by

Jika Berbagi, Berikanlah Yang Terbaik

-Religi-97 views

Penulis: Ust. H. ASWAN NASUTION

“Wahai orang-orang yang beriman! Infaqkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata [enggan] terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Mahaterpuji.” [QS. Al-Baqarah: 267].

ALLAH SWT memerintahkan orang-orang yang beriman agar rela melakukan infaq dari harta-harta yang baik yang tentunya ia senangi. Karena setiap orang menginginkan yang baik dan mencintainya. Demikian juga berinfaq hendaklah dengan yang baik sehingga mendapatkan penerimaan yang baik pula dari yang membutuhkan.

Melalui ayat tersebut di atas, Allah menginginkan agar hamba-hamba-Nya mampu melakukan yang terbaik dalam melakukan penghambaan diri kepada-Nya, termasuk dalam mengabdi dengan harta yang dimilikinya.

Betapa masalah harta sangat membutuhkan arahan dan petunjuk praktis dari Yang menganugerahkannya. Jika tidak meyakini ini, manusia akan tetap dalam tabiatnya. “Sesungguhnya manusia itu sangat bakhil karena cintanya yang besar kepada hartanya.” [QS. Al-‘Adiyat: 8].

Allah Swt berfirman, “Kamu sekali- kali tidak sampai kepada kebajikan [yang sempurna], sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” [QS. Ali-Imran: 92].

Kata al-birr yang disebut dalam ayat ini secara bahasa berarti “keluasan dalam kebaikan”. Dari akar kata yang sama terbit kata al-barr yang berarti daratan karena luasnya. Ini berarti bahwa al-birr mencakup segala bentuk kebaikan. Namun kebaikan yang dimaksud terkait dengan harta yang disebutkan setelahnya. Imam Asy-Syaukani mendefinisikan al-birr sebagai bentuk kebajikan, yang ditafsirkan oleh Surat Al-Baqarah ayat 177 dengan enam prinsip iman dan prinsip-prinsip amal shalih.

Baca Juga :  Bersegera Untuk Bertaubat

Allah Swt berfirman:
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah [kebajikan] orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat- malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan [ musafir], peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang yang menepati janji apabila berjanji, orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” [QS. Al-Baqarah: 177].

Selanjutnya Asy-Syaukani menyebutkan, “Kalian tidak akan bisa mencapai derajat al-abrar yang ditandai dengan keimanan yang sebenar-benarnya [shiddiqul iman] dan keshalihan amal [shalahul amal] hingga kalian menginfaqkan harta yang kalian paling cintai di jalan Allah.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dari Abu Ishaq Abdullah bin Abi Thalha, ia mendengar Anas bin Malik RA berkata, “Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, dan harta kebanggaan yang paling dicintainya adalah kebun Bairuha yang letaknya berhadapan dengan Masjid Nabawi. Rasulullah Saw juga kerapkali singgah ke kebun itu dan meminum airnya dengan senang hati.”

Anas melanjutkan, ” Ketika ayat ini turun, Abu Thalhah segera nenemui Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, Allah telah berfirman dan harta yang paling saya cintai adalah Bairuha.

Sesungguhnya ia kini menjadi harta sedekahku yang aku harapkan kebaikan darinya dan sebagai simpanan di sisi Allah. Maka taruhlah ia, wahai Rasulullah, sesuai dengan apa yang Allah beritahukan kepada engkau.’ Rasulullah Saw menjawab, “Bagus, bagus, itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan. Aku sudah mendengar dan menurut pandanganku, engkau peruntukkanlah bagi sanak kerabat.’

Baca Juga :  Yudha Putra Warek 3 Unsa Wakili Mataram, Juara 1 Lomba Pop Religi NTB

Abu Thalhah menjawab, ‘Saya laksanakan, wahai Rasulullah.’ Lalu Abu Thalhah membagi-bagikan harta yang paling berharga dan ia cintai kepada sanak keluarga serta kerabat dan anak pamannya sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.” [Riwayat Bukhari dan Muslim].

Dalam Shahihain, diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab RA berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah memiliki harta yang menurut pandangan saya lebih berharga daripada bagian saya yang terletak di Khaibar.

Maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku terhadap tanah saya ini? Rasulullah Saw menjawab, “Tahanlah asalnya dan sedekahkanlah hasilnya.” Inilah wakaf Umar hin Khattab. Wakaf dengan harta yang terbaik.

Dengan demikian pada tataran, pengaruh ayat di atas sangat besar dalam jiwa para generasi terbaik umat ini. Inilah hal teladan yang bisa dicontoh hingga sekarang.☆

Wallahu a’lam bish shawab.
Selamat Membaca dan Semoga Bermanfaat.
{Sumber bacaan: Suara Hidayatullah, Edisi 3, XXXIII, 2021}.