempatan pendidikan pada remaja. Pendidikan sangat memengaruhi remaja untuk mendewasakan usia perkawinannya, sehingga untuk mencapai usia perkawinan tersebut mungkin dapat dengan mengikuti kursus atau Pendidikan keterampilan yang lain untuk remaja yang tamat SLTA.

Selain itu, dengan memberikan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan. Hal ini adalah suatu upaya yang baik untuk menunda perkawinan. Dengan demikian maka mereka akan menyadari bahwa suatu pernikahan membutuhkan persiapan yang matang khususnya dalam bidang ekonomi.

Para remaja diharapkan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, baik itu organisasi kepemudaan seperti karang taruna, remaja masjid ataupun organisasi Wanita seperti PKK dan lain-lain, sehingga tidak terpikir untuk segera menikah. (dal)