Menyiapkan Generasi Masa Depan Yang Kuat dan Betanggung Jawab

Religi49 Views

Oleh: Ust. H. Aswan Nasution

“Api harapan senantiasa harus dinyalakan. Niscaya pelan tapi pasti kepercayaan itu hadir dan kekuatan itu bisa dirakit kembali. Kita semua mesti mengambil peran dan tanggung jawab. Berpartisipasi memikul beban umat, khususnya tanggung jawab pendidikan dan kesejahteraan anak-anak generasi pelanjut dakwah.” [Hidayatullah].

BERBAGI News – JIKA kita merujuk pada sejarah para Nabi dan pedoman Al-Qur’an, rasanya salah alamat dan keliru rute, jika ada seorang yang mendambakan masuk surga dan seluruh kenikmatannya, sedangkan dia enggan berjuang dan berkorban.

Padahal mematuhi perintah dan menjahui larangan seluruhnya membutuhkan perjuangan. Sebab semua itu merupakan pembuktian keimanan, mendemonstrasikan keyakinan dan memperagakan kekuatan yang bersumber langsung dari Sang Penguasa alam.

Jangan dikira bahwa peristiwa apa yang terjadi terhadap kaum Muslimin pada suatu negeri di belahan bumi ini, tidak ada kaitannya dengan keadaan umat Islam sekarang ini. Ini adalah sentakan yang harusnya menguatkan ukhuwah.

Karena hal ini dapat membangunkan kesadaran, bagaimana kaum Muslimin menyiapkan generasi masa depan yang kuat dan siap memperjuangkan dan membela agama ini.

Kaum Muslimin sesungguhnya punya potensi yang luar biasa. Imannya adalah sumber kekuatan yang tiada banding. Itu dibuktikan oleh generasi para Sahabat Nabi Saw dahulu.

Tak butuh waktu lama untuk menyaksikan demonstrasi keimanan yang begitu hebat. Hal itu pula menjadi puncak kejayaan peradaban manusia.

Inilah tugas kita semua, yang menyadari konsekuensi iman dan hidayah yang dimilikinya. Saatnya bangkit. Tandang ke gelanggang. Mengajak seluruh kaum Muslimin agar peduli dengan dakwah yang mencerahkan.

Mereka kaum Muslimin punya potensi kekuatan. Kemenangannya itu juga sudah dijanjikan. Pasti dan sangat dekat, kata firman Allah SWT. Berdayakan mereka. Utamanya generasi muda para pelanjut perjuangan. Penuhi hak pendidikannya sejak dini. Jangan biarkan mereka asyik dengan kebodohan sendiri.

Baca Juga :  Tangisan Umar Bin Abdul Aziz Ketika Dilantik Sebagai Khalifah

Tak ada waktu untuk saling menyalahkan sesama saudara seiman. Termasuk lembaga-lembaga pendidikan Islam yang menjamur namun biayanya tak terjangkau oleh sebagian anak-anak yang ekonomi orangtuanya lemah. Kini tiba masanya untuk memberi kontribusi seluas-luasnya. Apapun itu.

Bagaimanapun, api harapan senantiasa harus dinyalakan. Niscaya pelan tapi pasti kepercayaan itu hadir dan kekuatan itu bisa dirakit kembali. Kita semua mesti mengambil peran dan tanggung jawab.

Berpartisipasi memikul beban umat, khususnya tanggung jawab pendidikan dan kesejahteraan anak-anak generasi pelanjut dakwah.

Para dai dan juru dakwah, agar selalu mengingatkan kaum Muslimin, bahwa kita ini sedang berjuang dan masih akan terus berjuang. Pekejaan keumatan ini belum selesai. Bahkan bisa jadi ke depan tantangan dan cobaannya kian besar dan berat.

Sekali lagi, perjuangan belum selesai. Apalagi tanggung jawab umat Islam bukan hanya skala regional atau nasional. Namun ada amanah berupa khalifah untuk seluruh umat manusia [kaffatan linnas] dan rahmat bagi semesta alam [rahmatan lil ‘alamin].

Tak ada yang bisa mengangkat pekerjaan besar ini kecuali bersandar dan memohon kekuatan kepada Zat Yang Menciptakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan. Tugas manusia adalah berusaha secara maksimal.

Semoga setiap Muslim kembali menyadari Tanggung jawab besar ini. Sekaligus mengakui kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki.

Akhirnya, jadilah pejuang tangguh yang tak henti bermujahadah dan berdoa sepenuh hati. Senantiasa memohon pertolongan Allah SWT dan bantuan-Nya, sebab tak ada daya dan upaya selain kekuatan-Nya. Wallahu ‘alam bish shawab.

Wassalam
Selamat Membaca dan Semoga bermanfaat.
Sumber bacaan: Suara Hidayatullah, Edisi 10, 2021.