Negeri Keabadian yang Terlupakan

Religi162 views

Oleh : ASWAN NASUTION

“Jika seorang hamba pada waktu pagi dan sore tidak memiliki misi lain selain untuk Allah semata, Allah SWT pasti akan menanggung seluruh kebutuhannya dan memenuhi semua keinginannya. Dengan itu ia mengosongkan hatinya hanya untuk mencintai-Nya, lisannya untuk selalu mengingat-Nya dan anggota tubuhnya untuk senantiasa menaati-Nya. Jika seorang hamba pada waktu pagi dan sore, sementara dunia sebagai misinya Allah SWT pasti akan membebani dirinya dengan keprihatinan, kesedihan dan kesulitan. Bahkan Allah berlepas diri darinya.” [Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah].

DUNIA itu fana, akhirat itu abadi. Dunia itu sementara, akhirat itu selama-lamanya. Dunia itu fatamorgana, akhirat itulah realitas sebenarnya. Demikian seterusnya.

Ungkapan-ungkapan senada pasti sudah sering kita dengar. Sayangnya, sesering kita mendengar ungkapan-ungkapan tersebut, sesering itu pula kita acapkali melupakannya.

Buktinya banyak sekali. Banyak Muslim bekerja keras sekedar untuk mencari harta demi sebesar-besarnya bekal di kehidupan di dunia yang fana ini saja, sementara mereka sering berleha-leha menyiapkan akan bekal untuk kehidupan abadi di akhirat nanti.

Banyak Muslim yang benghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk mencari kebahagiaan di kehidupan dunia yang sementara ini, sedangkan mereka sedikit sekali menghabiskan waktu untuk meraih kebahagiaan di akhirat untuk selama-lamanya.

Banyak Muslim tertipu oleh gemerlapnya dunia yang fatamorgana ini, sembari melupakan akhirat yang sebetulnya nyata bagi siapa saja yang punya iman dan takwa.

Singkatnya, kecintaan terhadap dunia dan kesibukan dengan dunia telah melupakan dan memalingkan manusia dari menaati Allah SWT dan penyembahan kepada-Nya dengan sebenar-benarnya penyembahan.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan manusia dengan firman-Nya: “Ketahuilah bahwa harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu hanya cobaan. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” [QS. Al-Anfal {8}: 28].

Baca Juga :  Rasulullah SAW pun Menghibur Anak-Anak

Rasulullah SAW pun telah menggambarkan dunia melalui sabdanya, “Aku sama sekali [tidak memiliki keakraban] dengan dunia. Perumpamaanku dengan dunia adalah bagaikan sesesorang yang ada di dalam perjalanan; dia beristirahat di bawah sebuah pohon rindang, lalu dia pergi dan neninggalkannya.” [ HR. Ahmad, atz-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim].

Selain itu, tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat, Allah SWT sudah mengingatkan melalui firman-Nya: Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kalian tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. Tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman, “Kalian tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja jika saja kalian tahu.” [QS. Al-Mu’minun {23}: 112-114].

Allah SWT pun berfirman: “Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara. Akhirat itulah sesungguhnya yang kekal.” [QS. Al-Mu’min {23}: 39].
Allah SWT juga menegaskan: “Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [QS. Al-Hadid {57}: 20].

Dengan banyaknya peringatan Allah SWT ini, sudah seharusnya setiap Muslim menyadari dan selalu mengingat-ingat hakikat kehidupan dunia dan akhirat ini. Hanya dengan itulah dia akan selalu berorientasi ke akhirat tanpa harus melupakan bagiannya di dunia.

Dengan selalu berorientasi ke akhirat, sesungguhnya kita akan meraih keuntungan ganda, sebagaimana firman Allah SWT. “Siapa saja yang menghendaki keuntungan di akhirat, Kami akan menambahkan keun-tungan itu bagi dirinya. Siapa saja yang menghendaki keuntungan di dunia, sementara tak ada sedikit pun bagian untuk dirinya di akhirat,” [ QS. Asy-Syura {42}: 20].

Pastilah, “Kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatan-nya dan lebih besar keutamaanya [QS. Al-Isra {17}: 21]. “Sesungguhnya negeri akhirat adalah lebih baik dan itulah tempat terbaik bagi orang yang bertakwa,” [ QS. An-Nahl {16}: 30].

Baca Juga :  Isra' Mi'raj dan Ekonomi Umat

Dengan demikian, janganlah sekali-kali kita mengabaikan negeri keabadian. Itulah akhirat yang justru sering terlupakan. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber bacaan: Media Umat, Edisi 129, 2014.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat.
Wassalam: Al-Faqir Aswan Nasution, Lombok Barat, Nusa Tebggara Barat [NTB].