Mewujudkan Jiwa Kepahlawanan Yang Semangkin Menghilang

Religi51 Views

Oleh: ASWAN NASUTION

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, [bahwa mereka itu] mati; bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” [QS. Al-Baqarah: 154].

MEMPERINGATI Hari Pahlawan, berarti mengenang kembali pengorbanan para pejuang yang telah rela mempertaruhkan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Para pejuang bangsa bersatu untuk menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak pernah terpikirkan apakah istrinya akan menjadi janda, anaknya menjadi yatim. Yang terpikir di benak para pahlawan hanyalah merdeka.

Secara fisik memang mereka sudah tiada namun secara spritual mereka seolah masih hadir di tengah-tengah kita. Dalam kaitan ini patut kiranya kita merenungkan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 154:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, [bahwa mereka itu] mati; bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” [QS. Al-Baqarah: 154].

Atas dasar keikhkasan, para pahlawan rela mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk berjuang. Sebuah bentuk perjuangan yang tulus demi mempertahankan kemerdekaan. Pengorbanan yang tiada tara dari para pejuang meski nyawa menjadi taruhannya.

Demikian luhur niat para pejuang pada saat itu tanpa mengharapkan balas budi atau pujian dari siapapun. Semangat untuk berorientasi kepada yang suci itu diharapkan selalu memimpin perilaku sehari-hari kita.

Itulah sebabnya mengapa lagu kebangsaan kita juga mengamanatkan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” Hal itu tidak lain karena manakala jiwa seseorang adalah jiwa yang sehat, maka dengan sendirinya akan membuahkan berbagai kebaikan.

Namun manakala yang sehat itu hanya badannya, maka banyak contoh betapa para penjahat dan koruptor, baik kelas teri maupun kelas kakap, pada umumnya adalah orang-orang yang sehat jasmaninya.

Baca Juga :  Sambut Tahun Baru Hijriah, Majelis Taklim Desa Tibona Gelar Pengajian

Marilah kita camkan kembali bahwa Bapak TNI kita, jenderal Soedirman, ketika memimpin perang geriliya jasmani beliau dalam keadaan tidak sehat, paru-paru beliau tinggal separuh. Namun jiwa beliau sangat sehat dan mencerminkan jiwa seorang satria sejati.

Di bawah kepemimpinan beliau yang dari segi jasmani tidak sehat itu, TNI berhasil membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tetap eksis sekalipun digempur oleh tentara Belanda dengan menggunakan persenjataan yang jauh lebih modern melalui Aksi Polisionil ke I tahun 1947 dan Aksi Polisionil II tahun 1948.

Nilai yang terkandung dalam peringatan Hari Pahlawan sungguh merupakan kekayaan kultural dan spritual dalam kehidupan kita. Itu semua manakala diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dapat dipastikan akan menjadi sumbangan semakin berkualitasnya perwujudan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bangsa kita saat ini sedang dilanda krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan. Semua seolah diukur dengan kepentingan jangka pendek, sehingga politiklah yang menjadi panglima, keuntungan yang menjadi tujuan.

Kita yang terlalu picik dengan keadaan ataukah memang begitu adanya. Jika ada pemimpin di sekitar kita yang ingin memberi contoh yang baik, kita sering berkata bahwa itu adalah pencitraan dan lain sebagainya.

Apakah karena jiwa kepahlawanan dalam diri masyarakat kita sudah demikian terkikisnya ataukah kepentingan sesaat kita menghilangkan semua penilaian positif kita. Ataukah jangan-jangan-dan ini yang paling kita takutkan-dikarenakan sedikit sekali orang yang baik, sehingga kalau ada orang baik dianggap sebagai pencitraan dan sejenisnya.

Membangunkan jiwa kepahlawanan dan kepedulian serta pengorbanan kepada diri sendiri mungkin tidak sulit, tapi membangunkan jiwa kepahlawanan dan kepedulian serta pengorbanan kepada keluarga dan masyarakat bisa luas biasa sulitnya.

Atas dasar itu semua marilah dengan hikmah Hari Pahlawan, kita perbaharui tekad kita untuk berbuat dan memberikan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Wallahu ‘alam bish shawab.

Baca Juga :  Menjadi Tamu Allah Menuju Ka'bah

[Dikutip dari beberapa sumber bacaan]

Comment