Diskusi Publik PKC PMII Bali-Nusra: Kenaikan BBM, Masalah atau Solusi?

Daerah36 Views

Mataram, BERBAGI News – Pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), Pengurus Koodinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Bali Nusa Tenggara gelar diskusi publik bertajuk “Kenaikan BBM, masalah atau solusi?” bertempat di Sato caffe, Kota Mataram. Kamis (13/10/2022).

Kegiatan diskusi tersebut dilaksanakan PKC PMII Bali-Nusra guna memberikan masukan & solusi kepada pemerintah terkait kenaikan BBM. Setelah sebelumnya melakukan aksi demonstrasi penolakan harga BBM, di depan gedung DPRD provinsi NTB.

Dalam diskusi tersebut, PKC PMII Bali-Nusra menghadirkan tiga narasumber diantaranya Dr. Baiq El Badriati, M. E., I (Wakil Dekan I FEBI UIN Mataram), Supiandi (Perwakilan Bank Indonesia NTB), Rusman Robbani (Ketua DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia), serta dihadiri oleh ratusan peserta.

Ketua PKC PMII Bali Nusra, Herman Jayadi mengatakan kenaikan BBM sangat berdampak bagi masyarakat di berbagai sector, terutama yang disorot dampak kenaikan pada sektor pangan dan industri.

“BBM menjadi alat vital terhadap kenaikan harga-harga yang lain. PMII telah melakukan aksi dan demonstrasi untuk mengawal kenaikan harga BBM ini berdasarkan instruksi dari pengurus besar,” jelasnya pada acara dialog.

Untuk diketahui, Pemerintah berdalih menaikkan BBM lantaran harga minyak dunia naik, postur APBN Jebol 504,2 T, dan subsidi BBM 60-70% diduga tidak tepat sasaran.

“Pemerintah mengambil sikap yang kurang tepat dengan menaikkan harga BBM ini, Jika memang tidak tepat sasaran, maka seharusnya bukan memangkas subsidi dan menaikkan subsidi BBM, seharusnya pemerintah membuat regulasi dan pengawasan,” tegas Herman.

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Islam, Universitas Islam Negeri Mataram, Dr. Baiq El Badriati, menyampaikan Efek dari kenaikan BBM ini akan diikuti kenaikan-kenaikan harga yang lain, apalagi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih pasca dilanda covid-19.

Baca Juga :  10 Mahasiswa Fakultas Hukum Unsa Magang di KPU Sumbawa

“Pada tahun 2020 kita dilanda covid-19 sehingga ekonomi masyarakat terisolasi. Ditambah lagi dengan kondisi geopolitik internasional. Kenaikan BMM ini ada plus-minusnya, sehingga harus tetap dikritisi. Walaupun Seharusnya sudah ada solusi lain untuk menanggulangi kebijakan ini. Karena segala persoalan harus tetap dijelaskan by data,” jelasnya saat menyampaikan materi diskusi.

Sementara, Narasumber dari perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat, Supiadi mengatakan  Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan diikuti oleh inflasi.

“Penyebab BBM ini naik dikarenakan oleh kenaikan minyak dunia akibat perang, sehingga ketika harga bahan bakar naik, biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga yang lain,” terangnya.

Jelas Supiandi, ada 3 model perhitungan terjadinya inflasi Core Inflation, Foletail Food, Administrative Price, untuk menanggulangi inflasi tersebut, tim BI dan TPID (tim pengendali inflasi daerah) telah menyiapkan 4 formulasi, Pertama menjaga keterbukaan harga, Kedua menjaga pasokan barang, Ketiga menjaga komunikasi yang efektif, Keempat menjaga distribusi barang.

“BI akan melaksanakan operasi pasar mulai besok pagi sampai Desember untuk mengendalikan harga, karena bulan ini ada Maulid, Bulan Nopember ada WSBK dan Desember ada Natal dan tahun baru,” paparnya.

Ketua DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia NTB Rusman Robbani mengatakan banyak perdebatan masalah kenaikan minyak dunia, menurutnya sejak pemerintahan dahulu hingga saat ini masih menyoroti perkembangan minyak dunia.

“Pemerintah terdahulu menaikan harga BBM jika minyak dunia naik, sedangkan ketika harga minyak dunia turun, maka BBM akan turun, akan tetapi berbeda dengan yang dilakukan rezim saat ini,” katanya.

Rusman juga menyoroti jenis bantuan yang digelontorkan pemerintah terhadap masyarakat yang menurutnya bantuan itu tidak dapat menuntaskan dampak panjang yang dialami masyarakat.

“Tiga jenis bantuan seperti  BSU, bantuan dipotong dari dana transfer umum pemda dan bantuan langsung BBM ini tidak membantu, justru ini sebagai obat pereda nyeri karena tidak menyembuhkan permasalahan utama,” jelasnya.

Baca Juga :  Sosialisasi Portal Desa Digital (PDD) Rambah Desa Sintung Memasuki Era 4.0

Di tempat yang sama, peserta diskusi, Al-mukmin memberikan tanggapan terhadap persoalan yang berkecamuk hari ini, menurutnya perkembangan geopolitik dunia sangat membahayakan geopolitik nasional.

“Peperangan Rusia dan Ukraina sangat mengancam negara berkembang, apalagi kebutuhan terbesar itu berada pada BBM. Jika kebutuhan BBM naik, maka harga yang harus dikeluarkan juga naik.  Kondisi kita sekarang bukannya dibawah akan tetapi standar. Dikhawatirkan permasalahan hari ini akan menjadi boomerang dimasa depan,” ungkapnya. (hal)