Kesadaran Masyarakat dalam Menjaga Lingkungan Pesisir Pantai Penyambuan Lombok Utara

Oleh: Ilham Arif Asghar, Sosiologi Agama, Prodi Sosiologi Agama UIN Mataram

BERBAGI News – Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan laut dan daratan. Kondisi tersebut menyebabkan wilayah pesisir mendapatkan tekanan dari berbagai aktivitas dan fenomena di darat maupun di laut.

Fenomena yang terjadi di daratan antara lain abrasi, banjir dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yaitu pembangunan permukiman, pembabatan hutan untuk persawahan, pembangunan tambak dan sebagai yang pada akhirnya memberi dampak pada ekosistem pantai. Demikian pula fenomena-fenomena di laut, seperti pasang surut air laut, gelombang badai dan sebagainya.

Faktor alam lainnya yang juga menyebabkan kerusakan lingkungan adalah gempa dan gelombang tsunami dikarenakan rusaknya ekosistem pesisir sehingga tidak ada penghalang sebagai peredam gelombang tsunami. Masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pantai yang sebagian besar merupakan nelayan memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Perbedaan ini dikarenakan keterkaitan erat dengan karakteristik ekonomi wilayah, latar belakang budaya dan ketersediaan sarana dan prasarana penunjang.

Pada umumnya masyarakat pesisir memiliki budaya yang berorientasi selaras dengan alam sehingga teknologi memanfaatkan sumberdaya alam adalah teknologi adaptif dengan kondisi pesisir. masyarakat di wilayah pesisir memiliki pendidikan rendah, produktivitas yang sangat tergantung pada musim, terbatasnya modal usaha, kurangnya sarana penunjang, buruknya mekanisme pasar dan sulitnya transfer teknologi dan komunikasi yang mengakibatkan pendapatan masyarakat pesisir menjadi tidak menentu.

Masyarakat pesisir pada umumnya adalah berprofesi sebagai nelayan, di mana nelayan didalam ensiklopedia Indonesia digolongkan sebagai pekerja, yaitu orang yang secara aktif melakukan kegiatan menangkap ikan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung sebagai mata pencahariannya.

Arti nelayan dalam buku statistik perikanan Indonesia disebutkan nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air.

Baca Juga :  Sampah jadi Berkah, Gerakan Ekofeminisme Wanita Desa Tempos Lombok

Lingkungan adalah tempat makhluk hidup tinggal, mencari kebutuhan hidupnya, serta membentuk karakter termasuk manusia yang memiliki peranan lebih kompleks dan nyata atau riil dalam pelestarian lingkungan. Dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menegaskan bahwa lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang memengaruhi alam itu sendiri.

Undang-undang tersebut, menegaskan posisi manusia yang strategis dan menjadi sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Dapat dikatakan bahwa, tingkah laku manusia sebagai kunci perubahan mampu memengaruhi lingkungan alam begitupun sebaliknya yang dapat merusak lingkungan. Lingkungan memiliki komponen biotik, abiotik dan sosial budaya. Biotik adalah elemen lingkungan hidup yang terdiri dari semua jenis organisme, seperti manusia, hewan, tumbuhan, organisme lain, dan mikroorganisme. Benda mati atau abiotik, di sisi lain adalah semua elemen lingkungan yang terdiri dari benda mati seperti air, udara, dll. Dan sosiokultural terdiri dari unsur-unsur lingkungan buatan manusia yang di dalamnya terdapat nilai, gagasan, norma, kepercayaan, dan perilaku manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Namun demikian, setiap aktivitas dan perilaku manusia berpengaruh terhadap lingkungannya.

Setiap manusia memiliki perilaku yang berbeda tergantung dari bagaimana manusia atau individu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam kaitannya dengan lingkungan hidup, perilaku manusia dapat menentukan keberlanjutan kondisi lingkungan.

Perilaku pengelolaan lingkungan hidup bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti masyarakat pesisir pantai di dusun penyambuan kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara yang kurang memperhatikan lingkungannya dan belum ada upaya yang di lakukakan untuk mengelola sampah. Kebanyakan Masyarakat membuang sampah di pesisir pantai yang mengakibatkan bau busuk dari pencemaran air muara yang bercampur dengan berbagai macam sampah yang dapat merusak ekosistem. Pesisir pantainya juga sering di gunakan ritual keagamaan umat Hindu dalam memperingati hari besarnya seperti Odalan dan buang abu mayat.

Baca Juga :  1000 Pohon tuk Kehidupan Lebih Baik

Dalam perayaan ritual keagamaan ini juga menyebabkan kerusakan lingkungan di akibatkan sesajian yang dibawa tidak di kelola menyebabkan sampah diarea pesisir berserakan dan berterbangan kelaut sehingga dapat mencemari air laut dan pesisir pantai. Oleh karna itu, diperlukan solusi yang tepat untuk menangani dan meminimalisir pencemaran yang di timbulkan.

Seperti teori antroposentrisme yang merupakan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Dengan menggunakan teori antroposentrisme disini saya akan membahas manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta yang dapat merusak lingkungan karna keserakahan manusia, melalui kaca mata sosiologi lingkungan.

Dan dalam kegiatan warga ketika melakukan ritual adat yang mencemarkan pantai dan makhluk yang ada di pantai. Manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak dapat terpisahkan hal itu di karenakan, alam sebagai manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia. Dengan sifat tertinggi manusia mampu menciptakan segala sesuatu yang ada di alam.

Dalam kesadaran dalam menjaga kebersihan terhadap lingkungan di pesisir pantai juga dapat menggunakan teori Marxisme.

Teori Marxisme ini merupakan manusia diciptakan untuk menjadi khalifah sebagai pemimpin atau pengurus bumi dan alam semesta, agar bumi beserta isinya dapat terawat dengan baik. Akan tetapi karena manusia juga memiliki sifat serakah dan tak pernah merasa puas terhadap segala sesuatu, manusia pun secara sadar atau tidak dapat merusak bumi. Padahal jika di perhatikan hal tersebut juga akan berdampak pada manusia itu sendiri.

Alam yang seharusnya di jadikan sebagai tempat manusia dapat berlangsung hidup dan bertahan hidup kini tak lagi seindah dulu.

Alam yang seharusnya di rawat dan dijaga menjadi alat bagi manusia untuk memenuhi keserakahan nya. Contohnya seperti pencemaran lingkungan di pesisir pantai yang di lakukan oleh masyarakat sekitar. (ilh)