Cinta, Salah Satu Obat Penyembuh Pecandu Narkoba

Opini60 Views

Oleh: Muh. Rizal Afwan

BERBAGI News – Narkotika adalah zat atau obat baik yang bersifat alamiah, sintetis, maupun semi sintetis yang menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang. Sementara menurut UU Narkotika pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa narkotika merupakan zat buatan atau pun yang berasal dari tanaman yang memberikan efek halusinasi, menurunnya kesadaran, serta menyebabkan kecanduan. Obat-obatan tersebut dapat menimbulkan kecanduan jika pemakaiannya berlebihan.

Pemanfaatan dari zat-zat itu adalah sebagai obat penghilang nyeri serta memberikan ketenangan. Penyalahgunaannya bisa terkena sanksi hukum. Peredaran dan dampak narkoba saat ini sudah sangat meresahkan. Mudahnya mendapat bahan berbahaya tersebut membuat penggunanya semakin meningkat. Tak kenal jenis kelamin dan usia, semua orang berisiko mengalami kecanduan jika sudah mencicipi zat berbahaya ini. Meski ada beberapa jenis yang diperbolehkan dipakai untuk keperluan pengobatan, namun tetap saja harus mendapatkan pengawasan ketat dari dokter.

Ditaksir 11.071 orang per tahun atau 30 orang per hari yang meninggal gara-gara narkoba. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bekerja sama dengan Puslitkes UI, jumlah penyalah guna narkotika mencapai 3,3 juta orang atau 1,77% dari penduduk Indonesia. Pengguna terbanyak dari kalangan pekerja (57%), disusul pelajar dan mahasiswa (24%), sisanya dari kalangan masyarakat umum. Malahan 2 dari 100 pelajar dan mahasiswa menyalahgunakan narkoba sepanjang tahun 2016. Kemudian berdasarkan data terakhir dari Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pecandu narkoba di Indonesia saat ini kurang lebih mencapai enam juta orang.

Narkoba memanipulasi kerja hipotalamus, bagian otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan suasana hati si pemilik tubuh. Narkoba membuat penggunanya merasa sangat bahagia, bersemangat, percaya diri, hingga ‘teler’. Ini adalah akibat dari jumlah dopamin yang dilepaskan otak di luar batas toleransi. Efek membahagiakan ini akan membuat tubuh secara otomatis mengidam, sehingga membutuhkan penggunaan obat yang berulang dan dalam dosis yang lebih tinggi lagi demi memuaskan kebutuhan akan kebahagiaan ekstrem tersebut. Penyalahgunaan obat dan zat terlarang yang berkepanjangan akan merusak sistem dan sirkuit reseptor motivasi dan penghargaan otak, menyebabkan kecanduan.

Baca Juga :  Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Kesehatan Mental Remaja di Provinsi NTB

Kecanduan adalah kondisi yang membuat seseorang kehilangan kendali atas apa yang ia lakukan, gunakan atau konsumsi terhadap suatu hal yang mereka jadikan candu. Hilang kontrol ini bisa disebabkan oleh berbagai hal dan terjadi pada waktu yang lama.

Kecanduan berbeda dengan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Ketika Anda terbiasa melakukan sesuatu, misalnya mandi dua kali sehari, Anda bisa menghentikannya kapan saja sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu, juga mengikuti keinginan pribadi baik secara sadar maupun tidak  rasa malas, kedinginan, terjebak kesibukan lain, dan seterusnya.

Tapi tidak dengan kecanduan. Kecanduan membuat seseorang benar-benar kehilangan kontrol diri sehingga susah dan/atau tidak mampu untuk menghentikan perilaku tersebut, terlepas dari segala upaya yang dilakukan untuk menghentikannya. Hilangnya kontrol ini membuat seorang pecandu cenderung melakukan berbagai cara untuk dapat menuntaskan hasrat akan candunya, tak peduli akan konsekuensi dan risikonya. Kecanduan yang dimiliki seseorang lama kelamaan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatannya, terutama kesehatan psikologis. Bukan tidak mungkin kecanduan menyebabkan perubahan kepribadian, karakteristik, perilaku, kebiasaan, hingga bahkan fungsi otak.

Kecanduan merupakan suatu proses yang rumit. Tapi, satu hal yang dapat menyebabkan kecanduan adalah gangguan produksi hormon dopamin. Dopamin adalah hormon pembuat bahagia yang dilepaskan otak dalam jumlah banyak saat Anda menemukan atau mengalami suatu hal yang membuat Anda senang dan puas, entah itu makanan enak, hubungan seks, menang judi, hingga obat-obatan zat yang menimbulkan efek ketergantungan seperti alkohol dan rokok. Apabila kadar dopamin yang dihasilkan oleh otak masih dalam batas normal, maka hal tersebut tidak akan menyebabkan kecanduan.

Narkoba juga dapat memacu kerja otak atau yang sering disebut stimulan, sehingga timbul rasa segar dan semangat, percaya diri meningkat, dan hubungan dengan orang lain menjadi akrab. Namun, hal ini bisa menyebabkan Anda tidak bisa tidur, gelisah, jantung berdebar lebih cepat dan tekanan darah meningkat. Contohnya adalah amfetamin, ekstasi, shabu, kokain, dan nikotin yang terdapat dalam tembakau.

Baca Juga :  Berubahnya Perilaku Remaja Di Masa Pandemi Covid-19

Ada pula narkoba yang menyebabkan khayal, atau yang juga sering disebut halusinogen. Contoh adalah LSD. Selain LSD, ada ganja yang menimbulkan berbagai pengaruh, seperti berubahnya persepsi waktu dan ruang, serta meningkatnya daya khayal, sehingga ganja dapat digolongkan sebagai halusinogenika.  Dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia yang disebut neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan sel saraf lainnya (sinaps). Sejumlah neurotransmitter itu mirip dengan beberapa jenis narkoba.  Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku, perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruhnya terhadap salah satu atau beberapa neurotransmitter. Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah dopamin.

Para peneliti Australia menemukan sebuah obat untuk mengobati ketergantungan atas obat-obatan terlarang dan alkohol. Obat ini dibuat dari bahan dasar hormon cinta.  Cinta sangat identik dengan perasaan kasih sayang, suka, dan sebagainya. Semua orang pastinya juga pernah merasakan cinta, mulai dari bayi, remaja, dan juga dewasa. Cinta tentunya ada pada masing-masing individu, namun cara mengungkapkan sebuah cinta juga akan berbeda-beda. Cinta tidak hanya membahas persoalan pasangan, namun di dalam sahabat dan keluarga juga terdapat cinta. Setiap orang memiliki berbedaan pemahaman soal cinta. Hal ini tentunya akan membuat bingung pagi orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya dari cinta.

 Beberapa uji klinis dengan hormon cinta atau oksitosin telah dilakukan untuk mengobati para pecandu narkoba. Obat yang tengah dikembangkan ilmuwan Australia ini berbentuk spray. Pada percobaan tersebut tes awal dilakukan pada tikus laboratorium yang mengalami alkoholisme dan kecanduan obat. Setelah beberapa kali suntikan hormon oksitosin kepada hewan pengerat tersebut, terbukti ketertarikan hewan ini terhadap alkohol dan narkoba berkurang secara signifikan.

Baca Juga :  Sasak Care Community Menatap 2021

Seperti diberitakan dalam Genius Beauty, oksitosin atau hormon cinta memiliki efek anti-stres. Para ilmuwan dari Universitas Sydney menjelaskan bahwa pasokan oksitosin dalam otak berkurang akibat kecanduan alkohol dan narkoba. Memulihkan tingkat hormon oksitosin menjadkan sistem otak kembali normal sehingga dapat menghilangkan kecanduan yang berbahaya.