Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Religi82 Views

“Apabila kita sebagai suatu bangsa pandai memanfaatkan nikmat kemerdekaan dengan menjalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara penuh dengan berbagai program ketaatan kepada Allah SWT niscaya nikmat tersebut akan Allah SWT tambah kepada kita semua. Namun sebaliknya bilamana kemerdekaan itu kita sikapi dengan menjalani kehidupan tersebut jauh dari tuntunan Ilahi, maka sudah sewajarnya nikmat kemerdekaan malah terasa menjadi sumber bencana dan bahkan azab.” [Cendekiawan].

KEMERDEKAAN merupakan salah satu karunia besar dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Ia merupakan nikmat urutan kedua sesudah nikmat kehidupan. Namun ia tetap berada pada satu urutan di bawah nikmat termahal, yakni nikmat keimanan.

Sebagaimana nikmat-nikmat lainnya Allah Swt memerintahkan kita untuk mensyukurinya. Sebab mensyukuri nikmat akan menghasilkan pelipatgandaan nikmat itu sendiri. Sedangkan kufur nikmat akan menyebabkan nikmat itu bisa berubah menjadi sumber bencana bahkan azab.

Oleh sebab itu kita hendaknya mensyukuri kemerdekaan itu, dengan kemerdekaan kita bisa lebih maju, kita bisa melakukan apapun untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan, dengan hakikat kemerdekaan juga kita juga bisa menjunjung tinggi pendidikan.

Maka tanggal 17 Agustus merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, pada hari tersebut segenap komponen bangsa merayakan kemenangan dan kemerdekaan setelah sekian ratus tahun lamanya hidup dibawah bayang-bayang intimidasi dan kedzaliman para penjajah.

Sangat wajar, jika kemenangan ini disambut dengan luapan kegembiraan yang gegap gempita, seraya mengumandangkan kalimat tauhid, memuji dan mensyukuri karunia Allah yang terbesar bagi bangsa ini.

Sebagaimana dengan firman Allah Swt:
“Sesungguhnya jika bersyukur, pasti Kami akan menambah [nikmat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [nikmat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [QS. Ibrahim : 7].

Bagi umat Islam, anugerah kemerdekaan ini selayaknya dijadikan momentum untuk mengasah rasa syukur kita kepada Allah Swt dengan tentunya menggunakan nikmat rersebut kearah tujuan penciptaan manusia.

Sesuai dengan depinisi syukur yang didefinisikan oleh para Ulama. Yaitu, “Syukur merupakan bentuk aktivitas seorang hamba dalam rangka mendayagunakan semua nikmat yang Allah berikan kepadanya menuju tujuan manusia itu diciptakan yaitu beribadah kepada Allah Swt.”

Sesungguhnya Islam lahir membawa misi kemerdekaan dan kebebasan serta ingin mengantarkan segenap manusia kembali kepada fitrah mereka yang suci. Misi kemerdekaan dan kebebasan yang diperjuangkan oleh Islam merupakan inti dari idiologi yang benar yaitu:

“Membebaskan manusia dari penghambaan, belunggu, dari ketergatungan kepada sesama manusia menuju penghambaan dan pengabdian yang totalitas kepada Tuhan sang pencipta makhluk sealam jagad ini.”

Apabila kita sebagai suatu bangsa pandai memanfaatkan nikmat kemerdekaan dengan menjalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara penuh dengan berbagai program ketaatan kepada Allah Swt, niscaya nikmat tersebut akan Allah Swt tambah kepada kita semua.

Namun sebaliknya bilamana kemerdekaan itu kita sikapi dengan menjalani kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara jauh dari tuntunan Ilahi, maka sudah sewajarnya nikmat kemerdekaan malah terasa menjadi sumber malapetaka dan bencana besar bahkan azab.

Masihkah kita perlu heran mengapa setelah hidup di alam kemerdekaan berpuluh tahun justru kita sebagai bangsa semakin terpuruk? Bukankah apa yang kita alami sekarang ini, hanyalah sebuah bukti kebenaran firman Allah Swt tersebut? ” dan jika kamu mengingkari [nikmat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Marilah kita tingkatkan terus darma bakti kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Kita tempatkan diri kita sesuai dengan kemampuan dan posisi kita masing-masing.

Bagi para pelajar dan para santri. Belajarlah dengan tekun dan sungguh-sungguh guna mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya, sehingga bermanfaat dunia dan akhirat.

Bagi seorang pegawai maka bekerja dan mengabdilah dengan penuh rasa tanggung jawab. Bagi seorang pemimpin, maka pimpinlah dengan penuh kasih sayang dan niat yang tulus.

Kita tunjukkan diri kita kepada Allah Swt bahwa kita adalah bangsa yang bersyukur atas segala nikmatnya terutama nikmat kemerdekaan ini.

Jangan kita sampai berkhianat terhadap negara kita, berkhianat terhadap tugas kita, berkhianat kepada Allah Swt. Karena sesungguhnya penghianatan adalah bentuk kekupuran atas segala nikmat yang telah di berikan Allah Swt. kepada kita semua.

Wallahu a’lam bish shawab.
Selamat membaca, semoga bermanfaat.
Selamat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 77. (red)

Baca Juga :  Tiga Mata Lomba STQ Kecamatan Praya Barat, Mahasiswa KKN Unram turut Terlibat