Shalat Adalah Wadah Memohon Pertolongan dan Menghimpun Kekuatan

Religi77 Views

Oleh: ASWAN NASUTION

“Shalat menjadi ibadah ritual dan kewajiban formalitas saja. Umat Islam tidak mendapatkan apa-apa dalam shalat kecuali gugurnya kewajiban dan kalkulasi pahala shalat semata. Padahal bagi orang yang beriman, shalat adalah wadah memohon pertolongan dan kekuatan.” [Ulama].

SEORANG Ulama berkata: “Jangan heran, jika kualitas kaum Muslimin pada akhir zaman sekarang jauh berbeda dengan orang-orang shalih terdahulu. Shalat yang dirasakan nyaris tak sebanding dengan keasyikan generasi dahulu saat menikmati shalat bersama Rasulullah Saw dan para sahabatnya.”

Pertanyaannya mengapa demikian? Bisa jadi, yang diajarkan kepada kita hanya tentang gerakkan fisik shalat saja. Tidak lagi mendapatkan tuntunan bagaimana mengaktifkan aspek ruhani pada setiap gerakkan shalat itu.

Shalat menjadi ibadah ritual dan kewajiban formalitas saja. Umat Islam tidak mendapatkan apa-apa dalam shalat kecuali gugurnya kewajiban dan kalkulasi pahala shalat semata. Padahal bagi orang yang beriman, shalat adalah wadah memohon pertolongan dan menghimpun kekuatan.

Juga shalat ialah merupakan sarana komunikasi yang intim dengan Allah Swt. Tempat para hamba berkeluh kesah dan melaporkan setiap program dan kegiatan yang dijalankan.

Jika rukun Islam yang kedua tersebut bertujuan menyadap dan menyedot quwwah [kekuatan] lima kali sehari semalam, lalu kenapa kekuatan itu tidak kita rasakan mengalir dalam diri dan jiwa kita?

Jika memang kekuatan itu hadir, mengapa setiap selesai shalat jiwa kita tetap kerdil dan otak kita terasa tetap tumpul? Hanya ada tanggung jawab yang rendah dan cakrawala berpikir yang terbatas.

Lalu bagaimana tuntunan lengkap tentang keikutsertaan aspek ruhani dalam praktik shalat? Bagaimana cara mendapatkan jawaban dari Allah Swt yang bisa melahirkan kekuatan jiwa dan mengorbitkan kualitas?

Baca Juga :  Dengan Saling Mencintai, Semua Jadi Damai

Disayangkan, jika pembahasan ini justru seperti terlewatkan. Padahal inilah modal utama orang beriman untuk tandang kegelanggang, memperbaiki keadaan umat.

Kemunduran umat Islam jadi faktor penyebab hilangnya tuntunan tersebut. Mereka melaksanakan Islam tapi tidak merasakan kekuatan Islam itu sendiri. Kondisi demikian selayak makanan yang diperebutkan di meja hidangan.

Rasulullah Saw bersabda: “Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang berkumpul menghadapi piringnya.” Mereka bertanya: “Apakah pada saat itu jumlah kami sedikit, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab: Tidak, pada saat itu kalian banya, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit al-wahn. “Mereka bertanya: “Apakah penyakit al-wahn itu, wahai Rasulullah? “Nabi menjawab: “Cinta dunia dan takut akan mati,” [Riwayat Abu Daud].

Inilah wujud iman yang tak berdaya. Maka berulang kali Nabi memberikan motivasi yang ditautkan dengan orientasi kehidupan akhirat. Mengingatkan, hidup manusia tak sebatas di dunia saja. Hakikatnya justru pada kehidupan Akhirat.

Orang tidak boleh terpukau dengan kehidupan dunia yang fana. Dunia sebatas ladang tempat menanam amal dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Namun ironis, sebab sebagian kaum Muslimin seolah mengabaikan perkara hari Akhir tersebut. Itulah disebut Nabi sebagai al-wahn, yaitu penyakit cinta dunia dan takut mati.

Dengan keadaan seperti itu, wajar rasanya jika umat Islam kemudian tampak berkembang namun tak memiliki kekuatan. Jumlahnya terlihat banyak tapi minim pengaruh dan kontribusi riil di tengah masyarakat.

Alih-alih bisa menjadi sistem kontrol dan aturan yang ditegakkan, kondisinya justru sangat rapuh. Dengan mudah, kaum Muslimin bisa dipermainkan dan menjadi objek bagi kaum yang lain. Semoga hal ini menjadi renungan dan koreksi bagi kita sebagai umat Islam.■

Baca Juga :  Bila Suara Adzan Bergema, Membahana Membelah Dunia untuk Menyeru Manusia Memenuhi Panggilan Illahi

Walahu ‘alam bish shawab
Selamat membaca semoga bermanfaat.
[Sumber bacaan: Suara Hidayatullah XXXIII, 2021].